Minggu, 30 Desember 2012

Princess Hours Episode 10

Ratu mondar-mandir di kediamannya. Dia masih khawatir memikirkan keberadaan Chae-gyeong. Ratu masih menunggu kabar dari Choi Sang-gung dan Park Sang-gung. Beberapa saat kemudian Park Sang-gung datang. Dia membawa kabar dari badan intelejen istana mengenai keberadaan Chae-gyeong. Badan intelejen mengatakan, dari sumber yang bisa dipercaya, mereka melihat Putri Mahkota pergi dari sekolah bersama seorang pria.

Di rumah kaca, Yul dan Chae-gyeong sudah ada di dalam mobil. Tiba-tiba HP Yul berbunyi. Ibu Yul yang menelpon. Dia bertanya dimana Yul sekarang. Yul bilang kalau dia ada di rumah kaca di taman botani. Ibunya tahu Yul sedang ada disana bersama Chae-gyeong.

Ibunya tak mau tahu apa alasan Yul pergi berdua bersama Chae-gyeong. Tapi Yul dan Ibunya harus tetap tenang. Mereka sudah memulai perangnya. Perang yang tak tahu kapan berakhirnya dan tak bisa menjamin apa mereka bisa menang atau tidak. Mereka harus selalu berjaga-jaga dan berhati-hati. Mereka harus tetap terjaga saat musuh sedang terlelap. Meskipun seperti ini, hal itu akan jadi perang yang sangat berat dan lama yang tak bisa menjamin kemenangan mereka.

Itu berarti kalau Yul tak punya waktu luang untuk bermain-main dengan membawa gadis bodoh yang sekarang adalah istri dari sepupunya ke taman botani. Istana sedang kacau karena Putri menghilang. Hal itu akan jadi masalah uat Yul kalau mereka menemukan Yul bersama dengannya. Jadi Yul harus segera pulang ke rumah sekarang juga.

Yul bilang dia mengerti maksud Ibunya. Dan dia bilang dia akan segera pulang. Chae-gyeong bertanya siapa yang menelpon. Tapi Yul hanya diam saja.

Di bandara Thailand, Shin kaget melihat dua orang pengawalnya ada di depannya. Shin bertanya berapa lama waktu yang dia miliki. Mereka bilang sekitar 30 menit. Mereka bilang sejujurnya waktunya sangat mepet untuk konferensi pers-nya. Apalagi lalu lintas Bangkok terkenal buruk. Mereka bilang mereka akan meminta bantuan kepolisian Thailand. Tiba-tiba pandangan Shin terbentur pada sebuah motor balap.

Shin memacu motornya di jalanan di Thailand diiringi 2 pengawalnya yang setia menjaganya.

Di tempat konferensi pers, Sekretaris Kim melaporkan pada Kasim Kong kalau Shin dan pengawalnya sedang dalam perjalanan menuju kemari dengan naik motor karena banyak jalan yang ditutup sehubungan dengan adanya festival. Dan mereka akan sampai sekitar 10 menit lagi.

Panitia acara datang dan mengatakan kalau waktu yang mereka miliki hanya tinggal 5 menit saja. Kasim Kong akan mengambil alih jalannya acara untuk sementara sambil menunggu kedatangan Shin.

Kasim Kong mengatakan pada para hadirin, sebelum memulai wawancara, mereka akan menunjukkan video tentang Putra Mahkota terlebih dahulu. Kasim Kong memutar video tentang kebudayaan di Korea.

Sementara itu, Shin terjebak di tengah keramaian festival. Mereka tak bisa lewat. Jalanan di tutup karena banyak rakyat turun ke jalan mengikuti festival tahunan itu. Para pengawalnya mencoba mencari jalan tapi tak ketemu. Shin mengamati daerah di sekelilingnya. Kemudian dia melihat sebuah sungai.

Di tempat konferensi, Kasim Kong menunggu dengan gelisah. Sekretaris Kim melaporkan kalau mereka terjebak di jalanan karena adanya perayaan festival. Mereka mungkin tak bisa lolos dari sana sampai acara berakhir. Mereka mungkin akan membutuhkan waktu sekitar 50 menit untuk sampai di situ.

Shin menuju ke sungai dengan salah seorang pengawalnya. Kemudian Shin naik ke sebuah perahu dan menyusuri sungai. Tak berapa lama kemudian mereka sudah sampai. Shin tersenyum senang karenanya. Shin mengucapkan terimakasih pada gadis pengemudi perahu itu. Gadis itu tahu Shin Pangeran dari Korea. Shin tersenyum sambil mengangguk.

Shin naik ke darat. Tapi kemudian dia melepas jam tangannya dan memberikannya kepada gadis itu. Awalnya gadis itu menolak. Tapi Shin ingin gadis itu memiliki jam tangannya karena sudah menolongnya. Akhirnya gadis itu pun menerimanya. Gadis itu juga memberikan sebuah karangan bunga untuk Shin. Shin senang menerima pemberian itu.

Kasim Kong menunggu dengan gelisah. Sekretaris Kim datang membawa kabar baik. Shin baru saja tiba. Kasim Kong merasa lega karenanya. Panitia acara mengatakan waktu yang tersisa hanya 1 menit.

Yul dan Chae-gyeong tiba di istana. Choi Sang-gung dan kedua dayang setianya berlari menyambut kedatangan Chae-gyeong. Chae-gyeong turun dari mobil dengan lesu. Apalagi dia juga melihat Sang-gung Ratu yang berdiri di sebelah Choi Sang-gung. Choi Sang-gung mengatakan kalau Ratu sedang menunggu Chae-gyeong sekarang.

Kasim Kong sedang membantu Shin bersiap-siap. Shin bercerita kalau dia baru saja beraksi layaknya sebuah film aksi. Judulnya ‘Ong Bak Ga Onr Li’. Kasim Kong memandangi Shin. Dia tak mengerti apa maksud Shin.

Konferensi Pers pun di mulai. Tepuk tangan dan lampu blitz mengiringi kedatangan Shin di ruang konferensi. Shin membawa topeng pemberian Hyo-rin dan meletakkannya di sampingnya. Shin mengatakan, Republik Korea dalam bahasa Thai adalah “Ga Onr Li”. Ga Onr Li dalam bahasa Korea berarti terhormat dan indah. Shin datang dari sebuah Negara yang terhormat dan indah. Shin berasal dari Negara yang terhormat dan indah dan merasa senang bisa datang ke Negara Thailand yang punya sejarah yang panjang dan bunga yang indah, katanya sembari memperlihatkan karangan bunga yang didapatnya dari gadis perahu..

“Putri, apa kau tak punya otak? Semua orang punya aturan sendiri dalam hidupnya, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak. Seorang murid harus melaksanakan tugasnya sebagai murid. Seorang prajurit juga harus melaksanakan tugasnya sebagai prajurit. Apa kita harus melalaikan tugas kita sendiri?” hardik Ratu di kediamannya. Chae-gyeong hanya menggeleng sambil tertunduk. Yul duduk di kursi disampingnya.

“Keluarga Kerajaan punya aturan sendiri yang disebut hukum. Dan orang tak bisa seenaknya melanggar hukum itu. Hukum itu dibuat untuk dipatuhi secara serius. Apa kau mengerti?” lanjut Ratu. Chae-gyeong hanya mengangguk.

“Kenapa kau buat aku khawatir sepanjang hari?!” omel Ratu. Chae-gyeong hanya bisa meminta maaf untuk kesalahannya itu. Yul mencoba membela Chae-gyeong. Tapi Ratu ingin agar Yul tak ikut campur untuk membela Chae-gyeong. Yul bilang dia yang mengajak Chae-gyeong. Chae-gyeong ingin minta ijin pada awalnya. Tapi Yul bilang itu tak perlu dan langsung mengajak Chae-gyeong pergi begitu saja.

“Hwi-seong Gun, Putri adalah calon ibu Negara. Meskipun aku tak tahu bagaimana cara orangtua putrid mendidiknya, atau bagaimana cara dia hidup, dia harus mematuhi hokum istana karena dia menikah dengan keluarga kerajaan. Apa kalian mengerti?” tambah Ratu.

Chae-gyeong hanya bisa mengangguk. Hanya itu yang bisa dilakukan oleh Chae-gyeong. Ratu minta agar Chae-gyeong lebih bisa mengendalikan dirinya. Itulah yang harus dimiliki oleh seorang keluarga kerajaan. Chae-gyeong harus ingat hal itu dan menyimpannya dalam hati. Tiba-tiba seorang dayang melaporkan kalau Ibu Suri sedang menunggu Ratu.

Sebelum Ratu beranjak pergi, dia mengatakan pada Chae-gyeong kalau Chae-gyeong tak boleh pergi sebelum menerima perintah darinya. Ratu ingin Chae-gyeong memikirkan lagi kesalahan yang sudah dibuatnya.

Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Yul mengikuti di belakangnya. Dua orang dayang Chae-gyeong juga ikut kembali bersama Chae-gyeong. Yul meminta maaf. Chae-gyeong hanya tersenyum kemudian membalikkan badan dan masuk ke kediamannya. Yul memandangi kepergian Chae-gyeong dengan sedih.

Saat Chae-gyeong masuk, ternyata keluarganya ada di dalam. Tentu saja Chae-gyeong terkejut. Tapi dia merasa senang mereka semua ada disitu. Tangis Chae-gyeong pecah di pelukan ibunya. Chae-gyeong memeluk ayah, ibu dan adiknya satu persatu sambil menangis. Kemudian mereka saling berpelukan. Kedua dayang Chae-gyeong ikut menangis menyaksikan kejadian itu.

Kasim Kong melayani Shin sambil membacakan puisi lama. Dia bilang dia merasa sangat khawatir saat menunggu kedatangan Shin tadi. Kasim Kong minta agar situasi seperti itu tak terjadi lagi. Kalau hal itu terjadi lagi, Kasim Kong tak tahu berapa lama dia bisa bertahan hidup. Shin mengerti. Dia akan mencatatnya baik-baik.

“Kau pernah bilang kalau aku ini adalah langit, kan? Tapi bagiku, kau adalah langitku. Kau tak perlu memakai kata-kata formal karena kita sama posisinya. Semuanya sudah berakhir sekarang. Pergilah dan istirahatlah. Kau pasti sangat lelah. Aku juga lelah” kata Shin. Kasim Kong mengiyakan perkataan Shin.

Di apartemen, Ibu Yul menyiapkan camilan dan teh untuk mereka berdua. “Ibu, kumohon jadikanlah aku sebagai Raja” ungkap Yul tiba-tiba. Ibunya kaget mendengar ungkapan hati Yul itu.

Chae-gyeong keluar dari kediamannya. Dia bertanya pada dayangnya apa matanya terlihat bengkak? Dayangnya tersenyum dan mengatakan, mata Chae-gyeong memang bengkak. Tapi Chae-gyeong masih terlihat cantik. Kemudian Chae-gyeong kaget saat melihat kedua mata dayangnya yang juga seperti habis menangis. Chae-gyeong tanya kenapa mata mereka. Mereka gugup menjawabnya.

Saat keluar dari kediamannya, Yul sudah menunggu di luar. Yul bertanya apa Chae-gyeong baik-baik saja. Chae-gyeong bilang kalau dia tak apa-apa. Yul bertanya apa Shin sudah menghubungi Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya menggeleng. Yul bilang wajah Chae-gyeong terlihat kurus. Chae-gyeong malah senang mendengarnya. Itu berarti program dietnya berhasil.

Chae-gyeong tak percaya kalau dietnya berhasil. Dia sudah mencoba berbagai macam diet dan baru sekarang dia berhasil. Chae-gyeong tertawa senang karenanya. Tiba-tiba Yul datang mendekat dan memegang pipi Chae-gyeong. “Itulah Chae-gyeong yang sebenarnya. Aku senang melihatmu tertawa seperti ini. Aku akan ada disisimu selamanya hanya untuk membuatmu tersenyum. Jangan lupakan itu” ungkap Yul.

Chae-gyeong mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia bilang Pangeran William akan datang besok. Pangeran yang diimpikan banyak gadis remaja. Chae-gyeong bilang bahasa Inggrisnya sangat kacau. Bisakah Yul menemaninya menyambut Pangeran William. Yul bilang dia akan melakukannya. Chae-gyeong tersenyum senang. Kemudian dia meraba pipinya sendiri.

Di sebuah rumah sakit anak. Hye-jeong, Ibu yul melakukan kegiatan amal teman baik ayah Shin meliput kejadian itu. Untuk disebarkan lewat media cetak yang dimilikinya.

Ibu Suri dan Ratu sedang membaca Koran hari itu. Kemudian Ibu Suri berkata kalau Hye-jeong ada di Koran melakukan kegiatan amal untuk membantu anak-anak yang sakit. Ratu terlihat tak suka dengan berita itu. Kemudian, salah seorang dayang senior yang selama ini selalu membela Hye-jeong dan Yul bilang, sejak muda, Hye-jeong memang seperti itu. Dia sangat peduli dengan orang-orang di sekitarnya.

Ibu Suri membenarkan, Hye-jeong memang yang paling peduli dengan kegiatan amal. Tapi Ratu kurang setuju dengan pendapat itu. Ratu bilang, orang yang paling peduli dengan kesejahteraan orang lain adalah Ibu Suri. Mengasuh anak-anak. Menangani orang-orang jompo, mengatasi kesejahteraan penduduk, Ibu Suri tak pernah lalai menjaga mereka semua. Ibu Suri tersipu-sipu malu mendengar pujian Ratu.

Ibu Suri bilang, dia hanyalah orangtua yang punya banyak waktu luang, jadi dia melakukan hal itu. Itulah kenapa dia merasa hal itu bukanlah hal yang spesial. Ibu Suri bilang, bukankah Ratu juga terlibat kegiatan amal. Park Sang-gung yang menjawabnya untuk Ratu. Ratu memang terlibat dalam kegiatan amal. Menjaga single parent, menjaga wanita dan anak-anak yang terlantar, dll. Dan Ratu melakukan hal itu dengan diam-diam.

Ibu Suri bilang, kegiatan amal itu adalah kewajiban mereka sebagai bagian dari keluarga kerajaan. Ibu Suri lebih senang dengan apa yang dilakukan Ratu. Melakukan kegiatan amal tapi dengan diam-diam. Ratu senang mendengar pujian Ibu Suri. Dayang yang terus membela Hye-jeong terlihat tak suka mendengar hal itu.

Tapi kemudian Ibu Suri berkata, apa yang dilakukan Hye-jeong juga bagus. Walaupun dia sudah keluar dari anggota keluarga kerajaan, tapi dia masih mau melakukan kegiatan kemanusiaan dan membawa nama baik kerajaan. Hal seperti itu harus sering dilakukan. Ratu terlihat muram mendengarnya.

Sementara itu, Raja sedang mengamati beberapa foto. Fotonya bersama Hye-jeong. Tiba-tiba Raja mendengar pengumuman kalau Ratu tiba. Dengan buru-buru Raja memasukkan foto itu ke dalam lacinya dan pura-pura sedang sibuk menulis. Ratu datang untuk mengingatkan Raja untuk meminum obatnya. Raja bilang dia akan segera meminum obatnya. Saat Raja mendekati Ratu, Raja bertanya, kenapa wajah Ratu terlihat tak begitu baik. Ratu tersenyum. Ratu berkata kalau dia tak apa-apa.

Ratu bertanya pada Raja, apa Raja pernah mendengar berita tentang kegiatan amal yang dilakukan oleh Hye-jeong. Hye-jeong sudah lama meninggalkan istana. Tapi tiba-tiba dia muncul dan membuat dirinya ada dimana-mana. Semuanya terlihat aneh. Ratu khawatir tentang Ibu Suri yang selalu memandang baik pada Hye-jeong. Suatu saat, mungkin Ibu Suri akan berbalik membela Hye-jeong.

Raja berkata, mungkin Ibu Suri hanya merasa bersalah setelah apa yang terjadi pada Hye-jeong selama 14 tahun ini. Dilihat dari sudut pandang keluarga kerajaan, bukankah tak ada yang kasihan akan kepergian mereka. Raja meninggalkan Ratu yang masih terus memikirkan kehadiran Hye-jeong.

Ratu bertanya apa Shin melakukan semuanya dengan baik. Raja bilang Shin melakukannya dengan baik meskipun dia jauh dari istana.

Raja menyambut kedatangan Pangeran William. Raja ditemani Ibu Suri, Ratu dan juga Chae-gyeong tentunya. Ratu berkata kalau Pangeran William selalu merasa tertarik dengan kebudayaan tradisional Korea. Jadi Ratu telah mempersiapkan beberapa pertunjukkan tradisional untuk menjamu Pangeran William.

Pangeran William sangat menghargai apa yang sudah Ratu siapkan dan dia merasa sangat berterimakasih karenanya. Ibu Suri mengatakan kalau Putri akan menemani Pangeran William sepanjang hari. Pangeran William memandang Chae-gyeong. Dia bilang kalau dia menyaksikan pernikahan Chae-gyeong yang indah melalui TV. Pangeran William bilang, Chae-gyeong lebih cantik dari yang di TV. Chae-gyeong tersipu-sipu malu mendengar pujian itu.

Chae-gyeong menemani Pangeran William berkeliling istana dan menjelaskan bagian istana satu persatu. Lalu tiba-tiba Pangeran William berseru senang karena melihat Yul. Mereka berpelukan. Ternyata keduanya sangat akrab. Chae-gyeong terbengong-bengong melihat keakraban mereka. Pangeran William mengatakan kalau mereka berdua sudah seperti saudara.

Raja membaca surat yang dibawa oleh Pangeran William dari Inggris. Semacam surat kerjasama yang diwakilkan pada Pangeran William. selesai acara, Chae-gyeong dan Yul mengantar kepergian Pangeran William untuk beristirahat.

Yul bertanya apa Shin sudah menelepon Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya bisa menggeleng dengan lesu.

Hari itu rombongan Shin meninggalkan penginapan yang dekat dengan tempat konferensi pers. Di saat yang sama, Chae-gyeong ditemani Yul menemani dan menjamu Pangeran William. Disela-sela pertemuan itu, Chae-gyeong masih sempat mencoba untuk menghubungi Shin.

Chae-gyeong baru saja berganti memakai Hanbok. Dia duduk di beranda kediamannya. Yul datang menghampiri dan bertanya apa Chae-gyeong sangat merindukan Shin. Chae-gyeong bilang dia kangen Shin. Tapi dari pertama berangkat sampai sekarang, Shin sama sekali tak pernah menghubunginya. Chae-gyeong sedih karenanya.

Yul bilang, Chae-gyeong pernah bilang padanya. Kalau Yul yang bertemu duluan dengan Chae-gyeong, mungkin Chae-gyeong akan menyukainya. Jika kecelakaan itu tak terjadi, atau jika Raja tak wafat, jika seperti itu, mungkin mereka…Yul tak sempat melanjutkan kata-katanya karena Pangeran William muncul kembali. Mereka melanjutkan untuk menjamu Pangeran William.

Kasim Kong menghampiri Shin yang mencoba untuk menghubungi seseorang. Kasim Kong mengatakan kalau Chae-gyeong beberapa kali menelepon hari ini. Kasim Kong bilang pada Shin agar melakukan apa yang ada di pikiran Shin. Hal itu akan membuat Shin merasa sennag.

Di istana, Chae-gyeong menjamu Pangeran William dengan sajian musik tradisional. Chae-gyeong yang memang berbakat dalam hal kesenian melakukan hal itu dengan baik. Pangeran William merasa puas dengan jamuan yang disuguhkan oleh Keluarga Kerajaan. Pangeran William merasa sangat tertarik dengan Seul-geum (seruling) yang dimainkan oleh Chae-gyeong saat menjamunya.

Chae-gyeong duduk berdua bersama Yul di sebuah ruangan. Chae-gyeong merasa senang karena semua sudah berakhir dan berjalan dengan lancer. Chae-gyeong berterimakasih pada Yul, karena kalau Yul tak membantunya, hasilnya pasti takkan sebaik ini.

Yul bilang dia tak melakukan banyak hal untuk membantu Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong bilang Yul sudah membantu banyak hal. Bahkan suaminya malah sama sekali tak membantunya. Yul selalu membantunya. Yul tersenyum senang mendengarnya. Kemudian Yul menyerahkan sekotak coklat untuk Chae-gyeong. (Kyaaaaa……serasa valentine. Coz itu coklat yang biasa dikirim dari sana by my hubby kalau valentine!). Yul bilang dia tahu kalau Chae-gyeong tak makan siang ini. Chae-gyeong hanya minum air. Chae-gyeong senang dengan perhatian Yul. Yul menyerahkan satu coklat pada Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang dia akan memakannya nanti.

“Punya teman sebaik kau yang tak pernah mengharap imbalan apapun, membuatku sangat nyaman” ucap Chae-gyeong. Yul bilang, dia bukan tak mengharap imbalan appaun. Chae-gyeong tak mengerti maksud Yul. “Meskipun aku bukan suamimu sekarang, tapi aku pernah menjadi tunanganmu” jelas Yul. Chae-gyeong makin tak mengerti.

“Orang yang pertama kali dijodohkan denganmu itu bukan Shin tapi aku. Meskipun hal itu berubah setelah kematian Ayahku. Tapi aku berharap kau kan ingat bahwa meskipun semuanya tak mungkin jadi kenyataan, jika saja tkadir tak mempermainkan kita,  suamimu sekarang pasti bukan Shin. Tapi aku” jelas Yul. Chae-gyeong hanya bisa memandangi Yul dan terdiam.

Chae-gyeong kembali ke kediamannya dan para dayang juga Choi Sang-gung sedang menyiapkan makanan untuknya. Choi Sang-gung memperhatikan Chae-gyeong yang tak berselera makan. Choi Sang-gung bertanya, apakah makanannya tak cocok bagi Chae-gyeong. Apakah Chae-gyeong ingin makan sesuatu yang lain. Tapi Chae-gyeong hanya diam. Dia terus memandangi kursi Shin di depannya yang kosong.

Chae-gyeong meletakkan sumpitnya dan bilang kalau dia sudah selesai makan. Kedua dayangnya cemas melihat keadaan Chae-gyeong. Choi Sang-gung apalagi. Tapi Chae-gyeong bilang dia seperti itu karena mungkin Chae-gyeong grogi menghadapi kedatangan Pangeran William. Chae-gyeong ingin istirahat sekarang.

Raja sedang sendirian di lapangan istana. Tiba-tiba datang Hye-jeong menghampirinya. Raja menanyakan kabar Hye-jeong dan Hye-jeong malah mengajak Raja jalan-jalan. Hye-jeong bilang ini hari yang cerah. Tak ada salahnya menikmati sinar matahari.

Raja dan Hye-jeong pergi ke suatu tempat. Raja bilang kalau dia khawatir dengan keadaan Hye-jeong dan Hwi-seong. Mereka pasti melewati saat-saat yang sulit karena harus tinggal di Negara asing. Raja merasa malu menghadap mendiang kakaknya (suami Hye-jeong).

“Kau tahu kenapa aku kembali?” tanya Hye-jeong. Raja memandang Hye-jeong. “Ini adalah saatnya. Tolong kembalikan gelar asli yang seharusnya jadi milik Putra Mahkota Hyo-yeol (Ayah Yul)” pinta Hye-jeong. “Gelar asli?” tanya Raja tak mengerti. “Maksudku adalah gelar milik Raja yang sudah meninggal sebelummu” jelas Hye-jeong.

“Sebenarnya, rasa berkabung untuk Raja yang sudah meninggal,  aku juga sedang memikirkannya. Tapi ini topik yang sangat sensitif. Politik yang berbicara. Harus melalui prosedur yang jelas dan butuh untuk di diskusikan. Ini bukanlah sesuatu yang bisa kuputuskan sendiri” kata Raja sambil berbalik hendak meninggalkan Hye-jeong.

“Oppa” panggil Hye-jeong tiba-tiba. “Maafkan aku, Oppa” lanjut Hye-jeong. Raja merasa panik. Dia melihat kesekelilingnya. “Kakak ipar,! Bukan…Hye-jeong. Tolong jangan seperti ini” pinta Raja. “Waktu yang berlalu seperti sebuah kebohongan saja. Berapa banyak musim gugur seindah sekarang datang dan pergi. Untuk kerinduanku, aku sudah menyentuh, mendaki, berputar dan terluka. Hidup seakan tak berarti. Tapi semua itu memang harus berlalu, kan?” kata Hye-jeong.

“Kenapa aku begitu bodoh? Waktu itu, perasaanku pada Oppa memang sungguh-sungguh” ungkap Hye-jeong. Raja tak tahu harus berkata apa lagi. Jadi dia hanya bisa diam.

Raja sedang termenung sendirian. “Yang Mulia, apa yang sedang anda lakukan disini?” tanya Ratu yang tiba-tiba datang. Raja menghampiri Ratu. “Ini saatnya anda minum obat. Aku sudah mencari anda daritadi” kata Ratu. Ratu bertanya apa yang sedang Raja lakukan disini. Raja bilang dia habis jalan-jalan. Ratu tersenyum dan berkata, “Ya. Ini memang musim gugur yang indah”. Raja melangkah pergi. Ratu mengikutinya. Tapi tiba-tiba Ratu berhenti melangkah. Dia melihat seseorang berjalan pergi meninggalkan tempat itu. Seseorang yang Ratu kenal dengan baik. Yang membuat raut wajah Ratu berubah kecewa. Hye-jeong.

Chae-gyeong ada di atas tempat tidur. Tapi dia tak bisa tidur. Choi Sang-gung masuk ke dalam dan mengajak Chae-gyeong minum teh. Choi Sang-gung melihat Chae-gyeong memukuli bantal Shin dengan kesal. Choi Sang-gung memandangi Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya nyengir malu. Kemudian merapikan rambutnya yang berantakan.

“Eonni, apa kau masuk ke istana dengan memakai tes? Aku mendengar dari Sang-gung yang lain kalau dibutuhkan tes untuk masuk ke istana” tanya Chae-gyeong kemudian. Choi Sang-gung membenarkan kata-kata Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang, brarti Choi Sang-gung pasti belajar dengan giat untuk lulus tes. Tapi Chae-gyeong masih tak mengerti kenapa mereka tak boleh pulang ke rumah dan tak boleh menikah. Mereka harus bekerja keras disini, tidakkah itu terlalu kejam?

Choi Sang-gung bilang, mereka memang akan mengabdikan dirinya sepanjang hidup mereka demi keluarga kerajaan. Itulah kenapa mereka masuk ke istana. Kami merasa beruntung karena bisa melayani keluarga kerajaan. Chae-gyeong memuji dan menghargai para Sang-gung dengan tujuan mulia mereka.

Dua dayang Chae-gyoeng masuk ke dalam dan membawakan sesuatu untuk Chae-gyeong. Choi Sang-gung bilang, mereka bertiga khawatir sejak Chae-gyeong sama sekali tak  mau makan apa-apa. Choi Sang-gung meminta Chae-gyeong memakan apa yang tadi di bawa kedua dayangnya sebelum dia melaporkannya pada para tetua.

Chae-gyeong bertanya apa itu. Choi Sang-gung bilang, dia lihat Chae-gyoeng terlihat agak kurus beberapa hari belakangan ini. Jadi dia menyiapkan obat herbal untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang dia paling tidak suka dengan obat herbal Korea. Chae-gyeong bilang dia akan meminumnya nanti. Tapi Choi Sang-gung menegaskan kalau Chae-gyeong harus meminumnya segera.

Choi Sang-gung menegaskan, Chae-gyeong itu calon ibu Negara. Tapi Chae-gyeong bilang, dia merasa dia tak berguna di masa depan. Ibu Negara di masa depan. Untuk seseorang yang tak berguna seperti dia. Choi Sang-gung mengatakan, tinggal ambil saja posisi itu, dia akan mengajari Chae-gyeong selama itu hingga tiba saatnya Chae-gyeong mendapatkan posisinya sebagai ibu Negara. Untuk mempersiapkan Chae-gyeong sebagai seorang Ratu. Selama itu, Chae-gyeong akan melaksanakan upacara menuju kedewasaan dam Chae-gyeong akan jadi Ratu, dari anak-anak yang dilahirkan yang akan menjadi pewaris tahta kerajaan.

“Apa? Ibu….Ibu….Apa kau bilang, aku akan jadi seorang Ibu?” tanya Chae-gyeong bingung. “Saat usia kalian berdua cukup, keluarga kerajaan dan orang-orang Korea akan menunggu kehadiran kelahiran anak-anak keluarga kerajaan. Keluarga kerajaan cenderung menginginkan anak lahir secepatnya daripada keluarga biasa. Hal itu berlangsung tak lama lagi. Mereka sedang membicarakan, kapan Shin dan Chae-gyeong tidur sekamar. Chae-gyeong terbelalak mendengar penuturan Choi Sang-gung.

Shin sudah ada di dalam pesawat yang terbang menuju Korea. Shin duduk sambil membaca Koran Thailand yang meliput kedatangannya ke Thailand. Kasim Kong mengatakan kalau Shin pasti senang bisa mengunjungi Negara dengan kebudayaan dan keindahan yang alami dengan reaksi yang positif dari kedua belah pihak.

Shin hanya diam. Kasim Kong memperhatikan Shin. Ternyata Shin asyik melamun sendiri. Dia sibuk dengan laptopnya. Tapi tatapan matanya menerawang entah kemana. Kemudian Kasim Kong bertanya dimana jam tangan Shin. Shin bilang kalau dia memakainya untuk membayar seseorang.

Chae-gyeong demam. Dua orang dayangnya menjaganya sepanjang malam hingga pagi harinya mereka tertidur karena kelelahan. Chae-gyeong terbangun saat sinar matahari masuk ke dalam kamarnya.chae-gyeong bangun dengan pelan-pelan agar tak mengganggu istirahat kedua dayang setianya itu.

Chae-gyeong melangkah keluar kediamannya. Dia berdiri di sebelah bangku yang biasa dipakainya untuk ngobrol berdua bersama Shin. Karena bosan, Chae-gyeong pun melangkah masuk ke dalam. Dia kaget saat sudah sampai di pintu kediamannya. Seseorang yang selama ini dirindukannya ada disana. Shin sudah pulang dan dia langsung pergi ke kediaman Chae-gyeong!

“Ada apa? Apa kau sakit? Atau kau ada diluar untuk menyambut kedatanganku? Kalau begitu biarkan aku melihat wajahmu” kata Shin sambil melangkah mendekati Chae-gyeong. “Berhenti disitu!” teriak Chae-gyeong. Shin malah semakin mendekat padanya hingga membuat Chae-gyeong berteriak semakin keras untuk melarang Shin semakin mendekat.

“Jika kau melangkah lebih dekat lagi, aku akan memukulmu” ancam Chae-gyeong. Matanya sudah mulai memerah. “Menyedihkan sekali. Kenapa kau tak mengijinkan suamimu yang baru saja pergi jauh untuk mendekat padamu” kata Shin. Chae-gyeong hanya melirik sebentar ke arah Shin.

“Apa kau tak pernah nonton drama di TV? Saat seperti ini, harusnya kau tak berkata apa-apa. Kau hanya perlu berlari ke dalam pelukan suamimu” kata Shin. “Melihatmu membuatku kehilangan selera makan. Kau hanya mengurusi urusanmu sendiri. Kau benar-benar egois. Kau tak peduli perasaan orang lain. Kau orang paling egois sedunia” maki Chae-gyeong. Chae-gyeong menangis tertahan.

Shin mencoba mendekati Chae-gyeong. Chae-gyeong mencoba menahan tangisnya. Shin memegang bahu Chae-gyeong. Chae-gyeong mulai terisak. Shin meraih tubuh Chae-gyeong ke dalam pelukannya. “Aku tahu. Kupikir lain kali, kita akan pergi bersama. Tangis Chae-gyeong pun pecah. Dia menangis dipelukan Shin.

Keuda dayangnya yang ternyata sudah terbangun melihat kejadian itu dan ikut bahagia untuk Chae-gyeong. Begitu juga dengan Kasim Kong dan Choi Sang-gung yang turut menyaksikan dengan senyum tersungging dibibir mereka.

Shin membawakan oleh-oleh untuk kerajaan dari Thailand. Semuanya sangat senang menerimanya. Ibu suri berkata kalau Shin pasti sulit menghadapi iklim di Negara yang panas seperti Thailand. Kasim Kong pasti juga sulit selama disana. Kasim Kong senang dengan perhatian Ibu Suri.

Ratu berkata, dia ikut senang karena media di Thailand menyambut positif kedatangan Pangeran. Untuk kerjasama di masa endatang dengan Thailand, Shin akan mengemban tugas itu sebagai bagian tanggungjawabnya. Raja juga mengucapkan terimakasih karna Shin melaksanakan tugasnya dengan baik. Shin bilang, dia hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Pangeran. Shin bilang dia melakukan hal itu tak sendiri. Dia melakukannya karna dia mendapat bantuan dari ‘surga’.

Mereka tak mengerti apa maksud Shin. Tapi Shin tersenyum penuh arti sambil memandang ke arah Kasim Kong. Ibu Suri memandang ke arah Kasim Kong. Dia mengerti apa yang dimaksud oleh Shin. 

Hyo-rin menemui Ibu Yul lagi. Ibu Yul bertanya apa Hyo-rin punya masalah? Karena hampir seharian Hyo-rin ada disini, tak bisa tidur dan berlatih yoga. Hyo-rin berkata, Ibu Yul pernah bercerita tentang Camilla. Jadi Hyo-rin meminta Ibu Yul bercerita lagi tentang Camilla dan memberitahukan padanya bagaimana cara untuk menjadi teman dari keluarga kerajaan.

Yul masuk ke dalam dan senang ada Hyo-rin disitu. Yul duduk disamping ibunya dan bertanya apa ibunya sudah membaca Koran hari ini. Di Koran terdapat berita tentang peringatan upacara kematian Pangeran Hyo-yeol, ayah Yul. Yul menawarkan apa Hyo-rin mau minum teh atau yang lainnya. Yul akan membuatnya untuk Hyo-rin.

Ibunya bertanya kenapa Yul baik sekali pada Hyo-rin. Yul bilang kalau Hyo-rin itu manajer. Ibunya tak tahu apa maksud Yul. Kemudian Hyo-rin menjelaskan, kalau dia Cuma manajer kecil di sebuah klub berkuda tempat Yul dan Shin berlatih berkuda.

Hyo-rin bercerita kalau anggota keluarga kerajaan juga bagian dari klubnya. Shin presiden klub dan dia manajernya. Yul bilang kalau dia dan Chae-gyeong adalah anggota baru di klub itu. Ibu Yul tak tahu kalau Putri Mahkota juga ikut ke klub itu. Hyo-rin bilang banyak yang tak suka. Tapi Hyo-rin memperjuangkan agar Chae-gyeong masuk ke dalam anggota klubnya. Bagaimana mungkin seorang anggota keluarga kerajaan tak bisa jadi bagian dari sebuah klub berkuda milik kerajaan.

Seperti biasanya, Jang-gyeong yang mengantar Hyo-rin pulang ke rumahnya. Saat Hyo-rin hendak turun, Jang-gyeong bertanya apa Hyo-rin sudah memperjelas perasaanya dengan Shin.  Hyo-rin tak tahu apa yang coba dikatakan oleh Jang-gyeong.

“Kau dan Shin… Hubungan antara kalian berdua, apa kau tak mengerti juga. Bukankah kalian melewatkan liburan bersama dengan baik?” kata Jang-gyeong. “Liburan bersama?” tanya Hyo-rin. “Ya, benar. Shin harus berpikir tentang hal ini juga. Dia pasti sudah menyadari perasaannya sekarang. Teman dari keluarga kerajaan atau apapun, kupikir aku tahu apa yang akan kau perbuat. Tapi aku tak ingin hidupmu jadi membingungkan” ungkap Jang-gyeong.

“Jadi kau memperingatkan aku sekarang?” tanya Hyo-rin dengan sinis. “Ya. Aku mencoba memperingatkanmu. Shin sudah menikah. Permainan selesai. Kalau ka uterus seperti ini, kau akan dapat masalah dan mungkin akan melukai dirimu sendiri.” Tambah Jang-gyeong. Hyo-rin tak mau mendengar ocehan Jang-gyeong lagi. Jadi dia segera turun dari mobil Jang-gyeong dan masuk ke dalam rumah.

Shin masuk ke kamarnya dan pandangannya tertuju pada teddy bearnya. Dia tertawa senang melihat teddy bearnya yang sekarang memakai baju dan celana, hasil kreasi Chae-gyeong.

Kasim Kong masuk ke dalam kamar Shin dan membawa sesuatu. Shin bertanya dan tak tahu apa itu. Kasim Kong bilang itu hadiah untuk Putri. Shin menghadiahkan banyak oleh-oleh untuk para tetua, jadi Kasim Kong mempersiapkan hadiah kecil untuk Putri. Shin berkata agar Kasim Kong meletakkan saja hadiah itu di kamar Chae-gyeong. Tapi Kasim Kong berkata lebih baik Shin memebrikannya langsung. Karna Shin tlah meninggalkan Chae-gyeong sendirian, tak ada salahnya sekarang Shin membawa hadiah itu sebagai ucapan permintaan maafnya. Hal itu akan lebih baik untuk hubungan suami istri di antara mereka.

Shin berkeras kalau dia merasa tak perlu meminta maaf pada Chae-gyeong. Tapi dia bilang dia mengerti. Dia akan memberikan hadiah itu secara langsung pada Chae-gyeong. Hadiah itu ternyata sebuah kalung dengan hiasan sebuah mahkota berwarna biru.

Shin masuk ke dalam kamar Chae-gyeong. Dia melihat bantal-nya dengan raut mukanya yang marah, jadi dia membalik bantal itu agar yang terlihat sisi yang tersenyum. Dia meletakkan hadiah itu di atas kasur Chae-gyeong dan bersembunyi saat mendengar Chae-gyeong pulang bersama kedua dayangnya. Chae-gyeong baru saja mengambil bunga yang akan dijadikannya sebagai hiasan di kamarnya. Dengan sembunyi-sembunyi Shin mencoba keluar dari kamar Chae-gyeong.

Shin berhasil keluar, tepat pada saat itu, Chae-gyeong hendak mencari gunting untuk memotong bunga-bunganya. Saat mencari gunting itulah dia melihat hadiah dari Shin. Dia membukanya dan merasa senang sekali menerima hadiah itu.

Dengan gembira, Chae-gyeong masuk ke dalam kediaman Shin sambil membawa bantal Shin-nya. Shin sedang asyik membaca. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih atas pemberian Shin. Kalung itu sangat cantik. Chae-gyeong sangat menyukainya. Kalung itu berkelap-kelip. Apa itu berlian? Kalung itu pasti sangat mahal. Shin sama sekali tak bereaksi. Dia masih asyik membaca.

Kemudian Chae-gyeong meminta Shin memakaikan kalung itu. Dengan tertawa sinis Shin bilang, kalau Kasim Kong lah yang membawakan hadiah itu untuk Chae-gyeong. Jadi kenapa Chae-gyeong tak meminta Kasim Kong untuk memakaikan kalung itu. Chae-gyeong kesal mendengar kata-kata Shin.

Chae-gyeong yang kesal pulang ke kediamannya, masuk ke kamarnya dan mulai melampiaskan kekesalannya dengan memukuli bantal Shin sepuasnya.

Bersambung………………

Princess Hours Episode 9

Chae-gyeong sedang sibuk menjahit di kediamannya. Ternyata dia menjahit sebuah baju kecil. Selesai menjahit, dia pergi ke kediaman Shin. Ternyata baju itu untuk boneka kesayangan Shin. Chae-gyeong memakaikan baju itu, kemudian mendudukkannya dan memegang punggungnya seakan dia sedang menyentuh punggung Shin yang membuatnya selalu ingin memeluk Shin dari belakang.

“Dia pasti sudah sampai sekarang. Aku tak tahu kenapa dia tiba-tiba memutuskan untuk pergi seorang diri ke Thailand. Apa itu karena Yul? Apa karena aku menghampiri  Yul dan bukan menghampirinya? Aku harusnya lebih menyadarinya. Bagaimanapun juga, dia itu suamiku. Bukannya peduli padanya, aku malah mempedulikan orang lain. Jika aku jadi dia, aku juga pasti akan marah” batin Chae-gyeong sambil terus memeluk boneka teddy bear milik Shin.

Sementara itu, Shin baru saja mendarat di Thailand dan disambut oleh upaca kenegaraan di Thailand. Disana Shin di sambut dengan sukacita di sepanjang perjalanan menuju tempatnya menginap.

Chae-gyeong menelpon Shin. Tapi Kasim Kong yang mengangkat telponnya. Shin benar-benar super sibuk di Thailand. Bahkan setelah makan malam, dia masih ada pertemuan membahas kerjasama antar kedua Negara. Kasim Kong mengatakan, sebenarnya Shin menyuruhnya untuk menghubungi Chae-gyeong agar Chae-gyeong tak khawatir. Sayang sekali Chae-gyeong bahkan tak punya kesempatan untuk ngobrol dengan suaminya walaupun lewat telepon. Dengan berat hati Chae-gyeong hanya bisa menyampaikan pesannya melalui Kasim Kong.

Kasim Kong menyampaikan pesan Chae-gyeong. Kasim Kong juga bilang kalau nanti Shin pulang, dia akan meminta Shin untuk menelepon Chae-gyeong. Tapi dengan dingin Shin berkata, dia akan menelpon Chae-gyeong lain kali.

Chae-gyeong berjalan di koridor sekolah menuju kelasnya dengan lesu. Tiba-tiba salah seorang temannya menawarinya permen karet. Chae-gyeong merasa agak terhibur dengan pemberian itu. Di dalam kelas, Kang-hyeon, Hee-sung dan Sung-yeon sedang asyik bermain-main.

Chae-gyeong duduk di bangkunya yang terletak disamping bangku Yul. Yul menyodorkan sebuah buku pada Chae-gyeong. Yul bilang, dia dengar di Korea ada rumah kaca. Dia bertanya pada Chae-gyeong apakah Chae-gyeong ingin pergi ke sana atau tidak. Chae-gyeong hanya diam.

“Kenapa kalian tidak pergi berdua?” tanya Yul. Chae-gyeong kaget karenanya. “Setelah menikah, biasanya pasangan istana melaksanakan tugas berdua. Apa ini karena Ratu menolaknya?” tanya Yul. Chae-gyeong hanya diam sambil memandangi Yul. “Aku dengar sejak awal dia tak pernah menyukaimu” lanjut Yul. “Aku tak tahu. Aku tak yakin akan hal itu” jawab Chae-gyeong singkat.

Tiba-tiba ketiga sahabat Chae-gyeong mendekati Chae-gyeong. Mereka mencoba menghibur Chae-gyeong karena mereka tahu Chae-gyeong yang paling bersedih. Mereka menirukan suara-suara Mun Geun-yeong, Jang Dong-gun dan juga Lee Hyo-ri. Dan mereka sukses membuat Chae-gyeong tertawa.

Yul teringat masa lalunya. Dia ingat saat Ibunya berkata untuk melupakan bahwa dirinya adalah seorang Putra Mahkota. Dan mulai saat itu, dia harus memanggil Shin dengan sebutan Putra Mahkota. Yul juga harus meninggalkan istana bersama Ibunya. Tapi Yul kecil menolak. Dia ingin tinggal di Istana bersama Shin dan juga Ibu Suri. Yul berlari dan berteriak kalau dia tak mau pergi. Yul terbangun dari mimpi buruknya.

Ibunya tiba-tiba masuk dan bertanya apakah Yul mimpi buruk. Yul balik bertanya kapan Ibunya pulang. Ibunya bilang kalau dia baru saja datang.

“Apa kau gila? Kau itu biocara apa?” kata Ibunya setengah berteriak saat mereka berdua sedang minum di dapur. “Ya. Aku menyukai Chae-gyeong” kata Yul. “Dia itu saudara iparmu, istri sepupumu” tegas Ibunya. “Dia pada awalnya adalah milikku. Tapi Putra Mahkota merebutnya dariku” lanjut Yul. “Ya Tuhan, kau itu bicara apa?” tanya Ibunya makin tak mengerti Yul.

“Kau tahu apa satu-satunya hal yang membuatku sangat berterimakasih hingga saat ini?” tanya Ibunya lagi. Karena Ayahmu meninggal, kau jadi tak perlu menikahi gadis bodoh itu! Tapi lihat apa yang kau  katakana sekarang!” jelas Ibunya. “Aku menyukainya. Perasaan aneh ini, kusadari saat ada yang bilang ‘kalau dia tak cukup cantik’ dan ‘tak layak untuk jadi seorang putri’. Semakin aku mendengarnya, membuatku semakin menyukainya” tegas Yul lagi.

“Setelah meninggalkan istana sejak berusia 5 tahun, sampai sekarang hidup jauh dari kekangan menuju pusat dunia, sejujurnya aku tak membenci hal itu. Tapi, melihat ibuku yang kesulitan menghadapi hidupnya karena dia tak bisa melupakan rasa senangnya tinggal di istana, aku kembali untuk membuat Ibuku meraih mimpinya. Untuk memenuhi mimpinya, sebagai anaknya seharusnya aku melakukan semua hal yang aku bisa demi dia. Tapi aku merasa tersembunyi jauh di dalam. Dibandingkan dengan aku, aku lebih mengkhawatirkan ibuku. Jika aku bisa menyembuhkan luka ibuku, kupikir aku takkan peduli lagi apa yang akan terjadi padaku. Tapi sejujurnya, jika aku boleh mengatakan sesuatu sekarang, aku tak yakin lagi akan perasaanku” ungkap Yul. Ibunya hanya diam. Tak tahu lagi harus bilang apa ke Yul.

Chae-gyeong pulang dari sekolah mengendarai mobil barunya dengan disopiri oleh salah satu bodyguardnya. Saat bodyguardnya masuk ke dalam, dengan diam-diam Chae-gyeong mendekati mobilnya dan masuk ke dalamnya. Salah seorang penjaga gerbang istana memperhatikannya dengan cemas.

Chae-gyeong senang sekali duduk di dalam mobilnya itu. Karena tak tahu apa-apa, secara tak sengaja dia menarik rem kaki mobilnya. Mobil itu berjalan mundur dan sukses nabrak. Dua orang penjaga segera berlari menghampiri Chae-gyeong untuk menolongnya.

Chae-gyeong ada di kediaman Ratu. Ratu sangat marah pada Chae-gyeong dan berkata kalau hal ini sudah tak bisa di tolerir lagi. Chae-gyeong bukan lagi seorang anak kecil berusia 1 atau 2 tahun. Kenapa Chae-gyeong masih bertingkah kekanak-kanakan seperti itu. Chae-gyeong hanya bisa meminta maaf atas tindakannya itu.

Tapi Ratu masih tetap marah karena mobil itu jadi rusak akinat tingkah Chae-gyeong. Chae-gyeong masih mencoba membela diri dengan mengatakan kalau dia hanya menyentuh sedikit saja bagian dari mobil itu. Ratu tetap saja menyalahkan Chae-gyeong.

Sebenarnya Ratu berbuat seperti itu karena Chae-gyeong adalah tanggungjawabnya dan mobil itu adalah milik Ibu Suri, mobil kesayangan Ibu Suri. Dan Ratu berkewajiban untuk melaporkan masalah itu kepada Ibu Suri.

Lalu beberapa saat kemudian, Ratu meminta agar mereka tak membicarakan masalah itu lagi. Selama Pangeran ada di Negara lain, Pangeran William dari Inggris akan datang berkunjung. Selama itu, saat dia berkunjung ke Negara ini, semua pestanya akan ditangani oleh chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong kaget mendengarnya.

Ratu berkata, peristiwa ini sangat penting. Jangan sampai membuat kesalahan. Jika salah, Ratu khawatir hal itu akan membuat Chae-gyeong malu di hadapan orang banyak. Itulah kenapa Chae-gyeong harus melakukan semuanya dengan baik. Chae-gyeong berkata kalau dia mengerti akan tugasnya walau sebenarnya dia bingung mengenai apa yang harus dilakukannya untuk menjamu Pangeran William.

Chae-gyeong pulang ke kediamannya. Choi Sang-gung sedang ngobrol serius dengan seorang Sang-gung. Sang-gung Ibu Suri. Choi Sang-gung bilang kalau Ibu Suri sedang menunggu Chae-gyeong di dalam. Chae-gyeong merasa panik mendengarnya. Karena dia baru saja merusakkan mobil kesayangan Ibu Suri.

Chae-gyeong masuk ke kamarnya. Ibu Suri sedang sibuk mengamati hiasan yang dipajang di lemari Chae-gyeong bersama salah seorang dayangnya. Ibu Suri membelakangi Chae-gyeong sambil memegangi kepalanya. Hiasan kepalanya mungkin terlalu berat. Tapi saat dia berbalik, dia tertawa senang melihat kedatangan Chae-gyeong.

Ibu Suri berkata, saat dia datang ke kediaman Chae-gyeong, dia sedih karena Chae-gyeong tak ada. Ibu Suri malah meminta maaf karena asal masuk begitu saja ke kediaman Chae-gyeong. Ibu Suri juga berkata, melihat kediaman Chae-gyeong, mengingatkannya saat pertama kali Ibu Suri datang ke istana.

Ibu Suri kemudian bertanya berapa usia Chae-gyeong sekarang. Chae-gyeong menjawab kalau sekarang dia berusia 19 tahun. Ibu suri terkejut karena Chae-gyeong masih sangat muda.

Tiba-tiba Chae-gyeong yang sedari tadi gugup berkata kalau mobil kesayangan Ibu Suri yang baru saja diberikannya tlah dirusak oleh Chae-gyeong. Ibu Suri berkata, kalau masalah mobil, jangan terlalu dikhawatirkan. Saat pertama kali Ibu Suri mendengar kabar itu, yang dia cemaskan adalah keadaan Chae-gyeong, apakah Chae-gyeong terluka atau tidak. Dan karena sekarang dia melihat Chae-gyeong baik-baik saja, dia merasa sangat lega. Chae-gyeong ikut lega mendengar hal itu.

“Mobil itu sudah sangat tua. Karena aku bingung apa yang harus aku lakukan pada mobil itu, aku merasa sayang untuk membuang mobil itu. Kau tlah membantuku menyelesaikan masalahku, jadi aku harusnya berterimakasih padamu. Jadi, jangan terlalu memikirkan maslah itu” ungkap Ibu Suri.

Chae-gyeong menangis mendengar penuturan Ibu Suri yang sangat membuatnya terhibur itu. “Maafkan aku. Terima kasih banyak, Yang Mulia” ucap Chae-gyeong. “Harusnya kau tak menangis karena hal kecil semacam itu. Sekarang aku tahu apa yang Putra Mahkota maksud. Sebelum dia pergi ke Thailand, dia datang mengatakan sesuatu padaku. Dia tiba-tiba bilang, orang yang pantas untuk menjamu Pangeran William adalah kau, Putri” jelas Ibu Suri sambil mendekat untuk menghapus airmata Chae-gyeong.

“Dia juga bilang padaku tentang “airmata”. Karena dia, kau sudah menangis beberapa kali. Melihat airmatamu, dia merasa ada sesuatu jauh di dalam hatinya yang hilang. Airmatamu lebih jernih daripada air di  arus permata (Jade Stream)” tambah Ibu Suri lagi.

Chae-gyeong tak mengerti apa yang dimaksud dengan Jade Stream itu. Ibu Suri kemudian berkata kalau Jade Stream itu adalah arus air yang mengalir di dalam Paviliun Chi-han. Yang ada di halaman belakang istana Chang-deok. Arus air itu sangat terkenal karena segar dan jernih. Suatu saat nanti, Ibu Suri ingin pergi kesana bersama Chae-gyeong.

Chae-gyeong sangat senang mendengarnya. Ibu Suri menambahkan kalau dia sengaja datang kesini hari ini untuk menyampaikan hal itu langsung pada Chae-gyeong. Mungkin lebih baik Shin yang menyampaikan hal itu langsung pada Chae-gyeong. Tapi semua laki-laki sama saja. Apa yang sebenarnya harus mereka sebagai wanita saat menjumpai laki-laki semacam itu? Kita hanya bisa mencoba untuk mengerti mereka. Chae-gyeong mau tak mau tersenyum senang mendengarnya.

Shin berkeliling menikmati keindahan di Negara Thailand. Dia sangat mengagumi bangunan kuil yang menjulang tinggi di hadapannya dengan sangat kokoh walaupun usianya sudah sangat tua.

Chae-gyeong ada di dalam kediaman Shin dan membelai foto Shin dengan lembut. Chae-gyeong sedih. Dia merasa kalau dia sangat merindukan suaminya.

Hyo-rin dan tiga orang teman Shin sedang menikmati pemandangan indah dengan naik kapal di Sungai Han. Kang-in sedang asyik ceramah mengenai wanita-wanita cantik di dunia. Jang-gyeong dan Ryu-hwan tersenyum mendengar ceramah Kang-in. hanya Hyo-rin yang diam karena dia sedang asyik membaca berita tentang Shin yang sedang berkunjung ke Thailand.

Hyo-rin menjauh dari mereka dan Jang-gyeong menghampirinya. “Kau tak bisa menemukan hotelnya kan?” tanya Hyo-rin saat mereka hanya berdua. Jang-gyeong bingung mendengar apa yang dikatakan oleh Hyo-rin. Jadi Jang-gyeong bertanya hotel apa yang dimaksud oleh Hyo-rin. Hyo-rin menjawab, tentu saja hotel yang dipakai Shin untuk menginap.

Jang-gyeong bilang tentu saja dia bisa mencari tahu. Hyo-rin juga bertanya  apakah Jang-gyeong bisa mencari tahu tnetang jadwal Shin selama di Thailand. Dengan enteng Jnag-gyeong menyanggupinya. Jang-gyeong menelpon seorang nara sumbernya.

Di Thailand, Kasim Kong membacakan jadwal Shin selanjutnya adalah menonton pertunjukan musik tradisional Thai. Di sore harinya, Shin ada jadwal wawancara, dll. Kasim Kong juga bilang, akan ada kemacetan di jalan sekitar pusat kota karena ada perayaan tradisional, jadi Kasim Kong mencarikan hotel yang dekat dengan tempat wawancara agar aksesnya lebih mudah karena wawancara esok hari sangat penting sekali artinya. Ini pertama kalinya Shin berbicara di kalangan masyarakat luas.

Kemudian Kasim Kong juga mengingatkan pada Shin apa Shin tak mau menelpon Putri Mahkota karena Chae-gyeong sudah menelponnya berkali-kali. Shin malah bilang kalau dia lapar dan ingin makan mie rebus ditambah dengan telur didalamnya. Kasim Kong agak terkejut mendengarnya.

Sementara itu, chae-gyeong tak enak tidur di kamarnya. Dia terus saja memeluk boneka teddy bear milik Shin dan karena kelelahan dia pun akhirnya tertidur. Tapi terkadang, dia masih sesekali terbangun dan hal pertama kali yang diingatnya adalah Shin. Dia sangat merindukan Shin.

Yul sedang sibuk membuat kimbap (nasi dengan rumput laut/sushi) di apartemennya.

Di sekolah, Chae-gyeong sedang berduaan dengan Kang-hyeon. Chae-gyeong mencoba menelepon Shin. Tapi sayang sampai sekarang teleponnya tak juga diangkat. Kang-hyeon juga bertanya apakah Shin membalas teleponnya atau tidak. Chae-gyeong bilang, dia benar-benar tak mengerti akan sikap Shin. Terkadang Shin sangat sayang padanya, tapidia bisa tiba-tiba berubah galak dan berteriak padanya.

Di toilet, bahkan Chae-gyeong masih mencoba menelpon Shin. Tapi HP Shin malah tak aktif. Sesaat kemudian dia mendengar percakapan teman sekolahnya yang sedang membicarakan dirinya yang datang ke sekolah pada hari minggu tanpa tujuan yang jelas.

Yang satunya bertanya untuk apa Chae-gyeong datang ke sekolah. Yang lainnya menjawab, Chae-gyeong hanya mau cari muka, termasuk pamer bodyguard dan mobilnya yang mahal. Salah satu dari mereka bahkan juga bilang kalau Chae-gyeong pernah meminjam 500- won darinya dan belum dikembalikan. Itulah Chae-gyeong, sangat memalukan!

Mereka juga bilang kalau mereka sangat bersyukur tak sekelas dengan Chae-gyeong. Dan bertanya bagaimana bisa teman-teman Chae-gyeong tahan ada disisi Chae-gyeong. Yang lainnya menjawab, sebenarnya teman sekelasnya juga tak menyukai Chae-gyeong. Dia dengar Chae-gyeong sangat sensitive. Tindakan bodohnya itu benar-benar sangat mengganggu Putra Mahkota.

Chae-gyeong merasa sangat sedih mendengarnya. Badannya berubah jadi lemas karena mendengar kata-kata itu. Chae-gyeong terduduk di toilet. Kemudian Chae-gyeong melihat tulisan di dinding toilet. ‘Cara mudah untuk menghadapi hidup yang sulit’.

Shin sedang menikmati kesenian tradisional Thailand yang disuguhkan untuknya. Kasim Kong bilang, dia sudah mengatur pijat relaksasi untuk Shin setelah acara ini berakhir. Pijat tradisional Thai mungkin akan bisa membantu menghilangkan rasa capek di tubuh Shin. Tapi Shin bilang dia tak suka orang lain menyentuh tubuhnya.

Kasim Kong meminta maaf karena tak tahu hal itu. Dia pikir Shin pasti lelah karena jadwal yang sangat padat itu. Dia akan lebih mengerti apa saja yang tak disukai oleh Shin. Kasim Kong pun undur diri dari hadapan Shin.

Shin memandang ke sekelilingnya. Dia terkejut karena dia melihat Hyo-rin ada di dekat situ. Hyo-rin melambaikan tangannya ke arah Shin. Kemudian dia memberi isyarat pada Shin untuk meminta HP. Shin tersenyum senang melihat Hyo-rin.

Shin meminta HP dari ajudan-nya yang ada disampingnya. Ajudannya memberikan HP pada Shin. Shin mengirimkan sms pada Hyo-rin. Shin terkejut melihat Hyo-rin ada di Thailand. Shin menelan ludahnya. Dia merasa agak gugup. Kemudian dia menikmati lagi kesenian tradisional itu.

Chae-gyeong masih terus mencoba menghubungi Shin. Chae-gyeong masih ada di sekolah. Tapi yang didapatnya hanya lah kata-kata kalau Shin sedang sibuk. Saat Chae-gyeong menelpon, ada Yul berdiri di tangga di bawah Chae-gyeong.

Yul tahu Chae-gyeong sedang kecewa. Jadi dia berusaha untuk menhibur Chae-gyeong. Kemudian Chae-gyeong meminta Yul untuk membawanya pergi ke tempat yang Yul maksud tempo hari. Kemanapun juga tak apa-apa asal bukan ke istana. Chae-gyeong pergi bersama Yul. HP Chae-gyeong masih tertinggal di antara patung-patung yang menghuni ruang kesenian di sekolahnya.

Shin baru saja selesai mandi. Saat keluar dari kamar mandi, Kasim Kong menunjukkan jam khas Thailand yang sebenarnya milik museum Thailand. Tapi Shin malah cuek sambil keluar dan duduk di beranda kamarnya.

Kasim Kong menghampiri Shin di beranda. Shin bertanya ada waktu berapa jam lagi sebelum jadwal berikutnya. Kasim Kong berkata masih ada waktu 4jam 27menit lagi. Shin bilang kalau dia ingin menikmati spa. Shin bilang dia hanya ingin spa, tanpa pijat. Dan meminta Kasim Kong untuk mempersiapkannya. Kasim Kong mematuhinya.

Shin datang ke tempat spa. Seorang pelayan menunjukkan padanya ruangan spa yang ingin dipakai oleh Shin dan mempersiapkan kebutuhan Shin. Saat pelayan itu menjelaskan, Shin malah sibuk memperhatikan sekelilingnya. Shin menyuruh pelayan itu untuk diam saat Shin melihat jendela tanpa kaca. Dia kemudian keluar melalui jendela itu.

Shin kabur dari tempat itu dengan hati-hati. Dia merasa senang saat melihat Hyo-rin yang sedang duduk di sebuah bangku taman. Hyo-rin tak jauh beda dengan Shin. Dia juga senang bisa melihat Shin.

Shin mengamati sekelilingnya, dia menghampiri Hyo-rin lalu kemudian mengajaknya pergi menjauh dari tempat itu. Shin membawa Hyo-rin untuk duduk di sebuah bangku yang ada di sebuah taman. Shin hanya meletakkan tas Hyo-rin ke bangku, sementara dia masih tetap berdiri.

“Kau tak boleh ada di sini” kata Shin. “Aku juga tak menginginkannya, meskipun sekarang aku ada disini. Bawa aku pergi dari sini” pinta Hyo-rin. “Kemana?” tanya Shin. “Ke airport. Aku tak ingin tinggal lebih lama disini. Jika kau tak membawaku, aku akan tetap disini” kata Hyo-rin dengan dibumbui sedikit ancaman.

“Apa yang akan kau katakan tentang aku, itulah aku” kata Hyo-rin keras kepala. Shin duduk di bangku itu. Hyo-rin pun ikut duduk di sebelah Shin. “Kau tahu betapa bingungnya aku sekarang?” tanya Shin. “Ya, aku tahu. Aku tahu hal itu lebih dari siapapun. Itulah kenapa kita berkencan secara rahasia selama 2 tahun ini. Meskipun kata ‘aku mencintaimu’ terlontar ratusan kali, hal itu bisa hancur hanya dengan kata ‘putus’. Itulah cinta” jawab Hyo-rin.

Hyo-rin memandang Shin. Kemudian melanjutkan kata-katanya. “Aku sekarang tak ada artinya lagi untukmu kan?” tanyanya lagi. Shin menggenggam tangan Hyo-rin. “Ada apa sebenarnya denganmu?” tanya Shin. “Apa kau tak tahu? Hubungan kita sudah berakhir. Kita sudah tak ada artinya bersama lagi. Kemanapun kau pergi, selalu ada berita tentangmu. Kemanapun kau pergi, siapapun yang kau temui, apapun yang kau lakukan, appaun yang kau pakai, aku selalu saja bisa mendengar hal itu dengan jelas setiap saat” ceramah Hyo-rin.

“Meskipun aku sudah menutup mataku, menutup telingaku, aku masih tetap saja tahu apa yang sedang kau lakukan. Aku melihatmu di Koran, TV, dan hal itu membuatku gila. Aku hanya orang luar, yang hanya melihat satu hal. Tak bisakah kau mengerti bagaimana perasaanku? Dan kau bilang ini bukan aku? Jadi apa yang harus aku lakukan untuk menjadi diriku sendiri?” tambah Hyo-rin.

Hyo-rin menundukkan wajahnya, dia menangis. Shin mencoba meraih tangan Hyo-rin. Tapi Hyo-rin menepis tangan Shin. Lalu kemudian Shin bilang pada Hyo-rin untuk pergi dari tempat itu. Hyo-rin berhenti bersedih. Kemudian dia berkata pada Shin, dia belum pernah merasa jadi pacar Shin.

Hyo-rin bangkit dari tempat duduknya. “Pergilah, aku juga akan pergi” kata Hyo-rin. Shin memegangi tangan Hyo-rin. Dia mengambil tas Hyo-rin dari tangan Hyo-rin, kemudian mengajaknya pergi dari tempat itu.

Sekretaris Kim membawa tukang pijat ke hadapan Kasim Kong. Kasim Kong berkata kalau Pangeran baru saja membatalkan rencananya untuk dipijat. Saat sekretaris Kim menjelaskannya pada tukang pijat itu, Kasim Kong berpaling. Dia seakan melihat Shin naik kendaraan tradisional khas Thailand (semacam bemo) dengan seorang wanita berbaju orange dan memakai topi orange.

Di tempat lain, Chae-gyeong naik mobil berdua dengan Yul. Chae-gyeong merasa dia sangat nyaman bisa keluar dari istana seperti ini. Chae-gyeong mengucapkan rasa terima kasihnya pada Yul. Yul tersenyum senang mendengar penuturan Chae-gyeong.

Shin dan Hyo-rin berkeliling naik kendaraan itu. Sopirnya menyangka kalau Shin dan Hyo-rin sedang berbulan madu di Thailan. Dia memuji Shin dan Hyo-rin yang sungguh romantis. Sopir itu menawarkan apakah mereka berdua ingin pergi ke tempat lain sebelum pergi ke bandara. Tapi Shin bilang tak perlu dan meminta sang sopir melanjutkan perjalanan menuju bandara.

Shin menyebutnya dengan kata ‘pilot’. Orang itu merasa tersanjung karena Shin tahu kalau dia pernah bekerja di angkatan udara. Padahal Shin sebenarnya asal cuap aja. Karena senang, sopir itu menambah kecepatan laju kendaraannya hingga membuat Hyo-rin jatuh menimpa Shin. Shin kemudian malah menawarkan Hyo-rin untuk pergi ke pasar sebentar. Tentu saja Hyo-rin senang mendengarnya. Tanpa mereka sadari, ada 4 orang pengendara motor mengincar foto mereka berdua.

Mereka naik dua buah motot. Dan tepat ada di belakang kendaraan yang ditumpangi Shin dan Hyo-rin. Saat Hyo-rin berpaling ke belakang, dia merasa curiga pada orang-orang itu dan bertanya pada Shin, siapa mereka. Shin meminta Hyo-rin untuk tak melihat ke belakang. Shin bilang mereka itu, paparazzi.

Hyo-rin kaget mendengar penuturan Shin. Kemudian dia melepas topinya kemudian memakainya untuk menutupi wajah Shin. Sopir jengkel melihat ulah mereka, jadi dia berteriak. Kemudian Hyo-rin menyuruhnya untuk menambah laju kendaraannya untuk menghindari para wartawan itu. Terjadilah kejar-kejaran seru di jalanan di Thailand.

Sopir itu membawa kendaraannya ke dalam pasar. Hingga membuat orang-oramg kaget dan panik sampai jualan mereka berserakan dimana-mana. Hanya sesaat mereka berhasil lari dari paparazzi itu. Karena beberapa saat kemudian setelah mereka sampai lagi ke jalan raya, paparazzi itu tetap setia mengekor di belakang mereka. Karena itulah, sopir meminta bantuan teman-teman seprofesinya untuk membantunya menghindar dari kejaran para nyamuk pers itu. Dan mereka berhasil. Shin dan Hyo-rin tertawa senang melihatnya.

Sekretaris Kim datang dengan terburu-buru menuju kamar Shin. Sekretaris Kim berkata pada Kasim Kong, kalau Shin mungkin pergi mengelilingi jalanan ibukota. Dia belum bisa melacak keberadaan Pangeran Shin dengan pasti. Kasim Kong berkata untuk mengawasi jalur kepergian Shin. Sekretaris Kim mematuhinya. Dia juga bertanya apakah perlu melibatkan polisi lokal untuk mencari Shin. Kasim Kong berkata mereka tak perlu melakuakn hal itu. Mereka tak menginginkan Pangeran jadi berita utama, jadi mereka harus menyelesaikannya sendiri.

Di Istana Choi Sang-gung bicara dengan Park Sang-gung untuk menghadap ratu. Dia mengkonfirmasi kalau Chae-gyeong menghilang setelah sebelumnya dia ada di sekolah. Bahkan sampai sekarang, dia belum bisa menghubungi dan tahu dimana Chae-gyeong berada.

Ratu merasa kesal dengan ulah Chae-gyeong yang mirip seperti anak kecil. Ratu bertanya bagaimana dengan HP Chae-gyeong. Apakah mereka sudah berusaha untuk menghubunginya. Park Sang-gung berkata, HP Chae-gyeong ditemukan tertinggal di sekolahnya.

Ratu merasa khawatir kalau Chae-gyeong dibawa oleh orang jahat. Choi Sang-gung bilang dia masih belum mendapat konfirmasi. Tapi dia yakin situasinya tak segawat itu. Mereka juga sudah menghubungi keluarga Chae-gyeong. Choi-Sang-gung bilang, mereka pasti akan segera mendapat kabar baik. Ratu memerintahkan untuk mempercepat investigasi dan segera mencegah agar rumor itu tak meluas ke luar istana.

Di rumah, Ayah dan Ibu Chae-gyeong sibuk menelepon ke sana kemari untuk mengetahui keberadaan Chae-gyeong. Tapi sayang, hasilnya nihil. Chae-jun yang baru pulang sekolah ikut cemas memikirkan keberadaan kakaknya.

Chae-gyeong dan Yul tiba di suatu tempat. Shin dan Hyo-rin di Thailand pun tlah sampai ke sebuah pasar tradisional. Mereka berdua turun disitu. Mereka berkeliling pasar, lalu kemudian menikmati jajanan khas Thailand. Saat sedang asyik, tiba-tiba mereka melihat paparazzi itu lagi. Mereka-pun langsung kabur meninggalkan tempat itu.

Mereka berdua berhasil melarikan diri dengan masuk ke sebuah hotel kecil. Mereka tertawa senang karena berhasil lolos. Saat mengintip para wartawan itu, pemilik bertanya apakah mereka ingin menginap disana. Dan mereka berdua mengiyakan hal itu karena pada saat yang bersamaan, para pengejarnya sedang berjalan masuk ke hotel kecil tempat mereka berdua bersembunyi.

Hyo-rin dan Shin berada di dalam kamar yang mereka sewa. Mereka tersenyum senang. Shin mengamati perabot-perabot yang ada di dalam kamar itu. Mereka duduk di atas kasur. Saling berpandangan, dan karena sama-sama gugup, mereka saling menjauh.

Tiba-tiba Hyo-rin terlonjak kaget, naik ke atas kasur dan bersembunyi dibalik tubuh Shin karena dia melihat sesuatu. Hyo-rin minta Shin mengusir benda itu. Tapi Shin hanya diam karena sebenarnya dia juga takut pada kadal. Hyo-rin tertawa mendengarnya. Jadi kemudian dia memutuskan untuk turun dan mengusir kadal itu sendiri dengan memakai sapu yang ada disitu. Dan akhirnya dia sukses melakukannya.

Hyo-rin dan Shin langsung turun tempat tidur. Keduanya tersenyum senang. Tapi tiba-tiba datang kadal yang lain yang membuat Hyo-rin kaget dan panik sampai dia reflek lansung memeluk Shin. Saat tersadar, mereka berdua saling berpandangan penuh arti.

Chae-gyeong dan Yul juga sedang berduaan di sebuah rumah kaca. HP Yul berbunyi. Tapi Yul diam saja. Sementara itu, Chae-gyeong panik Dia tak bisa menemukan HP nya dimanapun.

Shin dan Hyo-rin berbelanja berdua di pasar tradisional di Thailand.

Chae-gyeong duduk berdua dengan Yul di rumah kaca itu. Chae-gyeong kagum dengan tanaman langka yang ditanam disitu. Sangat mengagumkan. Chae-gyeong senang melihat ada pohon yang bentuknya seperti vas bunga. Kata Yul, di Inggris, pohon itu disebut Pohon Botol. Ternyata dibawah pun ada nama pohon itu. Di Korea juga disebut Pohon Botol.

Shin naik angkot di Thailand bersama Hyo-rin. Hyo-rin menunjukkan topeng yang tadi dibelinya di pasar pada Shin. Dia bilang, dia akan memakai topeng dan berpura-pura semua masalah sudah diatasi saat ini. Selama 2 tahun ini Hyo-rin pasti juga memakai topeng. Shin tak mengerti maksud Hyo-rin. Kemudian Hyo-rin bilang, ini karena Shin tak pernah bisa melihat Hyo-rin yang sebenarnya. Hyo-rin bilang saat-saat itu, semuanya palsu. Hari ini, dia menjadi Min Hyo-rin yang sesungguhnya.

Hyo-rin juga berkata, bukankah hari ini Shin menonton tari tradisional Thailand. Apa Shin tahu arti dari tarian itu? Tarian La Ma Kya. Hyo-rin bercerita kalau tarian itu berarti, karena Raja Iblis, Pangeran Rama, sang pewaris tahta, terperangkap dalam situasi yang sulit.  Tapi saat itu, muncul kera yang muncul untuk menyelamatkan Pangeran Rama.

Topeng yang dipegang Hyo-rin adalah hadiah dari Dewa Kera. Saat Shin berada dalam kesulitan, topeng itu akan jadi petunjuk yang akan melindungi Shin. Shin tertawa senang mendengarnya. Hyo-rin merasa senang sekali. Min Hyo-rin akhirnya bisa melepas topengnya.

Saat angkot mereka berbelok di sebuah tikungan, seorang sopir di sebuah mobil limosin melihatnya. Jadi mobil itu langsung berpacu mengikuti mobil angkot yang membawa Shin dan Hyo-rin.

Di tempat lain, tempat konfrensi pers Pangeran Shin sudah ramai oleh orang-orang dan wartawan. Kasim Kong bingung karna Shin belum juga kembali. Sekretaris Kim mendekatinya dan berkata kalau dia tlah menemukal dimana Pangeran Shin. Kasim Kong lega mendengarnya. Shin sedang menuju bandara. Anak buahnya terus mengikuti Shin.

Seorang panitia acara melaporkan pada Sekretaris Kim kalau semuanya sudah siap. Dan meminta Sekretaris Kim untuk meninjau ulang persiapannya.

Di tempat lain, Choi Sang-gung datang ke badan intelejen istana dan bilang kalau Ratu mulai sangat khawatir karna tak bisa menemukan Chae-gyeong dimanapun.

Ibu Yul kaget saat mendengar dari informannya kalau Yul sedang berdua bersama Putri Mahkota. Dia meminta informannya untuk memastikan hal itu lagi. Dia bilang dia akan mengecek kebenarannya langsung. Ibu Yul meminta bantuan untuk mengecek keberadaan mereka dari sinyal HP mereka.  

Chae-gyeong hanya terdiam. Perasaannya tak karuan. “Jika surga ada, kau pikir surga itu bentuknya seperti apa?” tanya Yul memecah kesunyian yang ada. Chae-gyeong hanya memandangi Yul tanpa berkata apa-apa. “Kupikir yang paling penting di surga adalah pohon. Sekeliling tempat itu jadi hijau. Sebuah tempat yang penuh dengan cinta dan kedamaian” lanjut Shin. Chae-gyeong hanya mendesah tanpa berkata apa-apa.

Kemudian Yul bilang kalau dia membawa makan siang yang dibuatnya sendiri. Yul melangkah menuju bangku yang lain untuk mengambil kotak makan siangnya. Chae-gyeong terkagum-kagum melihat bekal makan siang yang cantik yang dibuat oleh Yul. Chae-gyeong sangat senang menikamatinya karna rasa kimbap itu enak. Dia malah bilang, apa sebenarnya Yul itu wanita? Yul tertawa mendengarnya.

Tak berapa lama kemudia, Chae-gyeong kembali lesu. Tak bersemangat untuk makan lagi. “Apa kau sangat bermasalah? Kau tak datang kesini untuk melihat Pohon Botol kan?  Apa karna hidup di istana sangat membosankan? Atau itu karna Shin?” tanya Yul. Chae-gyeong hanya memandangi Yul dan memandangi Yul.

“Si egois itu… Jika aku jadi dia, aku takkan meninggalkanmu sendiri” kata Yul sambil memegangi pundak Chae-gyeong untuk menghiburnya. Akhirnya tangis Chae-gyeong pun pecah. “Kau tak perlu menangis karna hal ini” pinta Yul. Tiba-tiba Chae-gyeong bersin. Chae-gyeong bertanya pada Yul, apa mungkin dia terkena flu?. Yul hanya tersenyum. Chae-gyeong bilang, harusnya dia tak kabur dari istana. Tapi dia mengucapkan terimakasih karna Yul tlah membawanya ke tempat itu.

Di bandara Thailand, Hyo-rin sudah mendapatkan tiketnya untuk pulang. Hyo-rin bilang pada Shin, apa yang belum pernah dilakukan Shin sebagai pacarnya sudah Shin lakukan hari ini. Shin pasti sangat lelah. Hyo-rin tak mengenali Shin sebelumnya. Tapi sekarang Hyo-rin tahu, Shin memang Pangeran sejati. Shin tersenyum senang. Shin membelai topeng pemberian Hyo-rin.

Hyo-rin mencium Shin. Shin membelalakkan matanya. Hyo-rin mengucapkan terima kasih. Hyo-rin berkata kalau waktu yang dihabiskannya bersama hari ini, takkan pernah dilupakannya. Hyo-rin berpamitan pada Shin, lalu melangkah pergi ke dalam. Shin memandangi kepergian Hyo-rin. Kemudian melambaikan tangannya pada Hyo-rin. Setelah itu, Shin melangkah pergi. Ada rasa bersalah di wajahnya.

Chae-gyeong masih ada di rumah kaca bersama Yul. Chae-gyeong bilang pada Yul, kalau dia sangat menyukai Shin. Dia jatuh cinta pada Shin. Perasaan itu datang secara alami dan bukan karna siapa Shin. Hidup di tempat yang tak dikenal, merasa kesepian karna jauh dari keluarga, dan dengan kepribadiannya, Chae-gyeong mudah sekali jatuh cinta dengan orang yang ada di dekatnya. Mungkin hal itu lucu. Tapi kalau dia bertemu Yul terlebih dahulu, dia pasti akan jatuh cinta pada Yul. Yul hanya memandangi Chae-gyeong dengan kecewa.

Chae-gyeong melanjutkan kata-katanya, Tapi disisi lain, cinta itu sangat melelahkan. Chae-gyeong bilang dia tak bisa mencintai orang yang jauh darinya. Selama ini Shin selalu ada di dekatnya. Sering ngobrol berdua bersamanya. Chae-gyeong jatuh cinta pada orang yang selama ini selalu bersamanya. Kalau dibandingkan dengan hubungan yang normal, kisah cintanya terasa lebih melelahkan. Chae-gyeong meminta maaf karna tlah membuat Yul terlibat dalam masalahnya.

Yul bertanya apa Chae-gyeong merasa lega setelah curhat padanya. Chae-gyeong mengiyakan. Yul lebih bersahabat dan lebih bijaksana daripada Shin. Yul tersenyum kecut. Tapi dia mengucapkan terimakasih untuk pujian Chae-gyeong. Chae-gyeong tersenyum memandangi Yul yang duduk di sampingnya.

Bersambung…………….