Jumat, 28 Desember 2012

Princess Hours Episode 5

Shin dan Chae-gyeong sedang sarapan berdua seperti biasanya. HP Shin berbunyi. Shin mengangkatnya. Dia bicara di telepon dengan sesekali memandangi Chae-gyeong. Saat selesai, Chae-gyeong bertanya apa Hyo-rin yang menelpon, dengan enteng Shin mengiyakan. Chae-gyeong bilang, Shin tak perlu menyembunyikannya. Hyo-rin kan juga teman Shin. Jadi kalau menelpon tak apa-apa.

Shin bertanya apa maksud Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang, dari tadi Shin menelpon sambil melmandangi Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang kalau dia tak apa-apa kalau Shin menelpon Hyo-rin. Shin menyela kata-kata Chae-gyeong. “Aku menikah atau tidak, aku akan mengangkat siapa saja yang menelponku tanpa memikirkan apa yang ada dipikiran orang lain. Alasan kenapa aku memandangimu karna ada nasi tertinggal di pipimu” kata Shin. Chae-gyeong kaget mendengarnya dan segera mengelap sisa nasinya. Hihihihihi………..

“Apa kau merasa pernikahan ini terlalu berat untukmu? Meskipun kau menikahiku karna ingin pindah ke istana Chang-deok, tapi apa artinya aku untukmu? Katakanlah didepanku. Aku adalah barang yang bagus yang bisa digunakan untuk pertukaran. Aku merasa tak senang setelah itu” kata Chae-gyeong. Shin tertawa meremehkan.

“Apa kau sadar mengatakan hal itu?” tanya Shin. “Apa maksudmu?” Chae-gyeong balik bertanya. “Untuk masuk ke kelas utama ini, kau menikahiku karna uang. Kudengar kau meminta pada Ibuku untuk mengatasi masalah keuangan di keluargamu. Bukankah itu berarti kau menikahiku karna uang” sindir Shin dengan sinis. Chae-gyeong sedih sekali mendengarnya.

“Ah..jangan salah kira. Aku melihat adikmu juga mengatakan hal itu… Kudengar kau adalah gadis dengan pemikiran yang sederhana. Aku tak pernah tahu kalau kau bisa begitu pintar menghitung. Kudengar kau sudah menerima dokumen dari Akuntan Istana. Apa yang kau rasakan saat melihat jumlah uangmu?” Shin tambah menyindir dengan tajam.

“Kata-katamu benar-benar jahat!” kata Chae-gyeong. “Kenapa? Apa kau marah? Tak perlu merasa seperti itu dan habiskan saja pencuci mulutmu” jawab Shin. Chae-gyeong mendengus kesal. “Sepertinya kau benar-benar marah. Kenapa? Apa kau begitu marah?” tanya Shin sambil tersenyum mengejek. “Jika bisa, aku akan menjahit mulutmu” kata Chae-gyeong sambil bangkit dari tempat duduknya. “Baiklah. Memang benar. Aku menikahimu karna uang. Apa kau puas sekarang? Aku merasa senang saat aku melihat buku tabunganku. Saat aku melihat buku itu, aku masih berpikir satu hal. Sejak kau memberikan cap padaku sebagai cewek matre, aku mungkin akan menguasai seluruh hartamu dan membantu keluargaku yang miskin” Chae-gyeong membalikkan badannya untuk menghapus airmatanya.

“Kau tahu Lee Dong-wan dalam film “The Trap of Youth?” dia itu yang aku jadikan sebagai patokan. Apa kau tahu? Bertemu seorang suami yang baik dan terus menangkapnya. Untuk merubah statusku dari wanita yang miskin menjadi seseorang yang terpenuhi kebutuhannya dan kemudian merencanakan sesuatu untuk menguasai hartanya. Kau harus berhati-hati mulai sekarang. Dasar kau tak punya hati!” maki Chae-gyeong sambil meninggalkan tempat itu.

Shin hanya bisa memandangi kepergian Chae-gyeong dengan bingung. Sementara itu, Chae-gyeong masuk ke kamarnya dan memaki sambil menangis di dalam. Kedua dayang Chae-gyeong dan Asisten Shin memandang dengan sedih. Chae-gyeong hendak keluar, tapi dihentikan oleh Choi Sanggung. Chae-gyeong bilang dia akan segera kembali hingga Choi Sanggung pun membiarkannya pergi.

Asisten Shin menghampiri Shin dan bersiap untuk mengatakan jadwal Shin berikutnya. Tapi Shin malah bertanya tentang film yang tadi disebut oleh Chae-gyeong. Asisten Shin berkata dia tahu drama itu.

Sementara itu Chae-gyeong berjalan sambil mengomel dan mengata-ngatai Shin. Tiba-tiba dia menghentikan langkahnya karna melihat seseorang yang dia kenal. Ternyata orang itu adalah Yeol. Mereka pun duduk dan ngobrol berdua. Chae-gyeong kaget karna melihat Yeol di istana. Yeol bilang dia juga salah satu anggota keluarga kerajaan. Hanya saja dia tak bisa datang saat pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih karna Yeol sudah membawakannya permen dan coklat waktu itu. Bukannya mengerti, Yeol malah bingung. (episode 3).

Di kamarnya, Shin dan asistennya menonton film yang dimaksud oleh Chae-gyeong. Shin merasa ngantuk sekali saat menontonnya. Sementara Chae-gyeong sendiri sedang ngobrol berdua dengan Yeol.

“Apa yang akan teman-teman sekelas katakan. Dengan tiba-tiba….aku jadi seorang Putri Mahkota. Aku jadi takut mereka semua akan mengutukku. Saat ketemu tiga orang teman baikku, sebuah lubang tiba-tiba muncul di kepalaku” ungkap Chae-gyeong. “Yah, anggap saja ada seekor kucing jenis baru yang muncul. Bagaimana wajah itu mampu memikat Putra Mahkota. Berhentilah berkata seperti itu. Sejujurnya, apa kau percaya pada omongkosong seperti itu?” tanya Yeol sambil tertawa.

Chae-gyeong malah malu mendengar kata-kata Yeol. “Akan sangat mudah menyukaimu karna kau itu imut. Meskipun sebenarnya kau bukan tipe gadis yang disukai Shin” kata Yeol. Chae-gyeong tersenyum tipis. Tiba-tiba HP Chae-gyeong berbunyi. Chae-gyeong pikir Choi Sanggung yang menelpon karna dia harus segera belajar. Shin yang menelpon. Tapi dengan malas-malasan Chae-gyeong menjawabnya.

“Kenapa? Apa kau menelpon karna kau ingin mencari tahu apa aku mencuri sesuatu?” tanya Chae-gyeong sambil langsung menutup telpon Shin. Yeol tersenyum dan berkata pada Chae-gyeong. “Apa kau siap mengalami pertengkaran antar pasangan? Sepertinya hidup kalian akan sangat menarik”. “Hidup menarik apa?” kata Chae-gyeong tersenyum masam. “Bukankah kau harus pergi?” tanya Yeol. Tapi Chae-gyeong enggan beranjak dari tempat itu.

Yeol membujuk Chae-gyeong untuk cepat pergi karna Shin adalah tipe cowok yang gampang marah kalau harus dipaksa menunggu. Dengan berat hati Chae-gyeong terpaksa pulang kembali ke kediamannya.

Ternyata Shin sudah menunggunya. Chae-gyeong kaget melihat Shin sudah berbaring di dalam ruangannya. Wajah Chae-gyeong jadi tambah manyun. “Bagaimana kabarmu  Nn. Lee Dong-wan? Orang itu benar-benar buruk” komentar Shin yang baru saja selesai menonton film  “The Trap of Youth”. Chae-gyeong masuk ke dalam.

“Kenapa? Orang itu sama denganku. Menikah hanya untuk mendapatkan uang” kata Chae-gyeong tertunduk sedih. Shin bangkit dari kursi tempatnya berbaring. “Berhentilah berkata seperti itu. Sekarang aku sangat mengerti arti film itu setelah aku menontonnya” kata Shin sambil berdiri menghampiri Chae-gyeong.

“Sebenarnya aku berpikir untuk mengundangmu makan malam. Bagaimana? Kau bisa mengundang teman-temanmu sebanyak yang kau mau” tanya Shin. “Apa kau sedang membodohi dan bermain-main denganku sekarang?” Chae-gyeong malah marah mendengar kata-kata Shin. Shin mencoba mendekati Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong malah mendorong Shin untuk menjauh darinya. “Iya. Aku hanya bercanda. Kau ingin pulang ke rumah kan? Haruskah aku mengabulkannya? Atau haruskah aku mengundang orangtuamu kemari?” tanya Shin lagi. Chae-gyeong mengangkat wajahnya. Chae-gyeong mengangguk mengiyakan.

“Baiklah. Akan kulakukan jika sudah kulihat bagaimana tingkah lakumu dulu” kata Shin. Chae-gyeong jadi tambah marah karnanya. Dia memegang kerah baju Shin. “Apa katamu? Aku hampir gila memikirkan mereka. Kenapa kau harus bilang kalau aku menikah denganmu karna uang untuk membuatku marah? Dan sekarang kau membodohiku dengan mengatakan “Aku akan membiarkanmu pulang ke rumah”. Kau benar-benar orang yang jahat” kata Chae-gyeong sambil memukuli Shin karna kesal merasa dirinya dipermainkan oleh Shin.

Shin mencoba melepaskan diri dari Chae-gyeong. Dia menggenggam tangan Chae-gyeong yang berusaha memukulnya. Kemudian meninggalkan Chae-gyeong. Sebelumnya dia sempat berkata apakah Chae-gyeong sudah siap untuk ujian besok pagi. Tentu saja Chae-gyeong kaget karna dia sama sekali tidak ingat kalau besok mereka harus menghadapi ujian.

Paginya, Chae-gyeong dan teman-temannya mengerjakan test. Chae-gyeong sibuk mencontek jawaban Yeol yang duduk tak jauh darinya. Setellah Yeol, giliran Kang-hyeon yang dimintai jawaban. Tapi Kang-hyeon sama sekali tak bereaksi. Gwali kelasnya mengomeli karna merasa Chae-gyeong sebagai seorang calon Ratu harusnya memberi contoh yang baik pada rakyatnya. Tak berapa lama kemudian, wali kelas meminta mereka semua untuk mengumpulkan jawaban test.

Sementara itu di ruangan lain, Hyo-rin mulai belajar balet lagi. Sementara Shin dan teman-temannya sedang asyik bercanda di luar ruangan kelas mereka. Tiba-tiba Hyo-rin muncul dari tangga bawah. Teman-teman Shin menyapa Hyo-rin. Hyo-rin mencoba tersenyum pada Shin. Shin hanya tersenyum tipis. Hyo-rin pun [pergi meninggalkan mereka.

Pulang sekolah, Shin mendapat laporan dari para pengawalnya kalau Chae-gyeong tak ditemukan dimana-mana. Ternyata Chae-gyeong dan ketiga sahabatnya sedang asyik menikmati Ttokbokki di pinggir jalan dan mereka merasa senang karna berhasil mengecoh para pengawal Shin dan pengawal Chae-gyeong. Tiba-tiba Yeol datang menyapa mereka.

Mereka berkata Yeol hebat karna bisa mengenali mereka. Kemudian mereka meminta Yeol ikut makan Ttokbokki bersama mereka. Tapi Yeol merasa aneh karna ini adalah kali pertama Yeol memakan Ttokbokki. Mereka tahu Yeol lama meningggalkan Korea. Jadi mereka maklum kalau Yeol merasa aneh. Tiba-tiba salah satu teman Chae-gyeong berseru karna ada masalah besar. Ternyata Shin meninggalkan Chae-gyeong di sekolah. Shin dan para pengawal sudah kembali meninggalkan sekolah.

Di istana, Ratu sedang mengobrol bersama Choi Sanggung dan membicarakan tentang pendidikan Chae-gyeong yang sama sekali belum mengalami kemajuan. choi Sang-gung berkata kalau Chae-gyeong memang tidak pintar dalam pendidikan. Tapi dia pandai dalam hal maen catur dan juga beberapa seni.

Selesai belajar hari itu, Chae-gyeong menemui Shin dan berkata kalau dia senang bahwa hari ini orangtuanya akan pergi ke istana. Chae-gyeong memohon pada Shin agar membantunya mengerjakan tugas supaya dia bisa cepat selesai belajar hari ini dan bisa cepat bertemu dengan orangtuanya. Tapi Shin dengan dingin menolaknya. Tentu saja Chae-gyeong kesal dengan penolakan Shin.

Orangtua Chae-gyeong datang dan ngobrol bersama Ibu Suri, Raja dan Ratu. Raja meminta maaf karna baru sempat mengundang mereka ke istana sekarang. Tapi kedua ortu  Chae-gyeong berkata taka pa-apa. Suatu kehormatan bisa datang ke istana. Kelakuan Ayah Chae-gyeong yang hampir mirip dengan Chae-gyeong membuat Ibu Suri menahan tawanya berkali-kali demi menjaga kesopanan.

Sementara itu, Chae-gyeong gelisah dalam belajarnya. Dia memandangi HP-ny dan Choi Sang-gung yang melihatnya jadi marah karna Chae-gyeong tak konsentrasi belajar.

Ayah dan Ibu Chae-gyeong sedang menunggu Chae-gyeong dan merasa tak senang karna Chae-gyeong tak datang-datang. Apalagi berkali-kali Ibu Chae-gyeong ditelpon oleh klien-nya. Saat Ibunya ingin pulang, Ayahnya mencegahnya. Tapi karna Chae-gyeong kelamaan, mereka pun akhirnya pulang juga.

Selesai belajar, Chae-gyeong berlari-lari pulang dengan tergesa-gesa. Tapi saat dia masuk ke dalam kamarnya, yang ada hanyalah kimchi buatan Ayahnya yang sangat disukai Chae-gyeong yang dibawa oleh ortunya. Tentu saja Chae-gyeong yang sangat kangen pada kedua ortunya sangat sedih karna mereka tak bisa bertemu. Chae-gyeong pun menangis sedih.

Chae-gyeong keluar dan marah saat bertemu dengan Shin. “Kau ini menantu macam apa. Membiarkan Ayah dan Ibuku yang ingin bertemu denganku pergi begitu saja. Tiap hari hanya bisa sok keren saja. Aku sangat rindu orangtuaku” kata Chae-gyeong. tangisnya pecah lagi. “Kami tak tahu kalau mereka pergi. Mereka sama sekali tak menelpon. Pangeran bilang kau mungkin tak nyaman jika pangeran ada di sekitar anda. Jadi dia menunggu hingga anda selesai bertemu dengan orangtua anda. Itulah kenapa pangeran baru muncul sekarang”ungkap Pengawal Shin.

Ada sedikit penyesalan di wajah Chae-gyeong karna tlah salah menuduh Chae-gyeong. “Daripada mengatakan hal yang tak berguna, katakana saja padanya, apa jadwal dia selanjutnya” kata Shin yang agal tersinggung. Shin juga memerintahkan mengirim barang yang di bawanya ke rumah ortu Chae-gyeong. Shin pergi meninggalkan Chae-gyeong. Chae-gyeong hanya bisa memandangi Shin dengan menyesal.

Chae-gyeong menemui Shin di kamarnya. Walaupun Shin tak menghiraukan panggilannya, tapi Chae-gyeong masuk begitu saja dan duduk di depan Shin. Chae-gyeong mengambil Edward, teddy bear Shin dan menimang-nimangnya. Shin asik dengan CD Player sambil membaca bukunya dan tak menghiraukan kedatangan Chae-gyeong.

“Apa kau masih menyukai Min Hyo-rin? Jika keluargaku tak pernah membuat perjanjian seperti ini, kita takkan menikah. Dan mungkin kau akan menikah dengannya kan? Karna dia satu-satunya yang kau suka. Jika seperti itu, kau pasti akan sangat bahagia karna menikah dengannya sekarang. Sepertinya aku ini hanya benalu yang tumbuh di antara kalian berdua. Dan aku merasa bersalah padanya. Tapi saat aku berpikir kau menikah dengannya, aku merasa sangat sedih. Aku ini aneh kan? ” kata Chae-gyeong. 

Chae-gyeong menghentikan kata-katanya karna Shin menutup bukunya dengan  keras. Chae-gyeong memandangi Shin. Shin melepas headsetnya dan berkata kalau Shin ingin pergi ke belakang. Chae-gyeong mengambil CD Player Shin. “Aku penasaran, sebenarnya dia mendengarkan musik macam apa” kata Chae-gyeong.

Betapa terkejutnya Chae-gyeong saat membuka CD Player Shin karna ternyata tak ada kaset CD di dalamnya. Bahkan CD Player itu tak dilengkapi dengan Radio. Tentu saja Chae-gyeong panic. Jadi tadi Shin mendengar apa? Jangan-jangan Shin mendengar semua kata-kata yang diucapkannya tadi. Chae-gyeong jadi panik dan salah tingkah. Chae-gyeong langsung lari pulang ke kamarnya.

“Kau mau pergi kemana” tegur Shin saat Chae-gyeong berlari pergi. Chae-gyeong bilang tak apa-apa, dia hanya ingin pulang. Ada rona sedih di wajah Shin saat Chae-gyeong pergi.

“Aku memalukan sekali. Sekarang apa yang harus aku lakukan?” kata Chae-gyeong di kamarnya. Chae-gyeong langsung menelpon Kang-hyeon dan menceritakan semuanya. “Dia mendengarkan kata-katamu dan berpura-pura bahwa dia tak mendengar apapun?” tanya Kang-hyeon. “Rasanya sebentar lagi aku akan jadi gila. Dari ekspresinya, aku yakin dia dengar” curhat Chae-gyeong. Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak… mungkin dia tak dengar apapun. Yang jelas aku tak bilang ‘aku suka padamu’. “ kata Chae-gyeong lagi.

“Dasar bodoh. Itu sama saja. Kau pasti benar-benar menyukai dia. Aigo…..kau sama saja dengan cerita di buku yang sedang kubaca sekarang. Dimana seseorang yang kawin kontrak pada akhirnya mereka akan saling jatuh cinta” kata Kang-hyeon.

Chae-gyeong mencoba mencari ketenangan di depan kamarnya. Tapi  pikirannya sungguh tak karuan. Tiba-tiba Yeol menghampirinya. “Sepertinya ada hal berat yang sedang kau pikirkan” kata Yeol. “Kau baru saja mengucapkan salam untuk Ibu Suri?” tanya Chae-gyeong. “Ya. Karna itulah aku tahu kalau minggu depan adalah ultah Shin” kata Yeol. “Ulangtahun?” tanya Chae-gyeong. “Apa kau tak tahu? Pestanya biasanya diadakan di pulau Jeju dan dia akan mengundang kami semua untuk datang. Kenapa ini. Masak Putri Mahkota tak tahu tentang hal ini?” tanya Yeol heran.

Hari ulang tahun Shin. Seperti yang Yeol katakan, pesta itu dilagsungkan di Pulau Jeju. Shin masuk ke dalam ruangan diikuti oleh Chae-gyeong. teman-teman Shin juga datang. Dan mereka membicarakan tentang hyo-rin. Tentu saja Chae-gyeong kecewa karnanya. Apalagi Hyo-rin berdandan dengan sangat anggun. Chae-gyeong tambah sedih melihatnya. Apalagi saat suaminya berjabat tangan dengan Hyo-rin. Tapi Chae-gyeong tak bisa berbuat apa-apa. Hanya Yeol yang terus memperhatikan raut wajah sedih Chae-gyeong.

Chae-gyeong ngobrol berdua dengan Yeol sementara Shin asyik bersama Hyo-rin dan teman-temannya. Chae-gyeong berkata, Hyo-rin itu gadis paling cantik di sekolah mereka. Saat mereka sedang asyik mengobrol, tiba-tiba HP Yeol berbunyi. Ibu Yeol yang menelpon dan bertanya apa Yeol sudah sampai di Jeju. Ibunya bilang dia sedang mengatur apartemen mereka dan kemudian memutuskan obrolan di telpon saat ada tamu penting yang datang.

Tamu Ibu Yeol adalah teman baik Ayah Yeol. Mereka berdua merencanakan untuk membuat skandal tentang keluarga istana yang akan membuat mereka malu lalu kemudian merebut tahta dari tangan mereka. Semua sudah dipersiapkan dengan baik.

Sementara itu, beberapa wartawan mencoba masuk ke area pesta ultah Shin dengan cara meramal sebagai tukang sayur yang datang untuk mengantarkan sayuran. Mereka sudah siap dengan kamera mereka untuk mencari berita.


Chae-gyeong mengambil makanan dan lagi-lagi bertemu dengan Hyo-rin. Hyo-rin bertanya apa Chae-gyeong senang tinggal di istana, Chae-gyeong hanya bisa diam. Saat duduk bersama-sama, ternyata Hyo-rin mengambil makanan itu untuk Shin. Tentu saja Chae-gyeong tambah sedih melihat keakraban mereka berdua.

Sementara itu, tiga orang sahabat Chae-gyeong mencoba menyusup masuk ke area pesta. Mereka mengendap-endap dan menyaksikan acara ultah Shin. Mereka heran melihat Yeol ada di pesta Shin. Tapi karna berteriak, mereka ketahuan para penjaga lalu kemudian ditangkap. Sementara itu, para wartawan sibuk mengabadikan kemesraan antara Shin dan Hyo-rin.

Chae-gyeong hanya berdua bersama Yeol. Untung saja masih ada Yeol yang menemani Chae-gyeong karna Chae-gyeong tak tahu Shin ada dimana. Tiba-tiba teman-teman Shin datang dan menyuruh Yeol pergi karna Shin mencarinya. Teman-teman Shin mengerjai Chae-gyeong yang tak bisa bahasa Inggris. Hyo-rin juga ada di antara mereka. Mereka mengatakan kalau Chae-gyeong adalah bagian yang menyenangkan dari pesta ini. Chae-gyeong yang tak paham apapun hanya bisa diam saja saat mereka tertawa-tawa mengejeknya dengan memakai bahasa Inggris.

Sementara itu, Shin ternyata sedang mandi di sauna berdua dengan Yeol. Yeol berkata kalau daritadi Chae-gyeong mencarinya. Kenapa Shin tak bilang kalau dia ada disini.  Ini pesta pertamanya. Harusnya Shin selalu ada di dekatnya. Shin itu putra mahkota dan Chae-gyeong putrid mahkota. Harusnya di saat-saat seperti ini, Shin harus ada di dekat Chae-gyeong.

Pengawal kerajaan mengiinterogasi teman-teman Chae-gyeong. mereka tak percaya saat teman-teman Chae-gyeong bilang kalau mereka bertiga adalah sahabat putri mahkota. Tentu saja Chae-gyeong segera dipanggil dan membebaskan mereka. Tentu saja mereka sangat senang.

Chae-gyeong bertanya kenapa mereka bisa ada disitu, mereka bilang, mereka kan penggemar keluarga istana. Jadi apapun yang berhubungan dengan keluarga istana, tentu saja mereka tahu. Chae-gyeong bertanya kenapa Kang-hyeon yang biasanya tak peduli ikut datang. Dengan gugup Kang-hyeon berkata kalau dia hanrus mengawasi kedua temannya yang tak pernah bertindak normal. Hehehe…….

Yeol juga ikut menyusul Chae-gyeong. Yeol bilang sekarang saatnya acara buka kado. Jadi Chae-gyeong harus ada disana karna Chae-gyeong itu Putri Mahkota. Tapi Chae-gyeong agak ragu untuk pergi karna teman-temannya tak mungkin bisa ikut pergi bersamanya. Apalagi mereka terus saja memegangi tangan Chae-gyeong untuk tidak meninggalkan mereka di situ.

Yeol tahu apa masalah mereka dan berkata agar Chae-gyeong membawa teman-temannya juga. Tak apa karna mereka kan juga teman sekelas Yeol. Tentu saja mereka semua senang sekali mendengarnya. Kang-hyeon bertanya apa benar Yeol itu juga seorang pangeran. Chae-gyeong dengan gugup mengiyakan.

Hyo-rin menghadiahi Shin MP3 Player. Shin senang menerimanya. Sementara itu, Chae-gyeong menghadiahi Shin sepasang sepatu. Teman-teman membandingkan hadiah Chae-gyeong dengan hadiah dari Hyo-rin. Shin jadi malu karnanya. Tentu saja Chae-gyeong sedih melihatnya. Teman-teman Chae-gyeong juga tak habis pikir kenapa Chae-gyeong menghadiahi Shin sepatu murahan. Chae-gyeong meminta mereka berhenti bercanda karna dia juga sudah sangat malu tadi di hadapan teman-teman Shin.

Chae-gyeong dan teman-temannya menghampiri Shin karna teman-teman Chae-gyeong juga membawa hadiah untuk Shin. Shin sedang asyik mendengarkan mp3 barunya. Chae-gyeong duduk di sebelah Shin. Tapi Shin tak begitu mempedulikan mereka. Apalagi saat teman-teman Shin datang dan berkata pada Chae-gyeong, kalau yang di duduki Chae-gyeong itu tempat Hyo-rin. Chae-gyeong minta maaf dan segera mengajak teman-temannya pergi.

Malam hari, Kang-hyeon menasehati Chae-gyeong di tepi kolam. Kenapa Chae-gyeong diam saja saat teman-teman Shin mengusirnya. Tempat di sebelah Shin itu, tentu saja tempat Chae-gyeong karna Chae-gyeong itu istri Shin. Tapi kenapa Chae-gyeong membiarkan mereka menang. Chae-gyeong berkata. Mungkin mereka pikir Hyo-rin itu jahat. Tapi sebenarnya Chae-gyeong lah yang jahat. Teman-teman Chae-gyeong tak terima kalau Chae-gyeong menganggap dirinya sendiri jahat. “Putri Mahkota adalah orang yang sangat baik” protes mereka.

“Sejak awal, Hyo-rin itu pacar Shin. Dia bahkan sudah pernah dilamar oleh Shin” kata Chae-gyeong. Tentu saja teman-temannya kaget mendengarnya. “Bukan..bukan itu maksudku. Min Hyo-rin sangat mengerti Shin. Apa yang Shin suka, apa kebiasaan Shin. Sedangkan aku tak tahu apapun tentang Shin” kata Chae-gyeong dengan sedih. Salah satu teman Chae-gyeong mengiyakan perkataan Chae-gyeong dan berkata Shin dan Hyo-rin memang sangat cocok.

“Itulah kenapa, aku bilang akulah yang jahat karna tlah memisahkan mereka. Itulah kenapa aku tak mau bertengkat dengan mereka” ungkap Chae-gyeong dengan sedih. Kang-hyeon tak suka melihat Chae-gyeong sedih. Tiba-tiba Yeol menyapa mereka. “Hei, gadis-gadis abad 21. kenapa kalian terlihat sangat menyedihkan? Apa pestanya tak menyenangkan?” tanyanya. Mereka berempat terkejut dan berbalik memandangi Yeol yang sedang duduk di atas ayunan di belakang mereka.

Chae-gyeong yang sedih bermain air kolam. Chae-gyeong tak sadar saat Yeol mengendap-endap menghampirinya. Kang-hyeon dan teman-temannya melihat Yeol. Tapi Yeol meminta mereka untuk tutup mulut. Yeol menyeburkan Chae-gyeong ke kolam yang ternyata dangkal. Tentu saja Chae-gyeong berteriak karna kaget. “Apa-apaan kau ini, Yeol-Gun. Kalian pikir ini lucu ya!” kardik Chae-gyeong sambil menarik teman-temannya ke dalam kolam. Dan tentu saja Chae-gyeong juga menarik Yeol masuk ke kolam.

Mereka berteriak-teriak dan tertawa di dalam kolam. Shin yang sedang asyik membaca mendengar kegaduhan tawa mereka. Dia membuka kembali hadiah Chae-gyeong dan membelai dengan sayang hadiah sepasang sepatu yang diberikan Chae-gyeong kemudian mencoba memakainya. Dia terkejut saat tiba-tiba Hyorin datang dan duduk di sampingnya.

Hyo-rin agak kecewa melihat Mp3 darinya tergeletak begitu saja di samping Shin. Hyo-rin bertanya apa Shin sudah memakai Mp3 darinya, Shin bilang dia belum mencobanya. Kemudian Hyo-rin memasangkan headset di telinga Shin dan mereka mendengarkan musik berdua tanpa tahu kalau ada wartawan yang mengabadikan kemesraan mereka.

Tengah malam, Shin dan Chae-gyeong sudah ada di istana. “Ini pertama kalinya aku pergi ke Pulau Jeju, kenapa kita harus kembali cepat-cepat di tengah malam. Apa kereta kencananya akan berubah jadi labu dan Cinderella akan berubah jadi gadis miskin lagi?” protes Chae-gyeong. “Hei. Kupikir kau kebanyakan minum air dan lupa pada satu hal. Memberi salam pada para Tetua di pagi hari adalah jadwal terpenting kita. Apa kau ingat itu?” timpal Shin. “Aku lupa semua tentang itu. Besok itu hari Minggu dan aku bahkan tak bisa tidur larut malam” lanjut Chae-gyeong lagi. Shin hanya bisa mendesah kesal mendengar kata-kata Chae-gyeong.

“Karna aku tak bisa tidur besok, lebih baik aku tak tidur sekalian” kata Chae-gyeong.

Shin tidur di kamarnya. Tapi tidurnya pun tak tenang. Dia membuka hadiah dari teman-teman Chae-gyeong. yang berisi sebuah kalung. Sementara itu, Hyo-rin sedang duduk di kamarnya dan memikirkan Shin. Dan Yeol yang juga belum tidur memandangi jendela kamarnya. Chae-gyeong yang bilang kalau dia takkan tidur sedang duduk di tepi tempat tidurnya. Kemudian tak sengaja dia melihat Shin yang sedang duduk di kursinya sambil tersenyum.

Bersambung……………..

Princess Hours Episode 4

Telepon di apartemen Yeol berdering. Yeol yang baru saja pulang berbelanja bergegas untuk mengangkatnya. Ternyata Ibunya yang menelpon. Ibunya bilang dia menyaksikan upacara pernikahan Shin melalui siaran tv. Ibunya bertanya kenapa dia tak melihat Yeol ada di antara mereka. Yeol bilang pasti akan susah mencari sebuah jarum yang terjatuh di lautan luas. Ibunya tertawa mendengarnya. Ibunya bilang kalau besok dia akan meninggalkan Inggris. Yeol senang sekali mendengarnya dan mencatat jadwal kepulangan ibunya agar dia tak lupa.

“Bersabarlah sebentar lagi, Yeol. Kita tunjukkan pada mereka yang tlah membuang kita bahwa kita masih hidup dan baik-baik saja. Yang telah membuat kita menderita, sementara mereka hidup dengan nyaman. Ini saatnya bagi kita untuk menunjukkan pada mereka agar mereka bisa merasakan penderitaan kita hingga menangis darah. Jangan khawatir, Yeol. Ibu akan mengatasi semuanya. I miss u” ucap Ibu Yeol dengan dingin. “I miss u too” jawab Yeol yang sedari tadi hanya diam sambil menutup teleponnyaa.

Putra mahkota hidup di istana bagian timur yang terbagi menjadi dua tempat. Yang aslinya hanya ada bangunan Sa Yang Dang. Tapi kemudian, dibangun bangunan ala barat yang dibagi menjadi dua bagian. Sa Yang Dang sekarang hanya dipakai untuk tempat belajar putra mahkota.

Dan bangunan ala barat yang terbagi jadi dua bagian itu, sekarang adalah tempat tinggal Putra Mahkota. Diantara kedua bangunan itu terdapat halaman yang luas di tengah-tengahnya. Di bangunan yang satu ditempati oleh Putra Mahkota dan bangunan di sisi yang lain ditempati oleh Putri Mahkota. Chae-gyeong dibawa ketempat itu saat upacara Tong Ne selesai.

Chae-gyeong masuk ke dalam ruangan yang akan menjadi tempat tinggalnya bersama kedua orang dayang yang selama ini selalu bersamanya. Chae-gyeong senang sekali dengan perabotan serba mewah dan nyaman yang ada di situ.

Sementara di Thailand, Hyo-rin yang jadi juara sedang ngobrol dan berbincang-bincang dengan guru dan dua orang asing yang tertarik pada bakat Hyo-rin. Mereka berdua memberikan beasiswa untuk Hyo-rin belajar balet di luar negeri dan mengembangkan bakat baletnya itu disana. Hyo-rin dan guru baletnya tentu saja sangat senang menerimanya.

Tiba-tiba ada kabar di tv yang membuat Hyo-rin terkejut tapi membuat kedua orang asing itu sangat antusias menyaksikannya. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong yang disebut oleh orang-orang sebagai pernikahan abad ini. Guru balet Hyo-rin mengatakan kalau Hyo-rin dan Putra Mahkota berasal dari sekolah yang sama. Tiba-tiba Hyo-rin melangkah pergi dan meninggalkan aplikasi beasiswa yang didapatkannya begitu saja diiringi pandangan bingung Guru Balet dan kedua orang yang memberinya beasiswa itu.

Di teras kamarnya, Hyo-rin menggenggam erat sepatu baletnya. Dia melihat dengan tatapan sedih berita pernikahan Shin dengan Chae-gyeong dari tv di kamarnya. Tiba-tiba telepon di kamar Hyo-rin berdering. Gurunya menelpon dari bawah dan meminta Hyo-rin untuk turun dan berkata apa Hyo-rin tak tahu siapa kedua orang itu dan meminta Hyo-rin untuk cepat turun lagi. Hyo-rin pun turun dan menemui mereka lagi.

Orang asing yang laki-laki memberikan aplikasi beasiswa itu pada Hyo-rin sedangkan yang wanita bertanya pada guru Hyo-rin apa yang sebenarnya terjadi pada Hyo-rin tadi. Gurunya tak bisa menjawabnya dan meminta Hyo-rin untuk segera menandatangani beasiswa itu. Bukankah hal itu adalah impian Hyo-rin sejak lama. Tapi Hyo-rin meminta maaf dan bilang kalau dia tak bisa menerimanya karna masih ada banyak hal yang harus dilakukannya di sekolah.

Sementara itu di istana, Ibu Suri, Ratu dan Choi Sang-gung sedang membicarakan tentang pendidikan Putri Mahkota. Ibu Suri berkata untuk belajar memakai huruf Hangeul saja dan diselingi dengan huruf Hanja karna mungkin Chae-gyeong tak begitu mengenal huruf Hanja. (Huruf Korea ada 2, Huruf Hanja atau nama lainnya Kanji China yang sering digunakan pada masa Korea masih di bawah pemerintahan kekaisaran dan juga huruf Hangeul yang digunakan sejak pemerintahan Raja Sejong. Raja Sejong lah yang menciptakan huruf Hangeul. Dalam buku2, kamus, petunjuk jalan, dll, biasanya tertulis dalam 2 macam huruf tersebut karna orang-orang jaman dulu hanya bisa membaca huruf Hanja saja. Berbeda dengan orang Korea modern yang sekarang hanya memakai huruf Hangeul saja).

Ibu Suri bertanya pada Ratu bagaimana dengan pendidikan dasar Pangeran. Pendidikan dasar juga perlu diberikan pada Chae-gyeong, yaitu pendidikan mengenai bagaimana cara untuk berbicara, bersikap dan juga cara untuk mengungkapkan perasaaan. Semua itu adalah hal yang paling mendasar yang harus dipelajari.

Kemudian, Ibu Suri juga berkata Ratu dulu juga berasal dari kalangan rakyat biasa, hanya saja Ratu berasal dari keluarga kaya yang sudah terbiasa dengan segala macam sopan santun yang ada dalam istana. Jadi Ratu tak mengalami kesulitan saat belajar tentang sopan santun di istana. Ibu Suri mengatakan, kalau Putri Mahkota sangat jauh berbeda daripada Ratu. Putri belum terbiasa dengan sopan santun di istana. Maka dari itu Ibu Suri meminta Ratu untuk mendidik Chae-gyeong dengan lebih sabar. Ratu hanya bisa mengiyakan.

Ibu Suri bercerita, setelah kematian tragis mendiang Raja Hyo-ryul, Raja sekarang mengambil alih singgasana dengan baik karna bantuan Ratu. Semuanya berjalan dengan lancar karnanya. Dulu Ibu Suri tak sempat mengatakan apa-apa pada Ratu bahwa dia sangat berterima kasih karna Ratu sudah membantu dengan sepenuh hati. Ratu merasa terharu dan tersanjung mendengarnya.

Yeol sedang menyetrika sambil mendengarkan berita yang masih saja heboh dibicarakan oleh orang-orang. Apalagi kalau bukan pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Ternyata Yeol menyetrika celana olahraga Chae-gyeong.

Di kamarnya Chae-gyeong masih tertidur lelap saat dayang-dayangnya mencoba membangunkannya karna hari sudah pagi. Mereka heran dan bertanya pada Chae-gyeong kenapa Chae-gyeong tidak memakai hanbok yang seharusnya dipakainya untuk tidur. Chae-gyeong bilang dia merasa sayang kalau hanbok yang cantik seperti itu dipakai untuk tidur. hehehehe ……

Para dayang Chae-gyeong membantu Chae-gyeong untuk mandi. Tapi Chae-gyeong bilang dia ingin melakukannya sendiri. Di kamar mandi, Chae-gyeong terkagum-kagum dengan interior yang ada di dalamnya. Dengan bathtub keramik n keran yang terbuat dari emas dilengkapi dengan tv di dalamnya. Chae-gyeong tersenyum-senyum melihatnya.

Selesai mandi, Chae-gyeong dan Shin menghadap Raja, Ratu dan Ibu Suri. “Mulai sekarang, pengawal Shin akan ditambah dari 3 orang menjadi 14 orang. Mereka takkan mengawal di dalam sekolah, mereka hanya akan berada di luar sekolah untuk mengawal” kata Raja. Shin tersenyum senang mendengarnya. “Dan juga untuk Putri Mahkota, mereka juga akan mengawalmu. Semoga pengawalan itu membuat kalian nyaman” lanjut Raja. Chae-gyeong mengucapkan terimakasih pada Raja.

Shin menuntut permintaannya yang dulu sebelum nikah dipenuhi. Dia dan Chae-gyeong ingin pindah ke istana Chang-deok. Tapi Ratu bilang, butuh waktu setahun setengah untuk memperbaiki istana itu. Jadi mereka harus bersabar dulu untuk beberapa tahun ini. Shin tak suka harus menunggu. Ratu juga tak suka Shin menuntutnya seperti itu di depan Chae-gyeong. Shin bilang tak apa-apa karna Chae-gyeong juga sudah tahu akan hal itu. Shin yang marah menarik Chae-gyeong pulang ke kediamannya.

Chae-gyeong tak percaya Shin bisa sekasar itu pada para Tetua Kerajaan. Biarpun kelakuannya kekanak-kanakan, tapi Shin bilang kalau mereka tak diancam seperti itu, keinginan mereka takkan di penuhi. Chae-gyeong heran melihat tingkah Shin. Dia menganggap kelakuan Shin benar-benar aneh.

Sementara itu, Ibu Suri memarahi Ratu karna ternyata Ratu yang berjanji pada Shin untuk menyetujui kepindahan Shin ke istana Chang-deok agar Shin setuju dengan pernikahan itu. Ibu Suri menyesali keputusan Ratu yang tak berdiskusi pada yang lain terlebih dulu. Ratu hanya bisa meminta maaf atas tindakannya yang salah.

Ratu berkata semua ini karna Raja mengijinkan Shin bersekolah di luar lingkungan istana. Sedangkan Raja berkata semua ini karna Ratu yang selalu terlalu keras kepala dan memutuskan semua sendiri hingga membuat Shin jadi arogan. Shin waktu kecil juga anak yang penurut, tapi sekarang dia sudah berubah jadi arogan seperti ini. Ibu Suri pusing melihat Raja dan Ratu yang saling menyalahkan.

Asisten Shin menghampiri Shin dan Chae-gyeong. Dia membawa 3 orang wanita yang akan menjadi pengawal pribadi untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong terkagum-kagum melihat mereka. Kemudian Chae-gyeong bertanya pada Asisten Shin karna sudah bertemu tapi belum pernah tahu siapa dia.

Asisten Shin memperkenalkan dirinya sebagai Asisten yang bertugas untuk melindungi pangeran dan mengatur jadwal sehari-hari Pangeran dan apapun yang berhubungan dengan masalah Pangeran Shin, jaman dulu disebut seorang kasim. Chae-gyeong membatin, Asisten Shin pasti sudah dikebiri karna itulah syarat jadi seorang kasim. Chae-gyeong senyum-senyum memikirkan hal itu.

Rupanya Asisten Shi tahu apa yang Chae-gyeong pikir, dia bilang, jaman sekarang sudah tak seperti itu. Dia sudah punya istri dan anak di rumah. Bukan seperti jaman dulu yang harus seperti itu. Wajah Chae-gyeong memerah karna malu. Shin tertawa melihat kekonyolan Chae-gyeong. Chae-gyeong meminta maaf karna sudah salah mengira. “Tak apa-apa Bigung Mama” kata Asisten Shin. Chae-gyeong tertawa mendengar panggilan barunya Bigung Mama (Yang Mulia Permaisuri).

“Kenapa kau senyum-senyum seperti itu? Apa ada yang salah dengan panggilan itu?” tanya Shin heran. “Tidak. Aku hanya merasa agak gugup dipanggil seperti itu” jawab Chae-gyeong. Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Dia berbaring dan meneriakkan sebutan barunya” Aku adalah Yang Mulia Permaisuri” teriak Chae-gyeong. Teriakannya terhenti karna kedatangan Choi Sanggung.

Choi Sanggung berkata dia belum memperkenalkan secara resmi pada Chae-gyeong. Dia adalah Choi Sanggung, Asisten pribadi Chae-gyeong sekaligus yang bertanggung jawab atas pendidikan Chae-gyeong. Chae-gyeong melotot mendengarnya. Tak disangka dia harus belajar di bawah pengawasan Choi Sanggung yang sangat disiplin itu lagi.

Choi Sanggung berkata kalau Akuntan Istana sedang menunggu Chae-gyeong. Chae-gyeong heran mendengar kenapa Akuntan Istana mencarinya. Choi Sanggung bilang, Akuntan Istana bertugas untuk mengatur harta dan kekayaan yang dimiliki oleh Chae-gyeong. Kalau Chae-gyeong lelah hari ini, Chae-gyeong bisa menemuinya besok siang. Chae-gyeong bilang dia bisa menemui mereka hari ini.

Chae-gyeong menemui Akuntan Istana. Ternyata mereka memberikan tabungan untuk Chae-gyeong. Akuntan Istana bilang semua uang Chae-gyeong yang dibutuhkan Chae-gyeong akan ditransfer dari rekening istana ke tabungan Chae-gyeong. Jika ada sesuatu yang ingin Chae-gyeong tanyakan, Chae-gyeong tinggal bertanya saja.

Akuntan Istana perpamitan pergi. Chae-gyeong penasaran ingin membuka buku tabungan yang 4x lebih besar dari buku tabungan kita itu. Hehehe….Dan Chae-gyeong sangat terkejut dengan isinya saat membukanya. Disana tertulis jumlah tabungannya dengan angka yang sangat fantastis. 100 juta won (kira-kira 780 juta). Chae-gyeong sampai berteriak saking girangnya.

Di perjalanan menuju sekolah, Chae-gyeong berada satu mobil dengan Shin. Chae-gyeong sedang asyik menuliskan rencana untuk apa saja uang yang dimilikinya sambil sesekali tertawa. Kedua sopir mereka juga senyum-senyum melihat tingkah Chae-gyeong. “Apa kau sakit?” sindir Shin. “Aku tak apa-apa” jawab Chae-gyeong. “Tapi kau senyum-senyum sendiri seperti orang gila” lanjut Shin. Chae-gyeong manyun mendengarnya dan berkata, “Kenapa aku harus gila kalau aku punya banyak uang yang bisa kupakai”.

Sampai di sekolah, siswa-siswa yang lain mengerubuti mereka. Para pengawal melaksanakan tugasnya. Mereka mengawal Shin dan Chae-gyeong masuk ke dalam sekolah.

Tiba di kelas, Chae-gyeong heran melihat Yeol yang mengembalikan celana olahraga-nya. “Siapa kau?” tanya Chae-gyeong. “Apa kau tak ingat?” Yeol balik bertanya. “Oh, kau murid pindahan itu” kata Chae-gyeong kemudian. Yeol tersenyum senang karna Chae-gyeong mengingatnya. “Apa kau juga pindah ke kelasku?” tanya Chae-gyeong tersenyum senang. Kemudian Chae-gyeong menyodorkan jari telunjuknya ke arah Yeol, salam luar angkasa khas Chae-gyeong. Hehehe….

Chae-gyeong mencoba menyapa teman-temannya. Tapi tak satupun yang peduli akan kehadirannya. Termasuk Kang-hyeon yang biasanya sangat mengerti dirinya. Dia memakai sarung tangan dan celana olahraganya. Tapi tak satupun yang mempedulikannya. Chae-gyeong sedih. Dia tak tahu harus berbuat apa.

Sementara itu, Shin bermain basket dengan teman-temannya, diiringi sorak sorai gadis-gadis dipinggir lapangan. Para pengawal Shin juga ada di pinggir lapangan. Dan saat Shin terjatuh, para pengawal langsung pontang panting berlari menghampirinya. Tapi Shin pernah melarang mereka untuk mendekat. Jadi mereka-pun tak berani mendekat.

Shin duduk dibangku bersama teman-temannya. Mereka bertanya pada Shin apa yang terjadi saat malam pertamanya. Shin bilang tak terjadi apapun yang ada di pikiran teman-temannya meskipun hanya 1%. Tapi tiba-tiba Shin teringat jari tangannya yang digigit oleh Chae-gyeong. Kemudian dia berkata, “Tapi kupikir, ada 7% yang terjadi di antara kami” Shin tertawa senang. Teman-temannya mendesaknya untuk bercerita. Shin tak mau mengataka apa-apa. Dia mengajak mereka untuk pergi.

Turun dari tangga mereka bertemu dengan Hyo-rin. Salah satu tema Shin memanggil Hyo-rin. Mereka bertiga meninggalkan Shin berdua dengan Hyo-rin agar mereka bisa berbicara.

Sementara itu, Chae-gyeong sedang curhat dengan Yeol. Dia sedih melihat teman-temannya seperti itu. “Seorang biasa yang tiba-tiba jadi seorang putri, bukankah itu aneh. Tapi ini bukan cerita Cinderella. Tapi aku takkan menyerah dan diam saja. Aku akan berjuang untuk menjadi orang yang lebih baik. Bagaimanapun juga, terimakasih” kata Chae-gyeong. “Untuk apa? Aku bahkan tak bisa membantumu apa-apa” elak Yeol. “Tapi kau mau mendengarkan semua keluh kesahku. Kau memang hebat” jawab Chae-gyeong.

“Bagaimanapun juga aku merasa lega karna aku punya teman sepertimu” kata Chae-gyeong. “Aku juga senang berteman denganmu” timpal Yeol sambil tertawa senang. Mereka bahagia.

Sementara itu, Hyo-rin dan Shin. “Min Hyo-rin gadis yang bodoh. Orang bodoh yang hanya tahu tentang menari balet seumur hidupnya. Saat kau lihat kompetisinya, semua peserta seperti orang yang bodoh. Mereka semua tak punya emosi. Sedangkan aku, kebahagiaanku, kesedihanku, kemarahanku, dan rahasia hidupku, semua itu kugunakan dalam tarianku. Dan juga, aku mulai menari menuruti apa yang kusuka. Kau akan menyesalinya. Kau akan menyesal seumur hidup karna menungguku. Selamanya. Tapi semua itu sudah berakhir sekarang. Aku menyesal mengatkan itu padamu. Tapi kau masih mau bermain dengan Hyo-rin kan?” kata Hyo-rin pada Shin.

Shin hanya diam. “Jangan khawatir, aku takkan mencampuri hidupmu. Bukankah kau kenal aku dengan baik? Kau bodoh sekali karna tak mau bermain” lanjut Hyo-rin. Shin hanya diam kemudian pergi meninggalkan Hyo-rin yang sedih sendirian.

Chae-gyeong dan Yeol kembali ke ruang kelas mereka. Yeol berkata agar Chae-gyeong tak khawatir dan agar Chae-gyeong tenang menghadapi semuanya. Chae-gyeong berterimakasih atas bantuan Yeol yang membuatnya merasa nyaman. Chae-gyeong pun masuk ke dalam kelas bersama Yeol.

Chae-gyeong memperhatikan sekelilingnya. Tak satupun yang mempedulikannya. Dua orang teman dekat Chae-gyeong meminta Chae-gyeong untuk berdiri di depan kelas. Chae-gyeong memandang Yeol untuk meminta pendapat, tapi Yeol malah menghindari tatapannya. Chae-gyeong maju ke depan, Dengan menuruti kata teman-temannya, dia berharap agar mereka mau berteman dengannya lagi.

Di depan Chae-gyeong malah berpidato dan mengucapkan terimakasih pada mereka semua yang sudah mau berteman dengannya selama ini. Mereka sudah memperlakukan dia dengan baik. Chae-gyeong berterimakasih karna telah menjaga meja dan bangku Chae-gyeong selama Chae-gyeong tak masuk. Chae-gyeong menunduk sedih.

Tiba-tiba teman-teman Chae-gyeong menyemprot Chae-gyeong dengan pasta dan ketiga sahabat dekatnya maju kedepan sambil membawa kue tart dan karangan bunga untuk Chae-gyeong semabari mengucapkan selamat atas pernikahan Chae-gyeong. Tentu saja Chae-gyeong sangat gembira dan terharu.

“Jangan terlalu gembira. Sekarang kau sudah menikah. Hidupmu sudah berakhir sekarang. Apa kau sadar itu?” kata Kang-hyeon. “Apa-apaan ini? Sudah selesai?” kata wali kelas mereka yang tiba-tiba masuk. “Selamat buatmu, gadis bodoh. Hei! Kenapa kau berani menikah mendahuluiku?” kata wali kelas Chae-gyeong. Chae-gyeong dan teman-temannya tertawa mendengarnya. “Jadi anda juga ikut-ikutan mengerjaiku?” tanya Chae-gyeong. “Tentu saja. Kalau tidak mereka semua akan memarahiku. Tunggu apalagi? Sekarang tiup lilinnya” kata wali kelas Chae-gyeong.

Chae-gyeong meniup lilinnya, begitu selesai, Kang-hyeon yang ada dibelakangnya membenamkan kepala Chae-gyeong ke tart hingga muka Chae-gyeong belepotan tart. Tentu saja Chae-gyeong tak hanya diam begitu saja. Dia langsung mengejar teman-temannya dan juga wali kelasnya untuk mengolesi wajah mereka semua dengan tart. Riuh sekali suasana kelas Chae-gyeong. Yeol yang melihat aksi mereka tertawa bahagia.

Pulang sekolah, Yeol dicegat oleh beberapa orang cewek. Salah satu cewek itu, tiba-tiba memeluknya. Tentu saja Yeol kaget melihatnya. Cewek-cewek yang lain juga kaget melihat aksi cewek nekat itu. Chae-gyeong menghampiri Yeol dan tak menyangka ternyata Yeol ikut campur dalam rencana itu. Yeol membela diri. Kalau mereka meminta mereka dengan sungguh-sungguh untuk berpura-pura agar berhasil bersandiwara untuk menjebak Chae-gyeong.

Chae-gyeong tersenyum malu-malu. Yeol senang melihatnya. Tiba-tiba Shin berteriak menyuruh Chae-gyeong untuk masuk ke mobil. Chae-gyeong-pun berpamitan pada Yeol dan masuk ke mobil dengan dongkol. Yeol menyapa Shin. Tapi Shin hanya senyum simpul. Mereka pulang menuju istana. Sementara Yeol termenung sendirian. “Itu adalah tempatku. Apa kau tahu? Sebenarnya itu adalah tempatku” kata Yeol dengan pedih. Di atas sekolah, Hyo-rin pun memandang sedih kepergian Shin dan Chae-gyeong.

Teman-teman Shin berusaha menghibur Hyo-rin. Mereka memberikan sebuah ponsel model terbaru sebagai ganti ponsel Hyo-rin yang rusak. Hyo-rin mencoba menolak pemberian itu, tapi mereka memaksanya. Hyo-rin kemudian berpamitan pada mereka untuk menjemput guru baletnya.

Di mobil, Chae-gyeong teringat rumahnya saat melewati tikungan yang berbelok ke rumahnya. Dia bilang, biasanya dia naik sepeda ke sekolah, dia membayangkan, seperti apa sekarang sepedanya, apakah sudah karatan karna terkena air hujan? Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin cuek-cuek aja n asyik mendengarkan lagu iPod-nya. Chae-gyeong sedih, dia ingin sekali mengendarai sepedanya lagi.

Chae-gyeong memanggil Shin dan melepaskan earphone dari telinga kiri Shin. Shin marah karnanya. “Um….kita dekat dengan rumahku. Bolehkan kita berhenti?” pinta Chae-gyeong. Shin menyalakan tv di mobil, Asistennya berkata, pulang sekolah, mereka masih harus belajar. Chae-gyeong sedih mendengarnya.

Sementara itu, di rumah Chae-gyeong, Ayah Chae-gyeong merasakan hal yang sama. Dia merindukan Chae-gyeong dan khawatir apakah Chae-gyeong makan dengan baik, apakah Chae-gyeong sakit perut, apakah Chae-gyeong membuat masalah. Mungkin sulit bagi Chae-gyeong untuk belajar tata krama di istana. Istrinya berkata agar Ayah Chae-gyeong tak terlalu khawatir. Ayah Chae-gyeong ingin menelpon Chae-gyeong tapi istrinya melarangnya. Dia khawatir nanti malah mereka berdua menangis bersama.

Ayah Chae-gyeong bertanya apakah Ibu Chae-gyeong tak sedih kehilangan Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong berkata tentu saja dia sedih. Tapi tetap saja tak bisa membalikkan keadaan seperti semula. Semua ini terjadi kan juga karna salah Ayah Chae-gyeong. Ayah Chae-gyeong hanya diam. Tiba-tiba Hp Ibu Chae-gyeong berbunyi.

Di mobil, Chae-gyeong masih mengomel sendiri. Shin bisa bertemu dengan nenek dan kedua orangtuanya. Sedangkan dia tak bisa bertemu dengan salah satu anggota keluarganya. Ini benar-benar tak adil.

Yeol bertemu lagi dengan Hyo-rin di toko bunga. Mereka saling tersenyum. Hyo-rin berkata karangan bunga Yeol cantik sekali. Pacar Yeol pasti akan suka. Yeol hanya tersenyum mendengar kata-kata Hyo-rin. Yeol menyukai bunga tanpa akar. Tapi Hyo-rin lebih suka yanga da akarnya. Yeol segera pergi setelah karangan bunganya selesai.

Ternyata Yeol pergi ke bandara untuk menjemput ibunya. Dia tersenyum senang begitu melihat ibunya berada di antara penumpang yang pesawatnya baru aja mendarat. Ibu Yeol pun tersenyum senang melihat putra nya. Ibu Yeol segera menghampiri Yeol. Yeol memberikan karangan bunga itu pada Ibunya. Tiba-tiba cahaya kamera menyoroti mereka. Ibu Yeol segera berbalik dan tersenyum.

Dua orang pria menhampiri merka dan salah satunya mengucapkan selamat datag kembali pada Ibu Yeol. Ibu Yeol mengucapkan terimakasih karna walaupun mereka sibuk, mereka masih mau menjemput dirinya di bandara. Ibu Yeol mengenalkan mereka pada Yeol. Ternyata mereka adalah sahabat dekat mendiang Ayah Yeol.

Yeol dan Ibunya makan disebuah tempat mewah. “Imperial Palace”. Ibu Yeol berkata kalau ternyata Seol sudah banyak berubah. Apakah mereka terlalu lama pergi? Yeol menanggapinya dengan senyumnya. Sementara itu di ruangan atas restoran itu, ternyata ada guru balet Hyo-rin yang sedang dikerubuti banyak orang. Hyo-ri merasa minder ada di antara mereka.

Saat melihat Hyo-rin datang, guru balet Hyo-rin melengos. Dia masih marah karna Hyo-rin menolak tawaran beasiswa yang didapatnya di Thailand waktu itu. Hyo-rin terus membujuk gurunya yang sudah banyak membantunya itu. “Aku minta maaf” pinta Hyo-rin. “Apa kau benar-benar menyesal?” tanya guru baletnya. Hyo-rin mengiyakan. Dia juga berjanji akan belajar balet dan kembali secepatnya. Gurunya tersenyum mendengar hal itu.

Hyo-rin menunggu gurunya di depan pintu keluar Imperial Palace dan secara tak sengaja dia melihat Yeol keluar bersama Ibunya. Hyo-rin menghampiri dan menyapa mereka. “Pacarmu sangat canti sekali” puji Hyo-rin. Yeol dan Ibunya hanya senyum-senyum. Kemudian Yeol pun memperkenalkan mereka. Tentu saja Hyo-rin tersenyum malu karna sudah salah menduga.

Tiba-tiba guru balet Hyo-rin keluar dari tempat itu dan kaget melihat Ibu Yeol. Ternyata mereka berdua saling mengenal. Guru Hyo-rin adalah adik kelas Ibu Yeol. Guru Hyo-rin memuji penampilan Ibu Yeol yang sampai sekarang tak berubah. Masih awet muda seperti dulu. Ibu Yeol tersenyum mendengar pujian itu. Kemudian dia melihat ke arah Yeol.

“Kau tampan sekali. Seperti seorang pangeran. Oh maaf, kau memang seorang pangeran. Maafkan aku” kata Guru Hyo-rin. Ibu yeol berpamitan pergi karna jemputannya sudah datang. Dia juga meminta Guru Hyo-rin untuk merahasiakan kedatangannya ke Korea.

Sepeninggal mereka, Guru Hyo-rin bercerita pada Hyo-rin tentang siapa Ibu Yeol dan Yeol. Ibu Yeol harusnya jadi ratu seandainya saja suaminya tak mengalami kecelakaan mobil dan meninggal. Sepeninggal suaminya, Yeol dan Ibunya mengasingkan diri ke Inggris.

Di istana, Ratu sedang berbicara dengan Sanggung-nya. Mereka membicarakan tentang kemungkinan apakah Ibu Yeol sudah kembali ke Korea atau belum. Sanggung-nya berkata, ada berita kalau Ibu Yeol sudah pulang ke Korea. Hanya saja mereka belum menemukan bukti.

Di kamarnya, Ratu membersihkan kaki suaminya. “Aku sudah jauh lebih baik sekarang. Apa kau masih juga khawatir?” tanya Raja pada istrinya. “Tidak Yang Mulia. Aku sudah lega keadaan anda sudah lebih baik. Ini karna anak itu” jawab Ratu. “Anak itu?” tanya Raja agak bingung mendengar keterangan Ratu. “Maksudku Hwi-seong. Setiap aku memikirkannya, aku merasa khawatir. Tak sepatah katapun terucap selama 14 tahun ini dan tiba-tiba dia datang saat keadaan Anda sakit seperti ini. Barusan aku dengar Ibu Yeol juga sudah kembali ke Korea. Dan hal itu membuatku merasa tak nyaman. Waktu berlalu dengan cepat dan anak-anak itu sudah sama-sama tumbuh dewasa” kata Ratu.

Sementara itu ditempat lain, para pengikut Ibu Yeol mengadakan upacara ritual persembahan untuk mengenang mendiang Ayah Yeol. Sementara itu, Yeol dan ibunya berada di sebuah ruangan dan berbicara berdua. Ibunya mengajak Yeol untuk menemui para tetua yag sudah bersedia merawat makam Ayah Yeol dengan baik. Sebelum mereka pergi, salah seorang dari tetua itu menghampiri mereka. Yeol dan Ibunya pun berterimakasih pada mereka semua.

Yeol menyerahkan sapu tangan pada Ibunya. Ibunya berkata akan mengembalikan semua yang seharusnya menjadi hak milik mereka yang selama ini tak mereka dapatkan. Perlahan demi perlahan mereka akan melaksanakan rencana yang telah mereka susun.

Di istana, Chae-gyeong sedang makan berdua dengan Shin. Para pelayan membantu melayani mereka berdua. “Apakah kita harus selalu makan seperti ini tiap kali kita makan?” tanya Chae-gyeong. “Semuanya tergantung Omma Mama (Yang Mulia Ibu). Untuk memakan makanan yang berbeda atau tidak. Termasuk juga minumannya” jawab Shin. Chae-gyeong terlihat kecewa mendengarnya. Shin bilang hari ini mereka akan menonton film bersama Appa Mama (Yang Mulia Ayah). Chae-gyeong senang mendengarnya.

Chae-gyeong bertanya kapan mereka akan menonton film. Shin bilang setelah makan mereka akan langsung nonton film Chae-gyeong kecewa karna sebenarnya dia berencana untuk istirahat setelah makan. Shin bilang, pertama, para Tetua akan mengatakan sesuatu, setelah itu mereka semua akan menonton film bersama-sama. Chae-gyeong kecewa mendengarnya.

Ternyata setelah maan Chaegyeong malah disuruh belajar. Dia belajar dengan diawasi oleh Choi Sanggung. Sementara itu, Shin bermain anggar. Dia berhenti dan menelpon seseorang. Ternyata Shin menelpon Chae-gyeong. Tapi saat Chae-gyeong hendak mengangkat telponnya, Choi Sanggung membentak Chae-gyeong karna tak boleh bermain HP saat sedang belajar. Chae-gyeong bilang, itu telpon dari Pangeran Shin. Barulah dia diijinkan untuk mengangkat teleponnya.

Shin berkata kalau Chae-gyeong harus bersiap-siap untuk memenuhi janji menonton film dengan Raja. Setelah selesai latihan, Shin akan menjemput Chae-gyeong. Agar mereka tak terlambat, Chae-gyeong harus bersiap-siap sekarang. Chae-gyeong senang mendengarnya dan mengulang kata-kata Shin di depan Choi Sanggung. Tentu saja Chae-gyeong senang, karna itu artinya dia tak perlu belajar lagi. Hehehehe…..

Mereka bertiga menonton Hwang Jin-i ! Chae-gyeong memandangi Shin. Tapi Shin malah melotot. Mereka minum the bersama setelah selesai menonton. “Aku penasaran akan apa yang dipikirkan oleh Bigung Mama tentang film itu” kata Raja. Chae-gyeong yang hendak minum teh langsung meletakkan cangkir teh-nya. “Hanbok kita sangat cantik. Kupikir Hanbok kita hanya punya beberapa warna saja seperti merah, kuning dan hijau. Bagaimanapun juga, setelah tinggal di istana dan mengenakannya hampir setiap hari membuatku sadar, hal itu tak benar. Kita ini bukan orang yang sama seperti yang lain. Kita ini orang yang berkelas. Benar begitu kan?” kata Chae-gyeong panjang lebar.

Raja tertawa senang mendengar perkataan Chae-gyeong. “Orang berkelas? Itu sepertinya menarik..menurutmu bagaimana?” tanya Raja kemudian. “Bunga, daun maple, pohon, langit, kunang-kunang…Itu semua adalah hal alami dalam sebuah film” jawab Chae-gyeong. Raja senang mendengar kata-kata Chae-gyeong. Kemudian bertanya apakah mereka perlu menonton film bersama seminggu sekali? Chae-gyeong mencoba menjawab dengan bahasa yang sopan, tapi sayang malah kata-katanya jadi aneh. Raja tertawa mendengar kata-kata honorifik Chae-gyeong yang belepotan dan meminta Chae-gyeong memakai kata-kata biasa saja. Chae-gyeong tersipu-sipu malu.

Hyo-rin menelpon Shin. Dan saat menelpon, Chae-gyeong melewati Shin dan tertegun mendengar Shin tertawa dengan seseorang melalui telepon. Chae-gyeong masuk ke kamarnya. Dan memandangi Shin saat Shin masuk pula ke kamarnya. Chae-gyeong menatap Shin dengan sedih. Kenapa Shin tak pernah tertawa sesenang itu saat bersamanya.

Chae-gyeong menghibur diri dengan menelpon keluarganya. Mereka senang sekali mendengar Chae-gyeong menelpon hingga berebut telpon untuk bicara pada Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong masih merasa sedih saat selesai menelpon.

“Kenapa aku masih merasa kesepian? Ibu menjadi Ratu di dunia asuransi. Kami takkan khawatir tentang kedatangan dept kolektor lagi. Kenapa aku masih tak merasa bahagia mendengar itu semua? Setelah semua yang kulakukan untuk mewujudkan semua ini. Ada apa sebenarnya. Kenapa masih ada perasaan kosong dan kesepian ini?” bathin Chae-gyeong.

Chae-gyeong keluar dari kamarnya. Begitu keluar dari kamar, dia tersenyum memandangi Shin yang sedang termenung di pintu kamarnya sambil memeluk teddy bear kesayangannya.

“Apa yang sedang dilakukannya. Seorang pria dewasa tapi masih memeluk boneka di tangannya seperti seorang anak kecil. Ekspresinya menunjukkan kalau dia sedang berpikir tentang hal yang menyedihkan. Apakah ini semua karna dia tak bisa menikahi orang yang disukainya? Jadi dia merasa kecewa karnanya. Apa ini? Lalu dia anggap aku ini apa? Ini benar-benar mengecewakan” bathin Chae-gyeong sambil menunduk sedih di depan kamarnya.

Bersambung………….

Princess Hours Episode 3

Chae-gyeong sampai di istana. Para dayang sudah mennatinya dan mengiringinya masuk. Seorang dayang kepala, Choi Sang-gung menjelaskan pada Chae-gyeong. Ini adalah istana Eun-yeong. Yang dibangun 140 tahun yang lalu. Di mana di tempat inilah pada tahun 1866 Ratu Myeong-seong belajar. Istana ini punya arti yang sangat mendalam. Dayang kepala mengucapkan selamat pada Chae-gyeong karna bisa belajar di tempat ini. Chae-gyeong sama sekali tak mengerti apa maksud perkataan dayang itu karna sedari tadi dia gugup.

Dua orang dayang masuk sambil memebawa bertumpuk-tumpuk buku yang diletakkan di sebelah Chae-gyeong. Dayang kepala berkata kalau buku-buku itu adalah abhan pelajaran yang harus dipelajari oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong kaget sekali melihatnya.. Tapi kemudian Chae-gyeong pun mulai belajar. Dia belajar dengan santai. Chae-gyeong mengeluh, kalau harus mempelajari semua ini, lama-lama dia bisa gila. Wakkkkkk…..

Tiba-tiba Ratu datang mengunjungi Chae-gyeong yang ternyata sedang tertidur. “Bagaimana bisa kami mengajari gadis seperti ini. Maafkan kami, Yang Mulia. Padahal saya sudah bilang pada bawahan saya untuk menjaganya.” kata Choi Sang-gung. Dua orang dayang mencoba membangunkan Chae-gyeong, tapi Chae-gyeong tak mau dibangunkan. “Ibu, aku masih ingin tidur” kata Chae-gyeong dalam igauannya. Ratu tersenyum mendengarnya dan meminta mereka untuk membiarkan Chae-gyeong tidur, karna ini hari pertama Chae-gyeong di istana. Dan mungkin juga karna beberapa hari terakhir ini Chae-gyeong susah tidur.

Ratu berkata pada dayang kepala agar Chae-gyeong jangan sampai salah melakukan semua hal yang harus dilakukannya dalam upacara pernikahan kerajaan. Chae-gyeong banyak melakukan kesalahan, jadi Ratu meminta Choi Sang-gung untuk melatih Chae-gyeong dengan baik untuk menjadi seorang putri. Dan untuk kedepannya, biarkan dia menyadari kalau istana itu ada banyak aturannya.

“Perhatikan dengan baik semua yang dia pelajari dan tulislah apapun yang terjadi baik hal yang salah ataupun hal yang benar saat dia berlatih. Aku tahu kau punya kemampuan yang bagus untuk menangani masalah seperti ini” kata Ratu. Choi Sang-gung mengangguk menyanggupi perintah itu.

Chae-gyeong bersembunyi dari ke dua dayang yang diperintahkan untuk menjaganya. Kedua dayangnya bingung karna tak dapat menemukan Chae-gyeong. Sementara Chae-gyeong malah menertawakan mereka. Mereka berdua sangat ketakutan karnanya. Chae-gyeong berjalan mundur sambil menertawakan mereka. Tapi saat berbalik dia terkejut karna Choi Sang-gung ada di hadapannya.

“Apa yang sebenarnya kalian berdua lakukan!” teriak Choi Sang-gung marah pada kedua dayang bawahannya itu. Chae-gyeong berusaha membela kedua dayangnya dan berkata bahwa semua ini salahnya. Tapi suaranya tak di dengarkan. Apapun kesalahan Chae-gyeong, semuanya pasti berasal dari kedua dayangnya yang tak bisa menjaga Chae-gyeong denga benar. Ribet banget aturan istana. Hfuuuuuuuh…………

Choi Sang-gung bilang kalau Dae Rae Bok (Pakaian untuk Upacara Besar) untuk Chae-gyeong sudah selesai. Hanya tinggal mengepas nya saja. Chae-gyeong baru sekarang mendengar kata Dae Rae Bok. Chae-gyeong tak mengerti karnanya. Dayangnya bilang, Chae-gyeong akan mengerti kalau Chae-gyeong ikut dengan mereka. Chae-gyeong tak berani macam-macam lagi, dia ikut kemana kedua dayangnya membawanya pergi.

Sementara itu di kediamannya. Ibu Suri sedang menulis puisi mengenang suaminya. Kemudian Ibu Suri memandangi foto keluarganya dan bertanya pada salah seorang dayang kepala senior istana Seo Sang-gung, apakah ada kabar dari Hye-jeong, ibu Lee Yeol. Seo Sang-gung berkata kalau Ibu Yeol masih harus menyelesaikan sesuatu di Inggris, jadi dia belum bisa pulang sekarang. Besok adalah hari besar bagi Keluarga Kerajaan, pasti akan sangat menyenangkan jika seluruh keluarga berkumpul, begitulah keinginan Ibu Suri. Seo Sang-gung berkata, Ibu Yeol pikir sekarang ini bukan saat yang tepat untuknya kembali ke Korea.

Ibu Suri membelai foto keluarga Yeol dengan lembut. “Tiba-tiba terpisah jauh dari suaminya karna kematian, pasti membuatnya sangat terpukul. Dia seorang Ratu, tapi harus di usir dari istana karna peraturan hukum. Dia pasti sangat menderita dan sakit hati” kata Ibu Suri dengan penuh kesedihan. “Ya, Yang Mulia. Saat Putri Hye-jeong berpikir tentang suaminya, dia merasa sangat terluka” jawab Seo Sang-gung.

“Seo Sang-gung, bukankah kau yang selama ini mengasuh Pangeran Hyo-ryul dan Pangeran Hwi-seong?” tanya Ibu Suri. “Ya, Yang Mulia. Jika melihat foto itu, Putra Mahkota Hyo-ryul pasti menginginkan mereka mengambil posisinya. Keduanya, Ibu dan anak, pasti akan menduduki jabatan sebagai seorang Ratu dan Putra Mahkota dengan baik” jawab Seo Sang-gung. “Tak ada gunanya membicarakan masa lalu” kata Ibu Suri yang sebenarnya tak suka mendengar perkataan Seo Sang-gung.

Seo Sang-gung ini sangat menginginkan Putri Hye-jeong menduduki tahta menggantikan suaminya daripada harus digantikan oleh Raja yang sekarang bertahta, adik mendiang Raja Hyo-ryul, Ayah Shin.

Sementara itu, Ratu sedang menghidangkan obat untuk Raja. Ratu menyarankan agar Raja beristirahat hari ini, karna besok pasti Raja akan kelelahan karna harus memimpin upacara besar. “Sebenarnya aku ini keras kepala. Tapi kali ini aku akan mendengarkanmu, istriku” kata Raja setelah meminum obatnya. Ratu tersenyum mendengarnya. Ratu senang karna sekarang Raja terlihat sehat. Raja bilang tentu saja sehat karna setiap hari dia minum obat itu. Ratu meminta agar Raja selalu menjaga kesehatannya. Raja bilang dia akan melakukannya.

Raja menanyakan tentang perkembangan pendidikan Chae-gyeong untuk jadi seorang putri. Ratu bilang pendidikannya sudah dimulai. Tapi sepertinya susah sekali untuk mendidik Chae-gyeong menjadi seorang putri. Ratu khawatir akan upacara pernikahan besok dan juga bagaimana caranya untuk mendidik Chae-gyeong mulai sekarang. Raja berkata untuk mendidik Chae-gyeong pelan-pelan saja. Ratu bilang ini bukan saat yang tepat untuk membicarakan pendidikan Chae-gyeong. Lebih baik membicarakan bagaimana cara untuk mendidik Shin terlebih dahulu karna kelakuan Shin masih belum dewasa.

Choi Sang-gung duduk bersama Chae-gyeong dan para dayangnya. Choi sang-gung menyeduhkan teh untuk Chae-gyeong dan berkata kalau Chae-gyeong sudah berlatih dengan keras. Chae-gyeong bilang para dayangnya bekerja lebih keras daripada dirinya. Kemudian Chae-gyeong juga bertanya apakah itu berarti pelajarannya sudah selesai?. Choi Sang-gung membenarkan hal itu. Tentu saja Chae-gyeong gembira mendengarnya. Tapi kemudian Choi Sang-gung berkata kalau Chae-gyeong harus menghafalkan semua yang dipelajarinya sekarang. Chae-gyeong benar-benar terkejut mendengarnya.

Choi Sang-gung meminta Chae-gyeong menghafalkan semua etiket pernikahan yang dipelajarinya. Tentu saja hanya sebagian yang di hafal oleh Chae-gyeong. Dan sasaran kemarahan Choi Sang—gung tentu saja pada dua dayang Chae-gyeong. Tapi saat Choi Sang-gung hendak memukul mereka, Chae-gyeong menghalanginya dan berkata dia ingat apa yang sudah dihafalkannya. Chae-gyeong duduk bersila dan tangan kirinya memegang kepalanya, lalu menjawab pertanyaan Choi Sang-gung dengan lancar karna di tangan kirinya ada contekan! Dasar Chae-gyeong. Tentu saja Choi Sang-gung senang mendengar Chae-gyeong berhasil menghafal dengan baik.

 Yeol sedang bersama Shin di kamar Shin. Asisten pribadi Shin sedang bertanya pada Shin apa saja yang dibutuhkan Shin dan yang cocok untuk Shin. Shin menjawabnya dengan malas. Sementara itu, Yeol sedang asyik menikmati alat-alat  perfilm-an yang ada disitu. Tak berapa lama kemudian, Asisten pribadi Shin pamitan pergi pada Shin dan Pangeran Hwi-seong alias Yeol.

 Shin mengajak Yeol mengunjungi Chae-gyeong di istana Eun-yeong karna Yeol bilang dia dan Chae-gyeong sekelas. Tapi Yeol tak mau pergi. Shin bilang, jika seorang pria tampan kesana, dia pasti akan senang. Yeol bilang pada Shin untuk pergi sendiri. Yeol bilang Chae-gyeong pasti lelah setelah belajar, jadi lebih baik Shin mengunjunginya sambil membawa coklat atau permen agar Chae-gyeong senang. Tapi Shin tak mau mendengarkan Yeol dan pergi begitu saja. Yeol tersenyum melihat kepergian Shin.

Teman-teman akrab Chae-gyeong sedang mempersiapkan poster yang akan mereka bawa ke pernikahan  Chae-gyeong. Mereka berharap Chae-gyeong akan mengenali mereka dan tersenyum memandangi mereka. Tapi Kang-hyeon bilang tak mungkin Chae-gyeong melakukan itu dan hanya menatap mereka sementara di jalanan ada begitu banyak orang. Sun-yeong dan Hee-sung malah berhasil menciptakan nama baru untuk mereka berdua yaitu Jisu-Sesu.

Di istana, Chae-gyeong yang sedang belajar masih sempat menggambar kartun 3 orang temannya. Kayaknya Yun Eun-hye ni memang pandai menggambar. Di My Fair Lady, dia menggambar di dinding sebuah sekolah, di Coffee Prince dia juga menggambari pintu masuk ke Café dan disini, dia juga banyak menggambar, termasuk menggambar karikatur Ibu Suri di episode nanti. Tunggu ja ya. Hehehehe

Saat Chae-gyeong menoleh, dia sangat terkejut karna melihat Shin ada disitu. Chae-gyeong bilang tak seorangpun diijinkan masuk ke istana ini. Shin bilang kalau dirinya bukan orang biasa. Jelas lah. Kemudian Shin mengambil sebuah tas kecil dan menyerahkannya pada Chae-gyeong. Chae-gyeong senang sekali karna tas itu isinya permen. Tapi kemudian Shin bilang kalau itu hadiah dari Yeol. Ini neh yang bikin orang gregetan nonton drama Korea. Pura-pura tak peduli tapi sebenarnya cinta. Hhhuuuuuuh.

Chae-gyeong bilang dia tak mengenal Yeol. Ya iyalah, Chae-gyeong memang sudah ketemu Yeol. Tapi dia belum tahu nama Yeol. Apalagi saat Yeol diperkenalkan di kelasnya, Chae-gyeong dijemput utusan dari istana.

Shin terus saja menggoda Chae-gyeong. Dia memberikan permen itu pada Chae-gyeong untuk mnghiburnya karna siapa tahu Chae-gyeong menangis karna kangen pada kedua orangtuanya. Shin mengatakannya sambil tersenyum. Chae-gyeong sedih mendengarnya. Senyum Shin juga menghilang saat melihat Chae-gyeong sedih.

“Sejujurnya, ada satu hal yang kuminta saat aku menikah denganmu. Aku meminta istana Chang-deok untuk kita. Jadi kita bisa menjauh dari para tetua. Jadi jika suatu saat kau ingin mengunjungi orangtuamu sebulan sekali, mereka takkan tahu. Shin membuka catatannya dan mengatakan kalau Chae-gyeong boleh mengundang teman-temannya ke istana jika ada pesta. Chae-gyeong juga boleh mengundang keluarganya untuk berlibur di Hwang-shil resort milik Keluarga Kerajaan.

Chae-gyeong menghentikan perkataan Shin. Chae-gyeong bilang Shin tak perlu membuat dirinya merasa nyaman di istana. Shin yang jengkel meremas-remas kertas catatannya dan bilang kalau itu semua adalah ide Yeol. Hiiiiiiih…susah banget she bilang kalau dia juga perhatian ma Chae-gyeong dan semua itu adalah idenya. Huuuuuuuh…………

Shin bilang, yang bisa diberikannya pada Chae-gyeong adalah kekuasaan. Dia akan mengijinkan Chae-gyeong meninggalkan istana kalau Chae-gyeong kangen pada Ibunya karna Shin tak ingin melihat Chae-gyeong bersedih karna kangen pada orantuanya. Shin bilang dia sejak kecil sudah biasa dituruti semua kemauannya dan tak ada yang berani menghalangi langkahnya. Jadi Chae-gyeong tenang saja. Walaupun pernikahan ini hanya sementara, kalau Chae-gyeong memang ingin cepat bercerai, maka Shin akan mengabulkannya. Nikah ja belum da bilang cerai. Chae-gyeong malah sedih mendengar hal itu daripada mengingat rasa kangennya pada keluarganya.

Di rumah Chae-gyeong, kedua orangtua dan adik Chae-gyeong sudah bersiap mengenakan Hanbok untuk menghadiri upacara pernikahan Chae-gyeong. Sebelum berangkat, mereka duduk bersila dihadapan mendiang kakek Chae-gyeong dan mengucapkan terimakasih pada kakek karna perjanjian yang kakek buat membuat hidup mereka sangat bahagia karna bisa membuat mereka menjadi bagian dari anggota Keluarga Kerajaan.

Kedua orangtua Chae-gyeong masih sempat bertengkar karna Ayah Chae-gyeong tak bisa menghafal kata-kata yang harus diucapkannya pada pernikahan Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong mengancam akan benar-benar minta cerai kalau Ayah Chae-gyeong tak melakukan semuanya dengan benar. Ckckck…..

Upacara pernikahan berlangsung dengan khidmat. Ibu Suri dan Ratu yang menyaksikan lewat tv bersama para dayang. Upacara pernikahan yang sangat meriah. Seo Sang-gung bilang, upacara ini seakan seperti pembukaan Piala Dunia di Korea tahun 2002 yang lalu. Ibu Suri tak tahu kalau ternyata akan ada banyak orang menyaksikan pernikahan ini. Pasti semuanya disini karna tertarik dengan Putra Mahkota Shin.

Ratu mengatakan, semua ini karna Pangeran Shin memilih gadis yang bukan dari kalangan istana untuk menjadi istrinya. Jadi banyak rakyat yang tertarik dan penasaran ingin melihat. Ibu Suri mengiyakan hal itu. Tapi Ibu Suri agak khawatir kalau Putri Mahkota melakukan kesalahan karna Chae-gyeong baru saja masuk istana dan hanya sebentar mempelajari tentang pernikahan Keluarga Kerajaan. “Jika sampai Putri Mahkota melakukan kesalahan, maka…” kata Ibu Suri. Ratu memotong perkataan Ibu Suri dan berkata agar Ibu Suri tenang. Choi Sang-gung sudah mengajari Chae-gyeong dengan baik, jadi janngan mengkhawatirkan hal itu.

Ibu Suri pun tenang kembali dan merasa senang karna banyak orang yang akan menyaksikan upacara pernikahan tradisional dari kerajaan korea. Upacara pernikahannya harus lengkap dan tanpa ada kesalahan apapun.

Chae-gyeong yang sedang duduk, agak gugup saat melihat Choi Sang-gung yang juga memakai hanbok datang menemuinya dan mengatakan kalau Pangeran baru saja tiba. Choi Sang-gung meminta Chae-gyeong untuk keluar karna upacara pernikahan akan segera dimulai.

Keluarga Chae-gyeong juga sudah sampai di istana. Ayah Chae-gyeong juga masuk ke dalam sebuah bangunan istana dengan gugup untuk melaksanakan upacara pernikahan. Di jalanan sudah dipadati oleh orang-orang yang ingin menyaksikan pernikahan mereka. Termasuk teman-teman Chae-gyeong. Mereka berkata pada orang-orang kalau mereka tema dekat putrid mahkota. Tapi sayang tak ada yang percaya pada mereka.

Sementara itu, Yeol malah asyik membaca buku sambil membelakangi tv yang menyiarkan berita tentang pernikahan Shin dan Chae-gyeong. Pakaian Hanbok yang disediakan untuknya masih tertata rapi di meja. Salah seorang pejabat istana menghampiri Yeol dan meminta Yeol untuk mengenakan pakaian yang sudah disediakan untuknya. Yeol bilang dia ingin menyaksikan lewat Tv saja. Pejabat Jang bilang kalau para tetua sudah menunggu Yeol untuk datang ke istana Eun-yeong. Yeol bilang kalau dia merasa tak nyaman kalau harus memakai hanbok. Pejabat Jang bilang, apa hanya karna hanbok itu jadi Yeol tak mau menghadiri upacara pernikahan itu. Yeol tak bisa menjaawabnya dengan lancar. Dia gugup.

Pejabat Jang mengatakan, apa Yeol teringat kematian Ayahnya dan merasa sedih karnanya hingga tak mampu menghadiri upacara pernikahan itu, Yeol hanya mengangguk dengan sedih. Kemudian mengambil foto keluarganya yang terjatuh.

Sementara itu di bagian istana yang lain, Shin memasuki sebuah bangunan yang tadi dimasuki oleh Ayah Chae-gyeong untuk melaksanakan bagian dari upacara pernikahan istana.

Di Thailand, kompetisi balet internasional sedang berlangsung. Hyo-rin menyaksikan saingannya sedang beraksi dengan tarian baletnya yang indah. Hyo-rin mendesah, dia ingat Shin. Dia ingat saat-saat berdua dengan Shin. Bermain piano berdua dengan Shin. Kemudian dia teringat tugasnya. Berlatih 13 jam sehari, setiap hari dalam setahun. Dan pembuktian latihannya sekarang hanya berlangsung dalam 5 menit saja. Jadi dia tak boleh melakukan kesalahan sedikitpun.

Seorang peserta lagi dipanggil, Hyo-rin agak gugup karnanya. Gurunya menghampiri Hyo-rin dan mencoba menghiburnya untuk tetap tenang dan jangan gugup. Guru Hyo-rin memeluk Hyo-rin untuk menenangkan murid kesayangannya itu. Hyo-rin senang karnanya.

Upacara pernikahan masih belum selesai. Shin dipertemukan dengan kedua orangtua Chae-gyeong dan juga Chae-gyeong. Shin masih sempat memandang menggoda Chae-gyeong. Chae-gyeong tak suka melihatnya. Giliran ayah Chae-gyeong menyampaikan pesan untuk Shin. Walaupun gugup, tapi Ayah Chae-gyeong bisa melaksanakannya dengan benar, karna ada contekan di telapak tangannya. Ibu Chae-gyeong mengucapkan pesannya dengan lancar. Sementara itu di luar, Chae-jun melambaikan tangannya pada kakaknya.

Di tempat lain, ketiga sahabat Shin juga menyaksikan upacara pernikahan walaupun hanya lewat tv saja. Mereka berkumpul di sebuah Café sambil bermain bilyard. Tapi kemudian mereka terkejut dengan tingkah Chae-jun yang membuka bajunya untuk diperlhatkan di tv. Konyol! Mereka menertawakan tingkah Chae-jun tanpa tahu siapa Chae-jun.

Tak hanya wartwan lokal, ada banyak wartawan dari luar negeri yang juga meliput upacara pernikahan itu. Yeol berada di antara para wartawan itu. Wajahnya sedih memandang Shin.  Kemudian dia mundur untuk menjauh dari tempat itu.

Chae-gyeong keluar dari dalam istana Eun-yeong bersama kedua dayang dan juga Choi Sang-gung untuk dipertemukan dengan Shin. Shin memandangi istrinya itu dari atas sampai bawah. Chae-gyeong tersenyum pada Shin. Cantik sekali. Mungkin itu yang membuat Shin terus saja memandangi Chae-gyeong. ehm…ehm… Kemudian Choi  Sang-gung dan kedua dayang Chae-gyeong mengantar Chae-gyeong ke sebuah kereta.

Di Thailand, sampailah giliran Hyo-rin untuk menari. Dia menarikan tarian balet dengan indah dan menuai decak kagum dari para juri dan penonton.

Ibu Suri merasa senang karna upacara itu berlangsung dengan lancar tanpa kesalahan apapun. Ibu Suri memuji Ratu yang sudah mendidik Chae-gyeong dengan benar dan memberikan tanggung jawab untuk mendidik Chae-gyeong mengenai peraturan istana pada Ratu. Dengan senang hati Ratu menerima perintah itu. Saat sedang ngobrol serius tiba-tiba terdengar suara HP. Ternyata HP salah satu dayang yang ada disitu. Dayang itu pun keluar ruangan dengan malu.

Di salah satu halaman istana, Yeol sedang menyendiri sambil memegangi foto kedua orangtuanya. Dia melihat istana tempat dulu mereka tinggal. Yeol melakukan latihan yoga disana saat Seo Sang-gung datang menghampirinya. Seo Sang-gung menceritakan tentang Ayah Yeol. Sepertinya baru kemarin Ayah Yeol menikah dan menjadi seorang Raja. Waktu seakan cepat sekali berlalu dan banyak hal yang berubah disini. Seo Sang-gung bilang kalau Yeol mirip sekali dengan ayahnya hingga membuat Seo Sang-gung seakan masih hidup di masa lalu bersama Ayah Yeol. Yeol tersenyum senang mendengar ada seseorang yang masih selalu mengingat Ayahnya yang sudah meninggal.

Sementara itu, Shin dan Chae-gyeong di arak keliling kota dengan kereta disambut oleh begitu banyak warga yang antusias menyaksikan upacara pernikahan mereka dari layer lebar yang di pasang di sepanjang jalan. Shin melambaikan tangannya dan tersenyum. Chae-gyeong hanya tersenyum di atas keretanya. Saat sampai di hadapan teman-temannya, Chae-gyeong hanya diam saja, karna itu etiket pernikahannya. Tentu saja teman-teman Chae-gyeong kecewa karnanya.

Mereka bertiga masuk ke sebuah restoran untuk makan. Kang-hyeon meminta mereka untuk bergembira. Mereka ingin makan Sup Ayam gingseng untuk mengatasi rasa kecewa mereka tapi sayang sekali hari ini di restoran itu ada sangat banyak pelanggan hingga membuat makanan di restoran mereka sudah ludes dalam waktu singkat. Tentu saja mereka tambah kecewa karnanya.

Di istana, Chae-gyeong diantar Choi Sang-gung untuk bertemu dengan Shin dan para pekerja istana yang hendak mengucapkan selamat atas pernikahan mereka berdua. Salah seorang pejabat senior mewakili rekan-rekannya mengucapkan ucapan selamat pada Shin dan Chae-gyeong. Saat pejabat itu menunduk memberi hormat, Chae-gyeong pun melakukan hal yang sama. Tapi sayangnya tindakan itu membuat hiasan sanggul di kepala Chae-gyeong jatuh di atas kepala pejabat itu. Wakkkkkkk……

Semua orang kaget melihatnya. Chae-gyeong panik dan mencoba meminta tolong pada Shin. Tapi Shin tak mau tahu. Dia malah menjauh dari Chae-gyeong.

Sementara itu di rumah Chae-gyeong juga sedang sibuk menerima kerabat, tetangga maupun kenalan mereka yang datang untuk mengucapkan selamat pada mereka. Sementara itu, Chae-jun sedang menerima telepon dari salah seorang temannya yang melihat aksinya di tv. Dengan bangga Chae-jun bilang kalau sekarang ini dia adalah adik ipar dari putra mahkota.

Sementara itu Ibu Chae-gyeong juga menerima banyak telpon dari orang-orang yang ingin menjadi anggota asuransi perusahaan tempatnya bekerja. Ayah Chae-gyeong juga tak kalah sibuk menerima ucapan selamat dari anggota keluarga dan kenalannya. Dulu ga da yang peduli pada mereka. Sekarang tiba-tiba semua orang jadi perhatian pada mereka, seperti ingin cari mukla saja, itu anggapan Ibu Chae-gyeong pada orang-orang yang sekarang sok perhatian pada keluarga mereka.

Di istana, Shin dan Chae-gyeong merasa kelelahan setelah melakkan serentetan upacara. Mereka sudah berganti baju dan menghadapi jamuan makanan yang disediakan untuk mereka berdua. Chae-gyeong masih marah karna tadi Shin tak mau membantunya. Chae-gyeong memanggil Shin dengan sebutan Shin-gun. Shin tak suka. Tapi Chae-gyeong malah mengeraska suaranya dan terus memanggil Shin dengan sebuatan Shin-gun. Shin malah menggodanya, menggunakan mahkota seberat 10kg untuk memukul kepala Perdana Menteri, bukan ide yang buruk. Jaaaaaaaah………

Chae-gyeong melirik marah. Kemudian dia berkata dalam hati, sebenarnya Shin itu laki-laki seperti apa. Shin bisa bicara dengan tenang bahwa dia ingin bercerai di masa mendatang. Tapi Shin bisa tersenyum dengan manis saat upacara pernikahan berlangsung dengan serius. Sepertinya dia seorang pria dengan kepribadian yang aneh. Senyumnya juga sangat manis dan hangat saat melambaikan tangan pada orang-orang yang menyambutnya di jalanan. Dan sekarang sepertinya Shin sedang sibuk berpikir. Chae-gyeong benar-benar penasaran dengan kepribadian Shin. Dia tak tahu apa yang akan terjadi di masa depan. Tapi yang dia tahu sekarang mereka berada dalam sebuah kapal yang sama.

Choi Sang-gung masuk ke ruangan itu untuk memimpin upacara minum arak untuk mereka berdua. Dia dan kedua dayang Chae-gyeong sangat terkejut melhat Shin dan Chae-gyeong yang sama-sama tertidur bersandar di dinding kamar itu. Choi Sang-gung pun membangunkan mereka dan berkata ada upacara yang belum mereka lakukan. Shin segera bangun. Lain hal nya dengan Chae-gyeong yang susah dibangunkan. Shin bilang pada Choi Sang-gung kalau dia yang akan membangunkan Chae-gyeong.

Shin membangunkan Chae-gyeong dengan mengguncang-guncang tubuh Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong bukannya bangun malah mengigau sambil memegangi kerah Shin. Tiba-tiba Chae-gyeong terbangun dan kaget karna ternyata dia memegangi kerah baju Shin. Karna takut, dia pun pura-pura tidur lagi. Shin tertawa melihatnya. Tapi kemudian berteriak marah dan meminta Chae-gyeong untuk tak berpura-pura tidur.

Shin, Chae-gyeong, kedua dayang dan juga Choi Sang-gung melaksanakan upacara Tong Ne, yang berarti awal malam pertama bagi pasangan suami istri. Tapi karna mereka berdua masih di bawah umur, maka upacara itu akan dilaksanakan saat mereka sudah beranjak dewasa. Jadi sekarang, acaranya hanya makan dan minum saja.

Shin bertanya kenapa malam pertama mereka harus di undur, tentu saja Choi Sang-gung kaget mendengarnya. “Apa dia sudah gila?” celutuk Chae-gyeong. Shin meminta Chae-gyeong untuk diam saja dan memanggil Chae-gyeong dengan sebutan Kue Beras.
Tentu saja Chae-gyeong tak terima mendengarnya. “Meskipun kau memohon padaku, aku takkan tertarik dengan malam pertama. Aku hanya penasaran saja dengan hal itu. Bukankah ini lucu, membatasi kita karna usia kita” lanjut Shin kemudian.

Chae-gyeong hanya diam sambil menunduk. Kemudian, mulailah mereka makan dan minum dengan di pandu oleh Choi Sang-gung dan dibantu oleh kedua dayang Chae-gyeong. Chae-gyeong merasa senang karna makanannya enak. Mereka ngobrol berdua setelah makan dan minum sementara di luar ruangan, Choi Sang-gung dan para dayang berjaga setengah mengantuk. Shin bilang dia juga mengantuk dan mungkin dia akan tertidur disini. Mata Chae-gyeong yang besar itu terbelalak kaget mendengar kata-kata Shin. Shin memandangi Chae-gyeong, “Taka pa-apa kan kalau kita berdua tidur disini?” tanyanya. Chae-gyeong tak suka dan menyuruh Shin untuk bangun.

Kemudian Chae-gyeong bertanya, benar kan yang dikatakan Choi Sang-gung kalau mereka akan tidur di ruangan yang terpisah. Shin membenarkannya, dan dia berkata dia akan pergi. Saat Shin berdiri dan hendak melangkah pergi, Chae-gyeong memanggilnya dan berkata, bagaimana bisa Shin meninggalkannya sendirian. Chae-gyeong meminta Shin untuk menunjukkan jalan. Karna sejujurnya, Chae-gyeong merasa istana adalah tempat asing untuknya. Tapi Shin sudah tinggal disini sepanjang hidupnya, jadi Shin pasti tak bisa merasakannya.

“Tapi jika kau berpikir karna aku suamimu dan aku harus bertanggung jawab padamu, aku tak mau melakukannya untukmu. Aku tak bisa melakukannya. Apa kau mengerti?” tanya Shin. Chae-gyeong sedih mendengarnya.  “Aku tahu ini kesalahanku. Tapi aku tak bisa merubahnya. Inilah kepribadianku sejak aku lahir. Jadi, jangan pasang muka sedih seperti itu. Aku benar-benar meminta maaf karna tak dapat melakukannya untukmu” lanjut Shin.

Shin menghampiri Chae-gyeong dan mengulurkan tangannya. “Sebagai seorang teman, aku bisa mendengarkan apa yang kau inginkan” kata Shin. Chae-gyeong yang sudah kesal tertawa penuh arti sambil menjabat tangan Shin. Tapi kemudian Chae-gyeong menarik tangan Shin dan menggigitnya keras-keras hingga membuat Shin berteriak kesakitan. Para dayang yang ada di luar yang tadinya setengah tertidur pun jadi terbangun mendengar suara teriakan Shin.

Chae-gyeong melepaskan gigitannya dan mengata-ngatai Shin. Dia tak mau punya teman seperti Shin. Shin mencoba hendak memukul Chae-gyeong karna kesal tapi di haling-halangi oleh para dayang. Shin memaki-maki Chae-gyeong tapi Chae-gyeong menutup kedua telinganya sambil meledek Shin untuk bicara lebih keras karna dia tak mendengar apa-apa. Hehehehe…..

Para dayang membawa Shin keluar dari ruangan itu. Sementara Chae-gyeong termenung sendirian di kamar itu. Chae-gyeong kecewa dengan perlakuan Shin tadi. Dia hanya ingin lebih mengenal Shin.

Bersambung……….