Selasa, 01 Januari 2013

Princess Hours Episode 18

Chae-gyeong bersembunyi dan merasa lemas juga deg-degan bersembunyi di dalam lemari. Chae-gyeong tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika dia keluar sekarang, dia pasti terlihat aneh. Dia jadi salah tingkah sendiri. Dia berkata pada dirinya sendiri, dia tak melihat apa-apa dan dia harus melupakan semuanya. Shin menjatuhkan sesuatu dan memungutnya. Chae-gyeong segera sembunyi lagi.

Shin masuk ke kamar mandi. Chae-gyeong berusaha keluar dari tempatnya sembunyi. Tepat saat itu, Shin keluar lagi dari kamar mandi. Tentu saja itu membuat Chae-gyeong panik dan masuk lagi ke dalam lemari. Chae-gyeong marah-marah sendiri di dalam lemari karena bingung tak bisa keluar. Chae-gyeong bilang dia harus keluar dari lemari itu. Tapi kemudian dia membayangkan, kalau dia keluar dan Shin juga keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang, maka itu akan membuatnya malu seumur hidup. Kemudian tiba-tiba Chae-gyeong merasa kakinya kesemutan.

Karena lelah dan kesemutan, Chae-gyeong tertidur saat Shin selesai mandi dan berdiri di depan lemari. Chae-gyeong terbangun dan kemudian mulai keluar dari lemari dan memegangi kaki Shin. Tentu saja Shin berteriak dan naik ke tempat tidur karena kaget. Chae-gyeong mencoba keluar dari dalam lemari dan berkata dengan lemah, “Shin-gun ini aku. Kubilang ini aku. Aku Shin Chae-gyeong.

Shin sudah memakai selimut untuk menutupi badannya yang telanjang. Dia duduk di samping tempat tidur. Chae-gyeong sudah berhasil keluar dan bersandar di sisi tempat tidur. Shin marah-marah pada Chae-gyeong. Dia hampir saja mati karena kaget. Dan memarahi Chae-gyeong kenapa harus bersembunyi di dalam lemari.

Chae-gyeong bilang, dia merasa kakinya tadi kesemutan. Tapi sekarang dia merasa seluruh badannya kesemutan. Shin merasa lega. Tapi tiba-tiba Chae-gyeong berkata, “Tunggu sebentar, Shin-gun. Apa kau tak pakai celana dalam?”. Raut wajah Shin mulai berubah. Dia pun jadi panik mendengar kata-kata Chae-gyeong.

“Jangan bilang kau lihat sesuatu. Kau tak lihat apa-apa, kan?” tanya Shin. Chae-gyeong tertawa. “Tidak! Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda. Apa yang bisa kulihat darimu. Kau  masih atkut aku melihat sesuatu ya? Mana mungkin. Aku tak melihat sesuatu yang aneh” jawab Chae-gyeong. Shin hanya terdiam terpaku. Sementara Chae-gyeong berlari menjauh sambil berteriak karena bingung.

Kang-hyeon, Hui-sung dan Sun-yeong sedang ada di sauna. Mereka menikmati berendam air hangat. Sun-yeong berkata, mereka senang sekali dan bisa menikmati semua kemewahan ini karena jadi teman Yang Mulia Permaisuri, Shin Chae-gyeong. Kang-hyeon dan Hui-sung meminta Sun-yeong melepas topinya. Sun-yeong malah turun ke bawah dan meminjam kacamata Kang-hyeon.

Kang-in, Jang-gyeong dan juga Ryu-wan masuk ke dalam sauna itu dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Kang-in meledek mereka, apa sekarang para bebek sudah berubah jadi angsa dan datang ke spa. Kang-in mengambil dan melepas topi Sun-yeong dan memberikannya pada Jang-gyeong. jang-gyeong malah memakai topi Sun-yeong sambil tertawa. Semuanya tertawa karenanya.

Kang-in tiba-tiba kaget dan kemudian menghampiri Kang-hyeon. Dia seakan tak percaya memandangi Kang-hyeon tanpa kacamata. Dia langsung melepas kacamatanya dan menghampiri Kang-hyeon. “Kau adalah…” kata Kang-in dengan takjub. “Hei, ada apa?” tanya Jang-gyeong. “Kenapa seorang pria sepertiku sampai tak sadar ada angsa seanggun dia” jawab Kang-in. “Dasar bodoh. Kau bilang dia angsa, lalu apakah kita juga harus berubah jadi angsa?” canda Jang-gyeong. Semuanya tertawa mendengarnya.

Chae-gyeong selesai keramas dan ada di depan kaca. Rambutnya di bungkus pakai handuk. Shin masuk dan meledeknya dengan bilang, rambut Chae-gyeong seperti es krim. Shin duduk di kasur di belakang Chae-gyeong sambil membaca. “Kapanpun kami pergi berempat ke suatu tempat, aku Kang-hyeon, Hui-sung dan juga Sun-yeong… Kami akan minum bir dan kemudian bercerita tentang cerita hantu dan kami akan ngobrol dan melukis wajah yang lainnya yang duluan tidur. Tapi tidur sekamar denganmu membuatku bosan dan tak berdaya” keluh Chae-gyeong.

“Apa? Tak berdaya?” tanya Shin. “Lalu kenapa kau tak tidur bersama mereka sekarang? Aku takkan menghentikanmu. Cepat pergi sana” kata Shin sambil berusaha mengusir Chae-gyeong dengan kakinya. “Lagipula, aku tak suka tinggal dengan seorang pengintip sepertimu” tambah Shin. “Pengintip apa?” kata Chae-gyeong tak terima.

“Kau kan kemarin mengintipku saat aku selesai mandi. Dan juga…” Shin tak jadi meneruskan kata-katanya. Keduanya salah tingkah. Keduanya sama-sama malu mengingat peristiwa itu.

Tiba-tiba Shin memegang tangan Chae-gyeong. “Apa kau yakin kau tak melihat apapun?” tanya Shin. “Melihat apa? Aku tak lihat apa-apa. Aku hanya bercanda” jawab Chae-gyeong. “Apa kau benar hanya bercanda?” tanya Shin mencoba memastikan sekali lagi. “Itu benar. Kau ini kenapa seperti ini? Seorang pasangan pengantin juga memperlihatkan milik mereka masing-masing kan?” kata Chae-gyeong.

“Kau…Kau lihat sesuatu kan?” tanya Shin lagi. Dia memaksa Chae-gyeong mengaku. Chae-gyeong melepaskan tangannya dari genggaman Shin dan berkata kalau dia mau tidur siang. Chae-gyeong langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya lalu kemudian pura-pura tidur.

Hyo-rin sedang termenung sambil menatap pemandagan di jendela kaca. Yul datang dan menghampirinya. Hyo-rin tersenyum memandangi Yul. “Terimakasih karena sudah mengundangku” kata Hyo-rin. “Bukankah kuta teman” jawab Yul. “Aku takut karena aku, semua orang jadi merasa tak nyaman. Hanya itu yang kupikirkan” kata Hyo-rin. “Apa kau benar-benar lelah?” tanya Yul.

“Aku pikir aku lelah dan lebih baik kalau aku berhenti. Jadi, mungkin aku telah membuat kekacauan setiap hari dan aku menyesalinya. Tapi kurasa aku melakukan hal yang benar. Bisa ku katakan, Shin sangat menyukai Chae-gyeong sekarang” jawab Hyo-rin.

“Orang biasa mengatakan, ada cinta yang mulai muncul di antara mereka” kata Yul. “Yul, bicara tentang cinta, bukankah butuh dua orang untuk membentuk cinta itu?” tanya Hyo-rin. Yul hanya diam saja. Tiba-tiba Hyo-rin batuk-batuk. Yul menanyakan keadaan Hyo-rin. Hyo-rin bilang dia tak apa-apa.

Di istana,  Ibu Suri sedang berbicara bertiga dengan Ratu dan Ratu agung. Ibu Suri berkata, Pernikahan Putra Mahkota sudah dilaksanakan. Sejak Hye-jeong dan Yul kembali ke istana, suasana istana jadi lebih meriah. Sekarang giliran Yul yang harus menikah dan menambah jumlah keluarga istana lagi. Mereka belum memiliki pewaris lagi. Saat Yul menikah, Shin dan Yul harus melahirkan pewaris kerajaan sebanyak mungkin. Ratu dan Ratu agung harus ingat hal itu baik-baik.

Ibu Suri juga bilang, kalau bicara tentang hal itu, Ibu Suri melihat kalau Chae-gyeong dan Yul begitu dekat. Apa mereka berdua telah kenal dalam waktu yang begitu lama? Hye-jeong hanya bisa diam saja. Sedangkan Ratu beralasan, mereka berdua adalah teman sekelas. Jadi wajar kalau mereka sangat akrab. Hye-jeong menambahkan, saat pertama kali Yul datang ke negara ini, Chae-gyeong sudah banyak emmbantu Yul. Ibu Suri mengangguk-angguk dan berkata, jadi begitu alasannya kenapa mereka berdua bisa dekat.

“Tapi sepertinya mereka berdua begitu dekat. Apa Putra Mahkota tak cemburu melihatnya?” tanya Ibu Suri. “Yang Mulia, meskipun Putra Mahkota masih sangat muda, tapi pemikirannya terbuka” jawab Ratu. Ibu Suri tertawa mendengarnya dan berkata, “Iya, aku tahu. Aku hanya bercanda”. Hye-jeong tak suka mendengar hal itu. “Bagaimanapun juga, keluarga kerajaan belum pernah seharmonis ini, kan?” kata Ibu Suri sambil tertawa. Ratu tersenyum senang mendengarnya. Hye-jeong hanya bisa memendam kekesalannya.

Hye-jeong dan Kwak Sang-gung keluar dari kediaman Ibu Suri. Hye-jeong berhenti saat bertemu dengan Kasim Kong. Kasim Kong memberi hormat pada Hye-jeong. Hye-jeong memerintahkan Kwak Sang-gung untuk pergi sekarang. Hye-jeong dan Kasim Kong ngobrol dengan tegang berdua.

“Ngomong-ngomong, Kasim… Saat Putra Mahkota Hyo-ryul masih hidup, bukankah kau yang selalu menunggui Pangeran Hwi-seong. Tapi kenapa kau sekarang malah melayani Pangeran Shin. Jadi sebenarnya standar kesetiaan seorang Kasim Kepala itu berdasarkan atas apa?” sindir Hye-jeong. “Tugas seorang Kasim Kepala itu bukan menunggu seseorang tapi melihat posisinya. Setelah kematian Putra Mahkota Hyo-ryul, tugasku juga berubah. Sekarang aku hanya memberikan kesetiaanku pada Putra Mahkota” jawab Kasim Kong dengan tegas.

“Jadi begitu. Jadi, jika Putra Mahkota-nya adalah Pangeran Hwi-seong, kau juga akan kembali melayani Pangeran Yul lagi? Aku hanya ingin bicara. Baiklah kalau begitu…” tanya Hye-jeong. “Kalau begitu, aku juga punya sesuatu yang ingin ku katakan pada anda, Yang Mulia. Haruskah aku mengatakannya?” tanya Kasim Kong. Hye-jeong meminta Kasim Kong untuk mengatakannya.

“Akhir-akhir ini, Pangeran Hwi-seong sering sekali keluar masuk Paviliun Myeong-seon. Apakah mungkin Pangeran Hwi-seong mengetahui insiden itu, Yang Mulia?” tanya Kasim Kong. Hye-jeong terkejtu mendengarnya. Tapi dia mencoba mengendaikan diri. “Apa? Yul? Itu tak mungkin” jawab Hye-jeong. “Itu juga yang saya harapkan, Yang Mulia. Akan lebih baik kalau anak-anak tak tahu tentang apa yang terjadi dengan orangtua mereka. Kalau begitu, saya pamit dulu” kata Kasim Kong. Hye-jeong hanya bisa memandangi Kasim Kong dengan memendam kejengkelannya.

Tetua kerajaan sedang bersidang. Mereka berdebat tentang siapa yang berhak dan pantas untuk menjadi seorang Putra Mahkota yang akan menggantikan Raja kalau Raja mundur dari posisinya. Ada yang berpendapat kalau Shin masih pantas, tapi banyak juga yang mendukung agar posisi Putra Mahkota Shin diganti dengan Yul karena Shin akhi-akhir ini hanya membuat malu keluarga kerajaan saja.

Raja sedang berdua bersama dengan Kasim Kong. Raja bertanya apakah Shin, Chae-gyeong dan juga Yul selamat tiba di Villa. Kasim Kong berkata, dari yang dia dengar, mereka semua selamat tiba disana. Raja berkata, dia merasa buruk karena lupa akan hari ulang tahun Yul. Untungnya Putra mahkota dan Istrinya menemaninya untuk merayakan ulangtahunnya. Itu melegakan bagi Raja.

“Yang Mulia, ada kabar yang beredar di luar istana” kata Kasim Kong. “Katakan saja” kata Raja. “Maaf Yang Mulia. Kata mereka, Posisi Pangeran Hwi-seong jadi semakin meningkat dimata mereka. Mereka bahkan berkata kalau mereka ingin posisi Putra Mahkota diganti dengan Yul” kata Kasim Kong. “Melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini, pantas kalau mereka berpikir seperti itu. Itu bukan hal yang mengejutkan” kata Raja. “Yang Mulia, bukankah kita harus meredam itu semua. Semakin hari, berita itu semakin menakutkan” kata Kasim Kong kemudian.

“Kasim Kepala” panggil Raja. “Ya, Yang Mulia” jawab Kasim Kong. “Sejujurnya, kau juga merasa kalau Pangeran Hwi Seong lebih pantas untuk jadi seorang Pangeran yang akan jadi Raja berikutnya” kata Raja. Kasim Kong memandangi Raja seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Yang Mulia, tak seharusnya anda berkata seperti itu” kata Kasim Kong. “Aku tahu. Tapi setelah kuamati peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, aku selalu berpikir seperti itu” kata Raja.

Di kediaman Hye-jeong, Kwak Sang-gung berkata kalau Baek Cheon-ha sudah datang dan ingin bertemu dengan Hye-jeong. Hye-jeong meminta Baek Cheon-ha untuk masuk ke dalam dan duduk. Hye-jeong berkata kalau mulai sekarang dia mungkin membutuhkan bantuan Baek Cheon-ha. Hye-jeong membutuhkannya untuk mencari seseorang secara rahasia. Tapi Baek Cheon-ha harus bergerak dengan hati-hati. Baek Cheon-ha mengerti itu.

Chae-gyeong tidur siang di kamarnya sambil mengenyot jempolnya. Shin terbangun dan tersenyum geli melihatnya. Tapi Shin tak menyadari kalau wajahnya dilukis oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong menguncir rambut Shin, memakaikan lipstik di bibir Shin dan juga memakaikan melukis wajah Shin seperti cewek!

Shin membenahi selimu Chae-gyeong dan kemudian dia meraih handycam yang ada di sebelah tempat tidur Chae-gyeong. Saat dia melihat apa yang direkam oleh Chae-gyeong, barulah dia sadar akan kondisi rambut dan wajahnya yang dilukis oleh Chae-gyeong. Shin langsung berkaca dan menghapus semua riasan diwajah dan rambutnya. Kemudian Shin menghapus rekaman yang diambil Chae-gyeong.

Selesai membenahi dirinya, Shin mengatur handycamnya di meja dan hendak merekam sesuatu saat Chae-gyeong tertidur. Setelah dirasa cukup pas dan terang, Shin menekan tombol rec dan kemudian naik ke atas tempat tidur. Shin membelai Chae-gyeong yang sedang tertidur pulas dan kemudian menciumnya dengan mesra.

Kang-hyeon, Hui-sung dan Sun-yeong seperti biasa, sedang duduk bersantai bertiga. Hui-sung terus mengamati kaca sambil berkata pada dirinya sendiri, “Cermin, cermin, siapa gadis yang paling cantik di dunia? Hui-sung”. Kang-hyeon dan Sun-yeong mengatakan kalau Hui-sung sudah gila. Hui-sung terus sibuk dengan cerminya, sedangkan Kang-hyeon dan Sun-yeong mengamati majalah.

Tiba-tiba Kang-in masuk dan ikut mengamati majalah di depan wajah Kang-hyeon. Kang-in senyum-senyum sambil mengamati Kang-hyeon. Lalu Kang-in duduk di depan Kang-hyeon sambil terus tersenyum. Lalu dengan malu-malu Kang-in bertanya dimana Kang-hyeon tinggal. Dia juga bilang kalau dia tinggal di Kang-nam. Hui-sung malah yang menjawab pertanyaan Kang-in dan bilang kalau dia tinggal di Kang-bok dan kalau ke Kang-nam hanya butuh waktu 1 jam dengan naik kereta bawah tanah.

Kang-in berdehem dan kemudian berkata, “Ah, kau tahu siapa ayahku kan?” kata Kang-in sambil tersenyum malu-malu. Malah Hui-sung yang semangat mendengarkan kata-kata Kang-in. Tiba-tiba Ryu-wan datang dan berkata pada Kang-in kalau Shin mencarinya. Kang-in kesal karena mengganggu saja. Kang-in berpamitan dan senyum-senyum pada Kang-hyeon lalu keluar.

Chae-gyeong terbangun dari tidurnya. Dia memanggil Shin tapi Shin tak menjawabnya. Chae-gyeong mengeluh kenapa Shin pergi tanpa pamit padanya. Kemudian dia bangun dan menyadari sesuatu yang menarik. Dia tadi merekam saat dia mendandani Shin dan dengan penuh semangat dia keluar dengan membawa handycam itu.

Di ruang tengah, Chae-gyeong mengajak teman-temannya untuk menonton video lucu yang direkamnya. Ketiga teman Shin juga ada di sana dan merasa bosan, ingin nonton TV. Tapi keempatnya melarangnya. Hui-sung meminta mereka diam saja. Yang Mulia Permaisuri akan menunjukkan pada mereka film komedi dari keluarga kerajaan. Ketiga teman Shin memprotesnya. Apanya yang lucu, Hui-sung malah lebih lucu!

Hyo-rin berdiri di pojok ruangan. Yul baru saja datang dan diia diam sambil berdiri di belakang teman-temannya. Chae-gyeong meminta semuanya bersabar. Dan saat sudah terlihat gambar, dia mulai berteriak dan bersemangat agar teman-temannya menyaksikan adegan video lucu yang diambilnya.

Chae-gyeong mundur ke belakang agar yang lain bisa menyaksikannya. Tapi dia kaget saat melihatnya. Itu bukan film yang diambilnya. Kang-hyeon berkata, kalau bukan dia, siapa lagi yang mengambil dan merekam video itu. Bukankah itu handycam milik Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang bukan dia yang merekam itu.

Tiba-tiba, Shin datang dan berteriak dengan panik, “Ya! Handycam itu!!! Ahhhhh~”. Tapi terlambat. Video itu sudah sampai ke adegan dimana Shin mencium Chae-gyeong di atas tempat tidur dengan mesra. Chae-gyeong malu karena rekamannya tak sesuai yang ada di bayangannya karena sudah dihapus oleh Shin. Chae-gyeong berusaha menutupi layar TV, tapi semua yang ada sudah terlanjur melihat adegan romantis itu.

Hyo-rin kaget melihatnya. Yul terlihat kecewa karenanya. Jang-gyeong bertanya pada Shin, “Kenapa kau tunjukkan video itu pada kami semua?”. “Cerita cinta pasangan Putra Mahkota, kami sudah melihatnya dengan baik” ledek Kang-in. ryu-wan yang duduk di sebelah Kang-in ikut tertawa geli. Kemudian semuanya ikut bertepuk tangan.

“Hey! Hey hey hey! Ini bukan seperti itu. Jangan salah sangka. Bukan itu maksudnya” kata Shin mencoba menutupi rasa malunya. Chae-gyeong merasa malu dan dia langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu diiringi tatapan sedih Yul.

Chae-gyeong masuk ke kamanya dan mulai mengatur nafasnya. Chae-gyeong bertanya pada dirinya sendiri, kenapa Shin merekam adegan seperti itu? Apa dia benar-benar brengsek ataukah karena Shin ingin mempermalukannya? Dia merasa malu karena semua teman-temannya ikut melihatnya. Tapi kemudian dia tiba-tiba tersenyum dan bilang pada dirinya sendiri kalau dia ingin menonton video itu sekali lagi!

Ibu Chae-gyeong ada di istana dan menyapa Kim Sang-gung. Ternyata Kim Sang-gung adalah salah satu klien asuransinya. Ibu Chae-gyeong kemudian pamitan pergi ke suatu tempat. Ibu Chae-gyeong menuju ke kanti istana dimana Ayah Chae-gyeong sedang melayani dayang-dayang istana yang sedang makan siang.

Ayah Chae-gyeong melihat istrinya dan kemudian keduanya duduk bersama. Ibu Chae-gyeong bertanya bagaimana keadaan suaminya. Apakah bisa mengatasi semuanya dengan baik. Ayah Chae-gyeong mengiyakan kalau dia bisa mengatasi semuanya dengan baik dan kemudian bertanya apa yang sedang dilakukan istrinya di kantin istana. Istrinya bilang kalau dia sedang mencari klien baru untuk asuransinya. Ayah Chae-gyeong berkata pada istrinya kalau sekarang ini sudah tak ada orang di istana yang belum ikut dalam asuransi istrinya.

Istrinya tak terima sindiran suaminya. Dia bilang, dia harus memanfaatkan tambang yang mereka dapatkan untuk mencari emas sebanyak mungkin. Di istana itu banyak sekali orang. Dimana ada orang, disitu harus ada asuransi. Dan dimana ada asuransi, disitu pasti ada orang. Ayah Chae-gyeong memuji jiwa bisnis istrinya dan bertanya, target hari ini siapa. Istrinya bilang kalau target hari ini adalah Choi Sang-gung!

Ayah Chae-gyeong kaget mendengarnya. Choi Sang-gung kan belum menikah. Jadi mungkin dia tak butuh asuransi. Tapi istrinya bilang, karena masih sendiri, itu lebih berbahaya bagi seorang wanita. Istrinya merayu dan berkata, kalau dia mendapat klien, dia akan mengadakan pesta untuk suaminya karena sudah dapat pekerjaan. Tentu saja ayah Chae-gyeong senang mendengarnya, tapi tiba-tiba wajahnya berubah muram. Disaat seperti ini, dia ingin Chae-gyeong ada disini bersamanya. Tapi sayang Chae-gyeong sedang ada di pesta Ultah Yul.

“Aku berani bertaruh, hanya akulah ayah di dunia ini  yang menerima pekerjaan di istana hanya agar bisa bertemu dengan putrinya. Benar begitu kan? Kurasa aku memang terlalu mencintai putriku” kata Ayah Chae-gyeong. “Aigo! Itu karena kalian memiliki metal yang sama. Aku harus kembali bekerja” kata Ibu Chae-gyeong kemudian.

Ibu Chae-gyeong berusaha merayu Choi Sang-gung di kediaman Chae-gyeong. Choi Sang-gung berkata, pelayan istana tak diijinkan untuk menikah. Jadi dia takkan punya anak ataupun suami. Ibu Chae-gyeong kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin gadis secantik Choi Sang-gung memutuskan untuk tidak menikah. Choi Sang-gung berkata, dia berasal dari keluarga miskin dan Ratu lah yang selama ini menjamin hidupnya dan bahkan membiayainya hingga lulus universitas. Untuk membalas kebaikan Ratu, dia datang ke istana. Jadi tidak bisa menikah, bukanlah masalah untuknya.

Ibu Chae-gyeong bertanya, apa maksud Choi Sang-gung. Kalau tidak menikah, bagaimana mungkin hidupnya bisa jadi menarik. Menikah dengan seseorang yang dicintai, bertengkar dengan seseorangyang dicintai dan kemudian menghasilkan keturunan dan hidup bahagia bersama. Apa Choi Sang-gung merasa semua aturan itu adil untuknya.

Choi Sang-gung bilang itu adalah pilihannya. Ibu Chae-gyeong masih berusaha merayu dan berkata itu adalah eksploitasi pada seorang karyawan dan menyalahi hak asasi manusia. Itu adalah prinsip wanita modern. Tapi Choi Sang-gung berkata, di istana ini juga banyak seniornya yang tidak menikah. Dengan memelas ibu Chae-gyeong berkata, dia tak sanggup melihat Chae-gyeong menghabiskan waktu di istana dengan dikelilingi orang-orang yang tidak diijinkan untuk menikah. Dia akan memprotes hal itu dan memastikan kalau Choi Sang-gung akan diijinkan untuk menikah. Ibu Chae-gyeong pamitan pergi.

Ibu Chae-gyeong menyampaikan protesnya di depan Ibu Suri dan Ratu. Karena terlalu bersemangat dia sampai tersedak. Ibu Suri meminta Ibu Chae-gyeong untuk meminum tehnya. Ibu Chae-gyeong meminum tehnya. Dia berkata sampai dimana tadi, kenapa dia merasa tenggorokannya begitu sakit. Ratu dengan senyum-senyum berkata, terang saja sakit karena ibu Chae-gyeong baru saja bicara selama 30 menit!

“Bagaimanapun juga, bukankah yang kukatakan itu benar kan?” kata Ibu Chae-gyeong. “Aku merasakan banyak hal setelah kau mengatakan hal itu pada kami. Tapi itu adalah sebuah tradisi yang berlangsung cukup lama. Bukankah begitu Ratu?” kata Ibu Suri. “Ya. Mungkin aku harus mengatur ulang peraturan itu. Maafkan aku” kata Ratu. “Tak apa-apa. Sekarang kita harus mendengarkan dengan baik apa yang dipikirkan oranglain. Apa kau merasa lebih baik sekarang?” tanya Ibu Suri.

Ibu Chae-gyeong senyum-senyum. “Ya, aku merasa lebih baik. Terimakasih sudah mendengarkanku. Tapi apa aku tak keterlaluan ya?” tanya Ibu Chae-gyeong pada dirinya sendiri. “Kau baru saja bicara tentang peraturan yang tak kau suka di istana ini” kata Ibu Suri. Ratu berusaha menyembunyikan senyumnya.

Malam itu di Villa di adakan pesta topeng. Chae-gyeong dan ketiga temannya pergi ke belakang. Hyo-rin memuji ide kreatif Yul dalam menyelenggarakan pesta topeng ini. Yul hanya ingin semuanya merasa senang. Shin bertanya kemana istrinya pergi. Tapi Yul juga tak tahu apa-apa. Yul memandang ke sekeliling ruangan. Chae-gyeong akhirnya muncul bersama ketiga temannya sambil membawa tart.

Chae-gyeong membawa kue itu ke hadapan Yul. Shin memandang dengan cemburu. “Karena ini ulang tahun, kau juga butuh kue. Apa lagi yang kau tunggu Yul-gun? Ayo tiup lilinnya” kata Chae-gyeong. yul meniup lilinnya dan semua bertepuk tangan untuknya termasuk juga Shin. Mereka bertepuk tangan sambil mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Yul lalu kemudian bersulang tapi belum minum sampagne-nya.

Yul bilang ini adalah Pesta Ulang Tahun impiannya dimana dia selalu ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya seperti ini. Saat dia di Inggris, dia tak punya banyak teman. Chae-gyeong berkata, Yul sekarang punya banyak teman. Chae-gyeong minta persetujuan Shin tentang kata-katanya. Awalnya Shin hanya cuek tapi akhirnya dia mengiyakannya.

“Bagaimanapun juga, Selamat Ulang Tahun” ucap Shin. Yul mengucapkan terimakasih atas perhatian Shin. Keduanya lalu bersulang. Tapi saat Shin hendak meminum sampagne-nya, Hyo-rin menghentikan Shin dan meminta Shin agar tak meminum sampagne itu. Hyo-rin bilang itu sampagne buah peach dan Shin alergi buah peach. Shin bertanya pada teman-temannya apa benar itu sampagne peach, Kang-in yang memegang botol sampagne-nya mengiyakan hal itu.

Chae-gyeong terlihat kecewa. Karena dia sama sekali tak tahu akan hal itu tentang suaminya sendiri. hyo-rin bercerita, kalau terakhir kali Shin makan sekaleng buah peach, badannya jadi semerah wortel. Tapi lucunya, punggung Shin terdapat bintik-bintik dan bentuknya hampir menyerupai hati. Hyo-rin dengan semangat menceritakan hal itu. Tampak wajah Chae-gyeong kecewa. Shin tahu itu karena Chae-gyeong berdiri di sisinya. Karena itulah Shin berkata kalau peristiwa itu sudah lama sekali berlalu.

Chae-gyeong berusaha memendam rasa irinya pada Hyo-rin yang tahu banyak hal tentang Shin. “Jika kau minum itu, kau pasti dapat masalah besar” sindir Chae-gyeong sambil meminum sampagne-nya. Hyo-rin kemudian berkata, apa Shin juga bercerita tentang alerginya terhadap kacang. Chae-gyeong jadi tambah marah. Dia bilang dia sangat suka kacang dan buah peach, lalu meminum habis sampagne di gelasnya dan kemudian mengambil sampagne dari tangan Shin lalu meminumnya juga sambil berkata kalau dia sangat suka peach. Shin berusaha melarangnya, tapi Chae-gyeong yang merasa tersisihkan oleh Hyo-rin tak mempedulikan perhatian Shin.

Chae-gyeong duduk sendirian di atap sambil bermain-main dengan bara api. Yul datang menghampirinya dan berkata kalau dia tadi emncari Chae-gyeong. yul bertanya apa yang sedang Chae-gyeong lakukan disitu. Chae-gyeong bilang dia hanya ingin ada disini. Yul bertanya apa ini semua karena Hyo-rin, Chae-gyeong bilang  Hyo-rin tahu banyak hal tentang Shin daripada dirinya yang tak tahu apa-apa tentang Shin.

Yul berkata, Hyo-rin dan Shin sudah bertemu dan dekat selama 2 tahun. Dan yang dia dengar, mereka berdua memang sangat dekat. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Chae-gyeong berkata itu memang benar. Tapi tetap saja dia merasa sangat buruk karena tak tahu apa-apa tentang Shin. Apa waktu bisa membuatnya tahu banyak hal tentang Shin? Yul kecewa dan berkata, rasanya takkan mungkin semudah itu. Chae-gyeong mencoba mengendalikan airmatanya. Dia melihat sekelilingnya dan melihat sesuatu. Dia melihat Hyo-rin dan Shin yang sedang bicara berdua!

“Mereka bilang mereka akan mendukungku. Tapi sebenarnya yang mereka inginkan adalah membuatku pergi meninggalkan Korea” keluh Hyo-rin. “Jangan khawatir akan hal itu. Meskipun mereka keluarga kerajaan, mereka tak berhak mengatur hidupmu” kata Shin.

“Tidak. Aku sudah memikirkannya dengan tenang. Aku tak ingin selalu bergantung pada guruku. Dukungan ini lebih banyak untuk menggapai mimpiku. Dan juga, aku sudah menerimanya. Aku berpikir pergi ke luar dari Korea untuk belajar, dan kemudian aku berpikir tentang sesuatu. Tak lama lagi kau juga akan menyusul untuk belajar tentang film dan aku akan belajar balet. Itu mungkin akan butuh waktu 2-3 tahun lagi. Bukankah kau juga ingin belaja di luar negeri? Jika itu benar-benar terjadi, jika kita bisa belajar bersama, itu akan sangat menyenangkan” ungkap Hyo-rin.

Tanpa mereka tahu, Chae-gyeong mendengar percakapan itu dan tambah kecewa karenanya. “Pergi sendirian, aku pasti akan merasa kesepian” tambah Hyo-rin. “Aku memang ingin belajar ke luar negeri” kata Shin. “Jika kau ingin melebarkan sayapmu dan meraih mimpimu untuk belajar tentang film di Prancis, kau akan bisa memproduksi film terbaik” kata Hyo-rin. “Yeah. Setelah 2-3 tahun, pergi ke Paris adalah masa depanku” ungkap Shin. “Aku tahu kau akan berpikir seperti itu, lalu…” kata Hyo-rin tapi kata-katanya dipotong oleh Shin.

Chae-gyeong pergi meninggalkan  mereka dengan perasaan sedih, marah dan kecewa. Tanpa tahu apa yang Shin katakan pada Hyo-rin. “Tapi, kupikir, aku punya sesuatu yang lebih baik dari mimpiku yang baru saja muncul dalam kehidupanku. Jika aku benar-benar akan pergi, aku akan pergi bersama orang itu” ungkap Shin. Hyo-rin melepas topeng yang sedari tadi di pakainya. Dia seakan tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.

“Tapi sekarang, aku tak bisa meninggalkan istana. Ibuku mungkin tak benar-benar tulus membantumu. Tapi kurasa itu yang terbaik untukmu. Raihlah mimpimu di Paris” tambah Shin lagi.

Chae-gyeong duduk lagi bersama Yul. Matanya sudah mulai memerah dan berair. Tapi dia mencoba untuk tetap menahan kesedihannya. “Apa kau tahu apa yang Shin suka atau tidak?” tanya Yul. “Shin-gun pasti berbeda denganku. Shin-gun sudah merencanakan masa depannya tanpa aku. Aku tak seperti itu. Berpikir kalau Shin tak ada di masa depanku saja membuat hatiku sakit. Tapi Shin tak seperti itu. Dia benar-benar berbeda denganku” ungkap Chae-gyeong.

“Sudah kubilang padamu jangan percaya pada hatinya. Kau dan Shin memang tak cocok” kata Yul. “Ini membuatku berpikiran buruk, dia seharusnya mengatakan impiannya tentang belajar ke luar negeri padaku” keluh Chae-gyeong. “Tapi mungkin Hyo-rin membuatnya merasa nyaman daripada harus bicara padamu” kata Yul lagi. Chae-gyeong berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya sendiri.

Raja bertemu dengan seseorang di tepi danau. Ternyata yang ditunggunya adalah Hye-jeong. Mereka berjalan berduaan sambil bergandengan tangan dengan mesra dan tertawa gembira. Lalu keduanya duduk di sebuah bangku taman dan bercanda. Bahkan Raja mencium kening Hye-jeong. Raja tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ternyata itu adalah mimpi Raja. Raja terbangun dan kemudian duduk di kursi. Ratu ikut terbangun juga karena suaminya bangun. Tapi Ratu pura-pura masih tertidur di tempat tidurnya. Raja mengeluh kenapa mimpinya seperti itu. Padahal waktu sudah lama sekali berlalu.

Ratu kemudian bangun dan turun dari tempat tidur lalu mendekati suaminya dan duudk di depannya. Ratu bertanya pada suaminya ada apa. Apa Raja mimpi buruk. Raja agak kaget dan meminta maaf karena sudah membangunkan istrinya. Ratu bilang kalau dia juga tak nyenyak tidur.  Ratu bertanya Raja bermimpi apa. Tapi Raja berkata itu bukan apa-apa.

“Sudah 20 tahun aku hidup denganmu. Itu adalah waktu yang lama. Selama itu, aku selalu ada untukmu. Tapi kurasa, aku tak bisa dekat dihatimu” kata Ratu. “Apa maksudmu Ratu?” tanya Raja. “Aku selalu menunggu sampai hatimu kosong untuk ku tempati. Aku selalu menunggu dan menunggu. Terkadang aku ingin menyerah, tapi aku tak bisa. Aku harus melihat sampai anakku jadi Raja. Itu akan jadi hadiah terindah dalam hidupku yang bisa kau berikan padaku yang sudah selalu menderita disisimu dan hanya bisa diam saja” ungkap Ratu. “Ratu, tentang itu…” kata Raja. “Jadi, Yang Mulia, kau harus melindungi Putra Mahkota. Kau harus melakukan hal itu” tambah Ratu lagi.

Di pesta Yul, mereka menikmati api unggun sambil berbicara tentang kapan mereka bisa seperti ini lagi. Pasti akan sulit karena sebentar lagi mereka akan lulus. Jika mereka lulus, mereka akan berbaur di masyarakat. Mereka akan sulit untuk bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi.

“Kita akan memulai hidup dengan serius. Kapanpun, dimanapun. Kita harus hidup dengan serius tak peduli dimanapun kita berada” kata Chae-gyeong. “Hei, bebek, kau akan menghabiskan sisa umurmu di dalam istana, jadi bagaimana kau bisa berkata kalau kita harus hidup dengan serius?” tanya Kang-in. “Aku mungkin akan mendapatkan kebebasanku 2-3 tahun lagi” jawab Chae-gyeong.

Shin menatap Chae-gyeong. “Bagaimana mungkin kau bisa bebas? Apa kau tak ingat siapa kau?” tanya Hui-sung. “Bagaimanapun juga aku harus tetap memikirkannya” jawab Chae-gyeong. “Kalau begitu, nanti pasti akan muncul berita Sang Putri kabur dari istana” ucap Jang-gyeong. “Jangan bicara omong kosong tentang Putri yang meninggalkan istana” timpal Shin. “Aku juga berhak memikirkan masa depanku” kata Chae-gyeong. Shin hanya bisa menatap Chae-gyeong dengan kecewa.

Chae-gyeong bermain-main dengan lilin yang ada di depannya. Dan tangannya terluka karena panas. Chae-gyeong berteriak kesakitan karenanya. Sun-yeong dan Kang-hyeon langsung panik sambil memegangi tangan Chae-gyeong dan bertanya apa Chae-gyeong tak apa-apa, kenapa tak hati-hati. Yul bilang dia akan mengambilkan es untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang tak perlu. Dia yang akan mengambilnya sendiri. Yul mengajaknya pergi bersama. Shin hanya bisa memandangnya dengan memendam rasa kecewanya.

Yul membukakan pintu. Ada sebuah bata yang lepas dan bata itu membuat Chae-gyeong terjatuh. Yul berusaha menahan tubuh Chae-gyeong agar Chae-gyeong tak terluka. Shin memandangi keduanya dengan marah, tapi dia hanya diam saja. Chae-gyeong panik dan bertanya apa Yul tak apa-apa. Chae-gyeong kaget saat melihat tangan Yul yang terluka dan berdarah karena menimpa lampu dan lampu itu pecah.

Yul bilang dia tak apa-apa asalkan Chae-gyeong tak terluka. Yul berusaha berdiri. Mereka pergi bersama ke atap di depan bara api. Mereka duduk berdua disana. Chae-gyeong menempelkan plester di luka Yul. Chae-gyeong mengkhawatirkan luka Yul. Tapi Yul berkata kalau dia tak apa-apa. Bukankah Yul sudah pernah bilang, lebih baik dia yang terluka daripada melihat Chae-gyeong yang terluka. Dia akan merasa sakit saat melihat Chae-gyeong terluka.

“Sekarang, kita seperti ini, membuatku teringat saat bermain polo. Waktu itu kau datang padaku” kata Yul. “Waktu itu tak ada yang peduli padamu” kata Chae-gyeong. “Waktu itu, saat kau berlari untuk menolongku, aku bahagia walau hanya sekejap” ungkap Yul. “Maafkan aku, ini semua salahku” pinta Chae-gyeong. “Jika kau benar-benar minta maaf, maukah kau menerima sebuah hadiah dariku?” tanya Yul. “Hadiah? Tapi hari ini kan ulangtahunmu?” Chae-gyeong malah balik bertanya.

Yul tersenyum. “Ada sesuatu yang benar-benar ingin kuberikan padamu” kata Yul. “Baiklah” kata Chae-gyeong kemudian. Chae-gyeong menunduk. Yul mendekat dan kemudian mengecup kening Chae-gyeong. chae-gyeong kaget karenanya. Yul bilang, dia melakukan hal itu bukan sebagai seorang teman, tapi sebagai seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Yul mengucapkan terimakasih karena Chae-gyeong sudah muncul dalam hidupnya dan jadi bagian dari takdirnya.

Chae-gyeong hanya diam. Tapi dia merasa grogi. Dia mencoba menatap berkeliling, saat itulah dia tersadar, kalau Shin berdiri di depan mereka dan menatapnya dengan penuh kemarahan. Chae-gyeong mencoba berdiri. Tapi dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Chae-gyeong langsung duduk lagi. Shin menghampiri mereka dan meminta Chae-gyeong untuk berdiri. Chae-gyeong tak mau. Tapi Shin terus memaksanya. Shin menggenggam tangan Chae-gyeong dan meminta Chae-gyeong bangun. Yul berusaha membela Chae-gyeong dengan memegang tangan Shin dan berkata kalau Chae-gyeong tak mau jangan dipaksa. Shin dengan geram melepas genggaman tangan Yul lalu kemudian menyeret Chae-gyeong pergi dari tempat itu. Yul memandangi kepergian mereka berdua dengan menahan amarahnya.

Shin membawa Chae-gyeong pergi ke sudut ruangan. Chae-gyeong terus memegangi tangannya yang sakit karena diseret paksa oleh Shin. “Apa tak cukup bagimu untuk jatuh ke pelukan laki-laki lain seperti itu? Apa kau sangat menyukainya? Apa kau memang sangat peduli pada Yul?” hardik Shin. “Kau itu bicara apa? Kau pikir Yul terluka karena siapa?” teriak Chae-gyeong. “Bagiku, itu terlihat seperti kesempatan yang kalian berdua tunggu-tunggu. Bukankah dia melakukannya untuk melamarmu?” maki Shin.

“Berhenti bicara omong kosong. Kenapa kau tak fokus saja tentang rencana masa depanmu yang hebat?” Chae-gyeong ikut berteriak dengan marah tak mau kalah. Chae-gyeong melangkah pergi meninggalkan Shin. “Kau itu bicara apa?” teriak Shin. Chae-gyeong berhenti dan Shin berjalan menghampirinya. “Setelah 2-3 tahun, kita akan bercerai dan kau akan pergi ke luar negeri. Lebih baik kau mulai merencanakannya sekarang” jawab Chae-gyeong.

“Belajar di luar negeri? Oh itu” kata Shin. Shin berusaha menjelaskannya, tapi Chae-gyeong tak memberinya kesempatan untuk bicara. “Aku tak peduli dengan siapa kau pergi belajar ke luar negeri. Saat itu, aku akan kembali bersama keluargaku. Itulah masa depan yang kuinginkan” kata Chae-gyeong. “Jadi masa depan yang kau inginkan adalah kembali ke rumahmu?” tanya Shin kemudian.

“Ya. Jika kau memikirkannya, pasti semuanya akan berjalan dengan baik. Kau bisa pergi untuk meraih mimpimu dan aku bisa memulai hidup baruku dengan seseorang yang kusukai” kata Chae-gyeong. “Dengan kata lain, kau akan memulai hidup barumu dengan Yul?” tanya Shin dengan kasar. “Apa? Kau benar-benar hanya peduli pada dirimu sendiri. Yul-gun dan kau berbeda. Setidaknya dia jujur padaku. Kau tak pernah jujur padaku. Jika kau jujur, kami tak mungkin bisa sedekat ini sekarang” maki Chae-gyeong.

Chae-gyeong hendak melangkah pergi. Tapi Shin menahan tangan Chae-gyeong. shin memojokkan Chae-gyeong dna mencium Chae-gyeong dengan paksa. Chae-gyeong berusaha melepaskan dirinya. Akhirnya Chae-gyeong berhasil melepaskan diri. “Apa yang kau lakukan?” teriak Chae-gyeong. “Aku hanya ingin kau tahu kalau aku ini suamimu!” tegas Shin. Chae-gyeong menampar Shin  dan kemudian berkata, “Kau itu benar-benar brengsek!”. Chae-gyeong melangkah pergi meninggalkan Shin. Shin marah dan memukul tembok di depannya.

Princess Hours Episode 17

Shin sampai di kamar Hyo-rin dan dia kaget karena ada pengawal yang menjaga kamar itu. Hyo-rin membuka pintu dan kaget melihat kedatangan Shin. Shin masuk dan bicara berdua dengan Hyo-rin. Hyo-rin memegang dua tiket kenangan mereka.

“Aku sudah berpikir tentang masa lalu. Apa kau masih ingat? Tiket yang kita simpan saat pertama kalii kita bertemu? Kita membuat perjanjian untuk membukanya 10 tahun yang akan datang. Tapi kurasa aku takkan mengambilnya dalam waktu selama itu. Jadi aku mengambilnya kemarin. Untuk orang sepertiku, kenangan yang indah yang kubagi dengan seseorang, sepertinya sulit untuk menghapus semua itu. Ini sangat bodoh, tapi…setelah menyerah akan dirimu, aku baru menyadari betapa pentingnya kau dalam hatiku. Mungkin sampai akhir aku takkan bisa mengatasi rasa cinta itu. Tapi mulai sekarang, takkan ada halangan apapun dariku. Karena semuanya telah terhapus. Bagiku, keberadaan Shin tak ada yang bisa menggantikannya. Dan juga tak ada yang bisa disalahkan. Aku tahu itu. Lee Shin dan Shin Chae-gyeong, aku tak bermaksud bertindak sejauh ini dan membawamu dalam kesulitan. Maafkan aku karena telah hilang kendali” ungkap Hyo-rin panjang lebar.

“Hyo-rin, sepertinya kau bertindak terlalu jauh” kata Shin. Hyo-rin menangis. Shin pergi meninggalkan tempat itu. Shin memacu mobilnya di jalanan. Shin membelokkan mobilnya menuju suatu tempat.

Sementara itu di sebuah diskotik, Kang-in dan Ryu-wan sedang bersenang-senang disana sambil menikmati alunan musik. Tak berapa lama kemudian Shin masuk juga ke diskotik itu. Shin menelepon seseorang. Ternyata dia menelepon Kang-in. Malah Ryu-wan yang melihat Shin. Saat Ryu-wan menoleh ke arahnya, Shin melambaikan tangannya. Ryu-wan dan Kang-in menghampiri Shin.

“Benar. Aku merasa begitu frustasi. Untung kau menelepon. Jika merasa bosan, kenapa tak kau tunjukkan gaya berdansa ala Putra Mahkota” kata Kang-in. ryu-wan mengajak mereka minum. Tapi Kang-in bilang, kalau mau Ryu-wan bisa pergi sendiri. Shin juga hanya bisa diam saja. Shin teringat kata-kata ayahnya. “Kau hanya membuat malu keluarga kerajaan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Apa kau pikir kau masih layak menjadi seorang Raja?” maki Ayahnya. Shin mendesah, tanpa tahu kalau Kang-in dan Ryu-wan sudah pergi.  

Jang-gyeong masuk dengan buru-buru ke dalam diskotek itu. Dia mencari seseorang dan begitu melihat Shin ada di atas, dia naik dengan terburu-buru. Begitu sampai, Jang-gyeong langsung menarik kerah baju Shin. “Dasar brengsek. Dimana Hyo-rin?!? Dimana kau menyembunyikan Hyo-rin?” teriak Jang-gyeong.

Kang-in dan Ryu-wan kembali. Mereka mencoba melerai keduanya. Jang-gyeong minta mereka berdua tak  mengganggu. Ini urusannya dengan Shin. Keduanya pun akhirnya pergi lagi. Shin duduk diam di bangku sedangkan Jang-gyeong bersandar di depannya dan mulai bicara.

“Bermain-main dengan perasaan orang, apa itu menyenangkan? Aku bertemu Hyo-rin lebih dahulu daripada kau. Tapi aku masih memberikan Hyo-rin padamu. Kupikir itu bisa membuatnya lebih bahagia. Tapi ternyata aku salah. Kau bukanlah seseorang yang bisa memberikan kebahagiaan. Kau hanya peduli pada dirimu sendiri. hidup dibawah kemewahan sebagai seorang Putra Mahkota. Sesuatu seperti perasaan orang lain bukanlah hal yang penting, kan? ini benar-benar keterlaluan. Jika itu aku, setidaknya aku takkan melakukan hal itu, meninggalkan seseorang yang kucintai dan menikahi orang lain. Karena tindakan tak bertanggung jawab itu, Hyo-rin lah yang terluka” ceramah Jang-gyeong.

“Sepertinya kau lupa. Aku ini Putra Mahkota negara ini. Dibandingkan dengan orang-orang seperti kalian yang bicara tentang cinta setiap hari, yang aku punya hanyalah tanggung jawab” kata Shin dengan dingin. “Benarkah begitu? Di antara tanggung jawab yang kau miliki, kenapa kau memilih meninggalkan Hyo-rin?” bentak Jang-gyeong. “Jika aku tak bisa bertanggung jawab sampai akhir, aku takkan memilih untuk melakukan hal itu. Itulah prinsipku. Sebagai seorang teman, ku sarankan padamu, akhiri disini sekarang juga” balas Shin. Dia menepuk pundak Jang-gyeong dan turun ke bawah.

Kang-in dan Ryu-wan datang menghampiri Jang-gyeong. “Ini bukan pertama kalinya seorang Shin bertindak seperti itu. Lupakanlah. Ayo berdansa” ajak Kang-in. Jang-gyeong marah dan mengusir keduanya agar pergi. Ryu-wan mencoba membujuk Jang-gyeong sambil membawa minumannya. Jang-gyeong mulai marah dan mendorong Ryu-wan. Kebetulan ada tiga orang pemuda lewat dan membuat minuman Ryu-wan tumpah ke baju salah satu dari mereka. Tentu saja tiga orang itu tak terima dan terjadilah pertengkaran.

Shin ada di atas bukit dan termenung di dalam mobilnya. Dia menoleh ke samping dan memandangi suasana istana di malam hari.

Kasim Kong datang bersama Pengacara Han dan menerima laporan dari seseorang. Orang itu berkata, dia sama sekali tak bermaksud untuk mengganggu Kasim Kong dengan maslaah ini. Kasim Kong memperkenalkan diri sebagai asisten pribadi Shin. Dan dia sudah dari tadi menunggu sejak orang itu meneleponnya. Kasim Kong mengenalkan orang itu pada Pengacara Han.

Kedua dayang Chae-gyeong melihat pertemuan itu. Chae-gyeong bertanya, ‘Paman’ (Kasim Kong) sedang bersama siapa. Kedua dayangnya berkata, dari yang mereka dengar, orang itu dari kepolisian. Chae-gyeong bertanya mengapa dan ada apa. Tapi kedua dayangnya sama sekali tak tahu apa-apa. Chae-gyeong mencoba mendengarkan pembicaraan antara Kasim Kong, Pak Polisi dan juga Pengacara Han.

Polisi itu bilang, situasinya tak bagus untuk Putra Mahkota. Masalah ini menyangkut Putra Mahkota. Mereka harus segera melakukan investigasi. Kasim Kong bilang ini tak mungkin karena sekarang ini Putra Mahkota tak ada di istana. Chae-gyeong mendekati mereka dan ketiganya memberi hormat pada Chae-gyeong.

Chae-gyeong menunduk memeberi salam dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Dia dengar ada sesuatu terjadi pada Shin. Ada apa dengan Shin. Chae-gyeong cemas mendengarnya. Tiba-tiba Shin masuk dan semuanya terkejut memandangi kedatangan Shin.

Mereka mulai membicarakan masalah itu berempat. Kedua dayang Chae-gyeong melayani keempat pria itu sedangkan Chae-gyeong tidak diperkenankan mendekat. Chae-gyeong hanya bisa mengamati dari jauh dan menguping. Chae-gyeong semakin penasaran dan membuatnya gusar sendiri.

Polisi itu melanjutkan laporannya. Ada seseorang yang berkata kalau Shin terlibat dalam tindakan kejahatan.

Hye-jeong sedang minum teh berdua bersama ibunya. Hye-jeong bilang kalau Hyo-rin menghilang. Seharusnya mereka menyingkirkan Hyo-rin terlebih dahulu. Tapi sepertinya ada seseorang yang mendahului mereka. Yul tak suka mendengar hal itu dan meminta ibunya berhenti memprovokasi Hyo-rin. Hyo-rin sudah cukup terluka. Tapi Hye-jeong bilang, luka itu akan sembuh seiring berlalunya waktu. Tapi seseorang akan jadi kuat setelah terluka. Dia bilang, mereka membutuhkan seseorang yang bisa menusuk Shin secara langsung.

Tiba-tiba terdengar seruan dari seorang dayang Hye-jeong yang berkata kalau Kwak Sang-gung datang. Hye-jeong menyuruh Kwak Sang-gung untuk masuk ke dalam. Kwak Sang-gung memberi hormat pada keduanya, lalu menyampaikan laporannya. Dia melapor kalau Putra Mahkota terlibat insiden kekacauan. Sekarang Putra Mahkota sedang di introgasi oleh seseorang dari kepolisian.

Hye-jeong tersenyum mendengarnya. Sepertinya sekarang  ini Putra Mahkota seakan terperangkap dalam jaring laba-laba. Dia senang mendengarnya dan mereka hanya tinggal melanjutkan apa yang telah terjadi. Sepertinya Shin sudah menggali lubangnya sendiri. Yul terlihat tak begitu senang dengan tingkah ibunya.

Chae-gyeong mengikuti Shin dan terus saja bicara. “Bagaimana kau bisa jadi seperti ini? Aku sangat khawatir memikirkanmu. Kau pergi begitu saja dan tak menghubungiku. Jika kau lakukan sekali lagi, aku akan meninggalkanmu” kata Chae-gyeong. “Kembalilah dulu. Ini sudah larut malam” kata Shin sambil melangkah menjauh dari Chae-gyeong.

Chae-gyeong mengejar Shin dan masuk ke dalam kamar Shin. Shin sedang duduk termenung saat Chae-gyeong masuk dan bicara. Tapi Chae-gyeong bicara tak menghadap ke arah Shin melainkan bicara sambil menatap foto Shin.  “Aku tahu Shin-gun selalu menyimpan semuanya sendiri dan membuat dirinya terluka sendiri. Tapi aku juga terluka saat melihatmu seperti ini. Kita ini sepasang. Kenapa aku harus selalu jauh dari sisimu? Tak bisakah kau bersandar padaku sekali saja? Kenapa kau selalu terluka sendirian. Dasar bodoh!” maki Chae-gyeong sambil membanting foto Shin.

“Aku lelah. Jangan bicara apa-apa lagi” kata Shin. Dia beranjak dari tempat duduknya dan hendak menuju ke kamarnya. Kata-kata Chae-gyeong menghentikan langkahnya. “Aku sangat khawatir padamu. Dimana kau, apa yang kau lakukan, kelakuanmu yang keras kepala itu akan membuat masalah untukmu. Apa kau tahu betapa khawatirnya aku?!” bentak Chae-gyeong. Dia ingin pergi meninggalkan Shin. Tapi Shin meraihnya dan memeluknya dengan erat.

Chae-gyeong bilang Shin terlalu erat memeluknya. Dia tak bisa bernafas. “Jika aku tak lagi jadi Putra Mahkota lagi, tetaplah ada disisiku” pinta Shin dengan lembut. Chae-gyeong senang mendengar hal itu. Dia tersenyum dalam pelukan Shin.

Raja dan Ratu mendengar laporan dari Kasim Kong dan juga Polisi. Mereka melaporkan kalau ternyata Shin tak terlibat secara langsung dengan kerusuhan yang terjadi di diskotik. Shin sudah pergi meninggalkan diskotik itu sebelum kerusuhan itu terjadi. Jadi tak akan ada masalah yang timbul. Ratu berkata, akhir-akhir ini, Keluarga Kerajaan selalu saja di konotasikan buruk di masyarakat. Raja bilang, itulah alasan kenapa dia memanggil polisi larut malam seperti ini. Polisi bilang, dia akan membantu sebisa mungkin dan berkata agar jangan khawatir. Raja dan Ratu senang mendengarnya.

Pagi itu di istana, Hyo-rin masuk untuk pertama kalinya ke dalam istana. Dia diantar seorang Sang-gung menuju ke sebuah tempat. Disana Park Sang-gung sedah menunggunya. Park Sang-gung bilang Ratu akan segera datang dan meminta agar Hyo-rin menunggu sebentar. Park Sang-gung pamit pergi. Dua orang dayang menyajikan teh untuk Hyo-rin.

Hyo-rin hendak meminum tehnya. Tapi tiba-tiba dia melihat Rtau datang. Dia tak jadi meminum tehnya. Ratu tampil tanpa Hanbok kebesarannya. Dia tersenyum dan mendekati Hyo-rin. Ratu duduk di samping Hyo-rin dan mulai bicara.

“Ku dengar kau seorang penari balet?” tanya Ratu. “Ya, Yang Mulia” jawab Hyo-rin. “Ku dengar kau menolak lamaran Putra Mahkota karena ambisimu. Kupikir kau pasti gadis yang cerdas?” lanjut Ratu. Hyo-rin mengiyakan pujian itu. “Sebagai seorang wanita, aku bisa mengerti perasaan Hyo-rin. Karena insiden ini, kau pasti juga khawatir. Dan karena ini, aku juga khawatir padamu” kata Ratu. “Aku sungguh-sungguh minta maaf, Yang Mulia” pinta Hyo-rin.

“Dan juga, meskipun kau hidup di lingkungan yang sulit. Tapi kau tak menyerah begitu saja dengan mimpimu. Dan kau sangat fokus dengan tarian baletmu. Jika aku jadi seseorang yang memberimu dukungan tuk meraih mimpimu bagaimana?” tanya Ratu. “Aku sangat berterimakasih. Tapi…” Ratu memotong kata-kata Hyo-rin.

 “Untuk menjadi seorang penari balet yang terkenal di seluruh dunia, kau butuh seseorang yang bisa mendukungmu. Untuk menciptakan lingkungan yang bisa mendukung agar kau bisa konsentrasi dengan bakatmu. Itulah yang kurasakan. Itu jalan terbaik untuk menciptakan seorang bintang. Keluarga Kerajaan juga mencari orang-orang berbakat sepertimu. Yang pantang menyerah dengan mimpi mereka dan juga memberi bantuan apapun yang mereka butuhkan. Putra Mahkota juga salah satu yang memberikan dukungan. Dia adalah seseorang yang akan menempati tahta di negeri ini. Apa kau mengerti maksudku?” tanya Ratu. “Ya Yang Mulia” jawab Hyo-rin.

Beberapa saat kemudian, Park Sang-gung mengantar Hyo-rin keluar dari istana. Baru saja keluar dari kediaman Ratu,  hyo-rin bertemu dengan Chae-gyeong. Keduanya sama-sama terkejut. Chae-gyeong mengajak Hyo-rin dan bicara berdua. Chae-gyeong dengan agak takut bertanya bagaimana keadaan Hyo-rin. Hyo-rin tersenyum simpul.

“Aku akan mengubur Shin dalam hatiku. Jika suatu saat nanti Shin mau kembali padaku, aku akan menerimanya dengan senang hati” ungkap Hyo-rin. Chae-gyeong hanya bisa menatap Hyo-rin. “Kita ini teman, bukankah kita harusnya berbagi kesedihan dan rasa sakit? Tapi… perlahan aku mulai menyadari bahwa kau adalah orang yang baik. Saat dia bersamaku, dia tak pernah mendapatkan kebahagiaan apapun” ungkap Hyo-rin.

“Aku tahu” kata Chae-gyeong. “Jangan pernah lepaskan Shin. Aku harus pergi” pamit Hyo-rin. “Minumlah tehmu sebelum kau pergi” kata Chae-gyeong. “Aku pamit. Terima kasih” jawab Hyo-rin.  Hyo-rin pun melangkah keluar. Chae-gyeong hanya bisa memandangi kepergian Hyo-rin.

Ibu Suri, Ratu dan Hye-jeong bicara bertiga. Ibu Suri mengeluh. Ada banyak sekali masalah yang terjadi di istana akhir-akhir ini. Ratu meminta maaf. Ini semua salahnya karena tidak mendidik Putra Mahkota dengan benar. Hye-jeong mencoba mencari muka. Dia bilang, yang terpenting adalah menjaga kesehatan Ibu Suri. Kesehatan Ibu Suri adalah keseimbangan di dalam keluarga kerajaan. Ibu Suri berterima kasih pada Hye-jeong dan berkata, dia akan melaksanakan saran Hye-jeong. Ratu memandang tak suka melihat tingkah Hye-jeong yang sok cari perhatian dan Ibu Suri melihat hal itu.

“Kenapa kalian berdua terlihat tak cocok?” tanya Ibu Suri. “Ini karena Raja punya keinginan kuat untuk menentukan kualitas seorang Putra Mahkota” jawab Seo Sang-gung yang melayani Ibu Suri. Hye-jeong menambahkan ‘bumbu’. “Ini di mulai karena skandal yang ditimbulkan oleh Putra Mahkota. Terutama setelah skandal yang terjadi dengan Pangeran Yul. Para tetua sangat marah. Dan kami sebagai seorang ibu hanya berusaha untuk mempertahankan putra masing-masing” kata Hye-jeong.

“Maafkan aku, Yang Mulia” pinta Ratu. “Aku, percaya pada Putra Mahkota. Putra Mahkota punya tanggung jawab yang besar dibandingkan dengan siapapun. Saat dia menempati posisinya, dia akan penuh dengan tanggung jawab” kata Ibu Suri. Hye-jeong tak suka mendengar hal itu. “Maafkan aku, Yang Mulia” pinta Ratu.

“Posisi sebagai seorang Raja, bukanlah ditentukan oleh orang-orang. Tapi itu adalah pilihan dari surga. Salah kalau masih harus membicarakan tentang posisi yang sudah ditentukan” tambah Ibu Suri. Hye-jeong memendam kekesalannya.

Ratu dan Hye-jeong sama-sama keluar dari kediaman Ibu Suri dengan Sang-gungnya masing-masing. “Tentang Hyo-rin, kau bertindak cepat sekali, Ratu” sindir Hye-jeong. “Ini adalah sesuatu yang akan mempengaruhi Putra Mahkota. Sebagai seorang Ibu, kenapa aku tak bisa melakukan hal itu?” jawab Ratu.

“Itu sangat menyentuh, Ratu. Putra Mahkota punya reputasi yang buruk untuk keluarga kerajaan. Apa bisa dia menjadi seorang Raja yang perhatian pada rakyatnya?” sindir Hye-jeong. “Sepertinya Ratu Agung (Hye-jeong) terlalu meremehkan kekuatan dari sebuah kejujuran” jawab Ratu. Hye-jeong kesal mendengarnya.

Raja sedang bersama Kasim Kim saat Yul masuk ke dalam. Yul bertanya apa Raja memanggilnya. Raja mengiyakan dan meminta Yul untuk duduk. Raja pun meminta Kasim Kim untuk duduk. Raja bertanya, sejak Yul masuk ke istana apa Yul menghadapi kesulitan. Yul bilang dia sama sekali tak mengalami  kesulitan. Raja kemudian berkata, mulai hari ini, Kasim Kim akan ada untuk membantu Yul melaksanakan tugas-tugas yang akan diberikan pada Yul. Raja berkata kalau Kasim Kim tak hanya membantu tugas-tugas Yul, tapi juga untuk mencari tahu apa saja yang dibutuhkan oleh Yul setiap hari. Kasim Kim berkata akan melakukan yang terbaik untuk membantu Yul.

Hyo-rin bertemu dengan Hye-jeong. Hye-jeong menanyakan keadaan Hyo-rin. Sepertinya keadaan Hyo-rin tak begitu baik. Hyo-rin hanya diam saja. Lalu Hye-jeong bertanya, dia dengar kalau Hyo-rin bertemu dengan Ratu. Hyo-rin mengiyakan hal itu. Seperti biasanya, Hye-jeong mencoba mengacaukan perasaan Hyo-rin.

“Hyorin, apa kau tahu... Betapa menakutkannya keluarga kerajaan itu. Mereka bisa memahami apapun yang akan mendatangkan keuntungan bagi merekaAku sangat khawatir kalau kau akan terluka” kata Hye-jeong. “Karena laporan yang tersebar luas itu, banyak orang yang akan terluka karenanya. Ini adalah saatnya untukku memperbaiki apa yang sudah kurusak” kata Hyo-rin.

“Hyo-rin? Apa maksudmu? Kau akan lebih menderita kalau kau seperti itu. Aku akan membantumu. Tak peduli apakah aku harus melawan keluarga kerajaan atau siapapun, aku akan membantumu mengatasi semuanya. Kenapa kau menyerah begitu saja? Kenapa tak bisa mengorbankan sesuatu jika kau bisa mendapatkan apa yang kau inginkan? Kau harus punya keberanian. Kau akan mendapatkan apa yang kau inginkan” bujuk Hye-jeong.

“Aku tak mau membuat pilihan yang lain lagi. Selama aku menunggu, baik itu mimpi ataupun cintaku, aku pasti akan mendapatkan semua itu suatu hari nanti. Terima kasih” jawab Hyo-rin. Hyo-rin pamitan pergi dan Hye-jeong jengkel mendengarnya.

Hyo-rin ada di sebuah ruangan di hotel tempat Hyo-rin menginap sepulangnya sari rumah sakit kemarin. Dia bersama seorang wartawan dan juga Park Sang-gung. “Ya. Shin dan aku adalah teman sekolah. Dan seperti rumor yang beredar, kami berkencan selama 2 tahun” kata Hyo-rin.

“Ku dengar Putra Mahkota melamarmu?” tanya wartawan. “Ya, dia melamarku. Tapi aku menolaknya. Karena bagiku, mimpiku lebih berharga. Aku bukanlah wanita yang seperti di katakan oleh rumor yang beredar, ‘Seorang wanita yang ditinggalkan Putra Mahkota’. Aku yang memilih ini semua. Dan aku tak menyesali keputusanku” ungkap Hyo-rin. “Apa ada hal lain yang ingin kau katakan?” tanya wartawan itu lagi. “Ya. Sekarang ini aku hanya ingin jadi Hyo-rin, Sang Balerina” jawab Hyo-rin. Wartawan itu meminta ijin untuk mengambil foto Hyo-rin. Tapi Hyo-rin tak ingin gambarnya di ekspos. Hyo-rin pamitan pergi.

Sementara itu, Chae-gyeong diajari menyetir oleh Shin. Awalnya lancar. Tapi saat sampai di belokan, Chae-gyeong menyetir ngawur dan mengerem secara mendadak hingga membuat Shin terbentur ke depan mobil. Shin kesakitan dan tentu saja marah-marah karenanya. Cha-gyeong bilang dia tak bermaksud seperti itu dan kemudian bertanya apa Shin baik-baik saja.

Shin mencoba menenangkan diri dan mulai mengajari Chae-gyeong lagi. Tapi semuannya kacau. Chae-gyeong bingung karena sepanjang perjalanan Shin treus saja berteriak dan membentaknya. Shin merasa takut saat melihat aksi ugal-ugalan Chae-gyeong yang sembarangan itu. Shin berteriak kalau dia ingin turun. Tapi Chae-gyeong tak tahu bagaimana caranya menghentikan mobilnya!

Yul sedang termenung sendirian. Seo Sang-gung masuk membawakan makanan dan minuman untuk  Yul. Seo Sang-gung bilang, dia membuatkan Yeo-gan (agar-agar manis dengan isi pasta kacang merah) yang sangat disukai Yul. Seo Sang-gung berpikir tentang masa lalu dan ingin sekali membuat Yeo-gan itu.

Yul kemudian bertanya pada Seo Sang-gung, bagaimana keadaan istana selama 14 tahun dia tinggal di Inggris. Jika ayahnya masih hidup, pasti keadaan istana sekarang ini berbeda. Jika ayahnya tak meninggal, pasti dia dan Shin akan menempati posisinya masing-masing. Itulah kenapa, dia merasa menyesali kenapa ayahnya meninggal.

Seo Sang-gung turut sedih mendengar hal itu. Tul bilang, dia tak ingat kenangan apapun tentang ayahnya. Tapi kenangan tentang wajah ayahnya dan istana tua, selalu ada dalam pikirannya. Seo Sang-gung mencoba menghibur Yul agar berbesar hati. Dan bertanya, apa Yul punya masalah yang tak bisa ditanganinya.

Yul bertanya apa dia itu pantas jadi seorang Pangeran. Seo Sang-gung berkata, dia akan melakukan apapun dan memberikan apa saja yang dia miliki agar bisa membantu Yul mendapatkan posisinya kembali.

Yul sedang berbicara dengan para tetua dan juga pejabat kerajaan mengenai peninggalan sejarah yang harus tetap di jaga. Itu juga adalah pesan mendiang ayahnya yang ingin agar Yul bisa terus melestarikan budaya di negara mereka. mereka bukan boneka keluarga kerajaan yang bisa dijadikan mainan rakyat. Mereka adalah keluarga kerajaan yang punya kekuatan untuk melindungi budaya peninggalan nenek moyang mereka sendiri.

Di istana dalam, Ratu duduk berdua bersama Yul, Chae-gyeong duduk dihadapan mereka bersama Shin dan Ibu Suri duduk bersama Hye-myeong. Ratu merasa malu karena sama sekali tak ingat tentang ultah Yul. Yul berkata tak apa-apa. Saat dia tinggal di Inggris, dia sendiri juga sering lupa tentang hari ultahnya. Hye-myeong juga minta maaf karena dia juga tak tahu kapan Yul ultah. Ibu Suri bertanya, apa yang ingin Yul dapatkan di hari Ultahnya.

Yul berkata, dia pikir dia ingin mengadakan pesta dengan teman-teman sekolahnya di sebuah tempat di luar kota yang tak terlalu jauh dari istana selama 2 hari 1 malam. Jika boleh, dia ingin agar Pangeran dan Putri juga ikut kesana. Dan meminta ijin agar teman-temannya ikut juga. Ratu bertanya, kalau sebuah pesta, kenapa tak di kerjakan di istana saja.

Yul tersenyum dan berkata, sebenarnya dia juga ingin melakukan tugas akhirnya di sekolah seni. Kalau di istana dia tak bisa mendapatkan inspirasi saat melukis. Jadi dia ingin mengadakan pesta di sebuah tempat yang bisa memberikannya inspirasi untuk melukis sesuatu yang akan di kumpulkannya untuk Tugas Akhir sekolah. Hye-myeong berkata, tak ada alasan untuk menolak hal itu. Ibu Suri mengijinkan ketiganya pergi agar mereka bisa menikmati udara segar dan mmendapatkan beberapa inspirasi.

Tapi kemudian Ibu Suri bertanya, dimana mereka akan mengadakan pesta. Yul bilang ada seorang pejabat Dan Suk yang meminjamkan villa padanya. Ratu bilang dia tahu tempat itu. Tempatnya bagus dan akan menghindari kejaran pers. Yul berterimakasih pada Ibu Suri dan Ratu atas ijin dan perhatiannya. Yul memandangi Chae-gyeong dan tersenyum manis. Chae-gyeong tersenyum, tapi kemudian senyumnya hilang saat memandangi suaminya yang hanya diam saja.

Shin dan Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Chae-gyeong mengejar Shin dan bertanya kenapa Shin tak berkata apapun. Shin bilang, pesta macam apa itu, bermalam disana selama 2 hari 1 malam. Dan dia bilang dia takkan mau ikut.

Chae-gyeong berkata, jika mereka tak pergi, nanti Yul sedih. Teman-teman Chae-yeong juga berkata kalau mereka bertiga diundang. Shin bertanya, apa Chae-gyeong ingin pergi kesana. Chae-gyeong mengiyakan. Di ultah Shin, Yul juga datang untuk Shin. Shin emosi, kenapa Chae-gyeong begitu PEDULI. Chae-gyeong bertanya, apa maksud Shin dengan kata PEDULI. Dia hanya bilang kalau dia ingin menghadiri acara ultah temannya saja. Shin marah dan masuk ke kamarnya. Chae-gyeong terus berusaha merayunya.

Hye-jeong bertemu dengan teman dekat ayah Yul yang punya perusahaan penerbitan. Hye-jeong bilang, Ratu sudah mengetahui sepak terjangnya. Dia bertanya, bagaimana mungkin dia bisa ketahuan. Hye-jeong berkata, jangan meremehkan kemampuan badan intelejen kerajaan. Dia bertanya apa yang harus dia lakukan sekarang. Hye-jeong memintanya untuk meninggalkan Korea.

Dia tak mengerti maksud Hye-jeong. Hye-jeong berkata kalau Ratu sudah mulai penyelidikan lebih dalam. Akan jadi masalah kalau kemudian Ratu menemukan dirinya. Jadi mereka harus melakukan hal ini. Setidaknya ini adalah langkah yang bisa menyelamatkan salah satu dari mereka.

Dia terus berkata kalau tak ingin pergi. Dia sudah melakukan banyak hal. Lagi pula, kalau dia tak ada disini, siapa yang akan membantu Hye-jeong. Hye-jeong berkata, untuk seseorang yang tak bisa menjaga identitasnya sendiri, bagaimana orang itu bisa membantunya. Hye-jeong tak ingin menerima walau hanya sedikit kesalahan saja.  Dia tetap ngotot dan berkata kalau dia tak ingin pergi. Hye-jeong telah melakukan semuanya karena hubungan baiknya di masa lalu dengan ayah Yul. Dan sekarang semuanya sudah berakhir. Hye-jeong pergi begitu saja.

Sementara itu, Yul bertemu dengan seorang pejabat yang memperkenalkannya pada seseorang. Orang itu bernama. Baek Cheon-ha, putra dari Baek Jun-gi. Chaeon-ha akan jadi bodyguard Yul, yang akan terus menjaga keselamatan Yul. Yul tersenyum memandang orang itu, lalu makan hidangan yang ada di depannya.

Kasim Kong melapor, kalau kepala editor Choi sudah meninggalkan negara ini. Ratu bertanya, apa Kasim Kong sudah mengecek pergerakannya. Kasim Kong bilang, berita itu saja yang di dapatnya. Ratu berkata, mulai sekarang mereka harus hati-hati dan mempersiapkan sebuah rencana. Biasanya akan ada badai yang tiba-tiba muncul saat suasana tenang.

Raja naik ke atas paviliun Myeong-seon. Dia mengamati sekitar tempat itu dan kaget saat melihat Hye-jeong juga ada disitu. Raja menghampiri dan ternyata itu hanya bayangan Hye-jeong saja. Raja mendesah karenanya. Raja berbalik hendak kembali lagi. Tapi sekarang, dia melihat Hye-jeong yang asli dengan pakaian Hanbok kebesarannya sebagai Ratu Agung. Raja ingin keluar. Tapi tangan Raja di tahan oleh Hye-jeong.

“Myeong-seon Dang (Paviliun Myeong-seon) sudah banyak berubah kan? Waktu sudah lama sekali berlalu. Ini adalah tempat kita berdua berbagi kenangan. Suatu saat, Yul ku pernah bermain disini saat dia jadi seorang cucu keluarga kerajaan. Sekarang tak mungkin semua itu kembali kan?” kata Hye-jeong. Raja hanya diam. Kemudian melangkah pergi dan turun meninggalkan Myeong-seon Dang.

Ratu sedang ngobrol berempat bersama Ibu Suri dan kedua orangtua Chae-gyeong. Ratu bertanya, apa ayah Chae-gyeong tak punya impian? Ayah Chae-gyeong berkata, impiannya adalah impian yang sederhana, yaitu menjadi seorang kepala rumah tangga yang baik yang bisa mempersiapkan semua kebutuhan istri dan anak-anaknya dengan baik. Ibu Chae-gyeong menimpali, maksudnya bukan seperti itu. Sebenarnya Ayah Chae-gyeong punya impian yang besar.

Kemudian tiba-tiba Ratu berkata, bagaimana kalau Ayah Chae-gyeong membantu mengelola Kantin Istana. Tentu saja Ibu Chae-gyeong kaget mendengarnya. Ayah Chae-gyeong merasa senang sekali karena dia akan jadi orang yang bertanggung jawab di kantin istana. Kedua orangtua Chae-gyeong sangat berterimakasih pada Ratu atas semuanya.

Chae-gyeong dan ketiga temannya hendak bersiap-siap pergi ke tempat diadakannya pesta Yul. Kang-hyeon bertanya apa benar ini mobil Chae-gyeong. chae-gyeong membenarkan hal itu. Chae-gyeong memuji mobilnya sendiri dan bilang kalau mobilnya cantik kan. Kang-hyeon bertanya apa Chae-gyeong punya surat ijin mengemudi. Chae-gyeong bilang tentu saja dia punya.

Tiba-tiba Shin datang dan turun dari mobilnya sambil menghampiri Chae-gyeong dan ketiga temannya. Shin bertanya apa benar Chae-gyeong ingin pergi dengan mengendarai mobil itu. Chae-gyeong menegaskan, tentu saja dia akan memakai mobil itu. Shin tersenyum dan berkata, bukankah Chae-gyeong belum pernah mengemudi di jalan raya sebelumnya. tapi Chae-gyeong berkata, Shin kan sudah pernah mengajarinya di jalan raya.

Shin bilang lupakan saja, itu terllau berbahaya dan meminta Chae-gyeong untuk masuk ke mobilnya. Chae-gyeong langsung berteriak dan berkata kalau dia tidak mau. Dia ingin mengendarai mobilnya sendiri. Chae-gyeong bertanya pada ketiga  temannya kalau mereka juga ingin naik mobilnya kan. Walau ragu, ketiganya menegaskan kalau mereka ingin naik mobil Chae-gyeong.


“Baiklah kalau begitu. Mengemudilah pelan-pelan. Jika ada apa-apa, hubungi aku” kata Shin kemudian. “Shin-gun, apa kau tak ingin mengendarai mobilku?” tanya Chae-gyeong. “Karena aku seorang Putra Mahkota, hidupku sangat berharga. Sampai jumpa disana” kata Shin sambil tersenyum. Chae-gyeong dan teman-temannya mulai masuk ke mobil dan hendak bergegas pergi meninggalkan istana.

Sementara itu, di luar tembok istana, Hyo-rin menanti di dalam mobil bersama Jang-gyeong. “Hyo-rin, kau bisa menolaknya jika kau tak ingin pergi” kata Jang-gyeong. “Tidak. Aku ingin pergi. Aku tak bisa bicara dengan baik dengan teman-temanku sejak insiden itu. Sekarang, aku hanya ingin hidup sama dengan orang-orang lainnya tanpa jadi tudingan orang” jawab Hyo-rin. “Baiklah. Lakukanlah apa yang kau inginkan” kata Jang-gyeong kemudian.

Tiba-tiba datang mobil Ryu-wan dan parkir di samping mobil Jang-gyeong. Kang-in ikut di mobil Ryu-wan. Ryu-wan bertanya kenapa Kang-in tak memakai mobilnya sendiri. Kang-in berkata, kalau sekarang harga bahan bakar mahal. Dia sekarang tak punya uang lebih untuk beli bahan bakar. Ryu-wan tertawa mendengarnya dan Kang-in  kemudian bertanya, ngomong-ngomong dimana Shin.

Baru saja Kang-in bertanya, Shin muncul dari belakang mengendarai mobilnya lalu mengajak mereka untuk segera pergi karena Chae-gyeong akan pergi dengan mobilnya sendiri.

Sementara itu di dalam istana, Chae-gyeong mencoba mengeluarkan mobilnya dari istana dan mengemudi dengan susah payah dan sembarangan. Tentu saja teman-temannya berteriak ketakutan dan memakinya. Katanya punya ijin mengemudi. Tapi kenapa mengemudi seperti itu. Bahkan para prajurit yang berjaga di sekitar tempat itu ikut merasa takut kalau terjadi sesuatu pada mereka berempat.

Chae-gyeong mencoba membela diri kalau ada yang aneh di mobilnya. Teman-temannya menyangkal apanya yang aneh. Chae-gyeong bilang ada sesuatu yang hilang dan itu aneh. Mereka berkata, bagaimana mungkin ada yang hiolang. Bukankah itu mobil baru. Chae-gyeong tetap ngoto bilang kalau mobilnya aneh. Kang-hyeon yang kesal karena dibohongi berkata, bukan mobil Chae-gyeong yang aneh, tapi Chae-gyeong sendiri yang aneh!

Mobil Yul datang menghampiri mereka. Sebenarnya ketiga teman Chae-gyeong berusaha membujuk Chae-gyeong untuk ikut di mobil Yul. Tapi Chae-gyeong tetap ngotot kalau dia ingin mengendarai mobilnya. Apa boleh buat, ketiganya juga tak enak hati mau membiarkan Chae-gyeong mengemudi sendirian. Chae-gyeong menyuruh Yul pergi duluan.

Mobil Chae-gyeong mulai bergerak pergi meninggalkan istana dengan pelan-pelan. Mobil Yul mengikuti di belakang mereka. Hee-sung berkata, kenapa pelan sekali. Kalau terus mengendarai seperti itu, mungkin besok pagi mereka baru sampai ke tempat pesta. Kemudian tiba-tiba Kang-hyeon berkata, kenapa tak memperhatikan peta saja. Yeong-sun berkata, bagaimana kalau mendengarkan musik agar tidak bosan. Chae-gyeong setuju. Tapi saat hendak menyalakan musik, malah tombol pembersih kaca yang dipencetnya.

Ketiganya mencoba menasehati Chae-gyeong agar lebih cepat lagi. Tapi saat Chae-gyeong hendak menambah kecepatan, yang diinjaknya justru rem. Mobil Chae-gyeong pun jadi berhenti. Yul yang ada di mobilnya tersenyum geli melihat hal itu.

Sementara itu, Shin dan teman-temannya juga Hyo-rin sudah lama menunggu di tempat itu. Tak berapa lama kemudian, barulah mobil Chae-gyeong dan Yul muncul  kemudian masuk ke villa itu. Shin langsung menghampiri mobil Chae-gyeong dan bertanya kenapa mereka lama sekali. Shin dan teman-temannya sudah menunggu hampir 3 jam di villa itu. Chae-gyeong hanya tertawa, cuma tiga jam saja. Yang penting mereka sekarang sudah sampai. Hee-sung mengeluh dan bilang kalau dia ingin muntah.

Yul keluar dari mobilnya dan disambut ketiga teman Shin juga Hyo-rin. Shin terus memperhatikan Yul. Kemudian saat Yul hendak masuk, Shin bertanya kenapa Yul bisa telat datang. Yul hanya tersenyum sambil memandangi Chae-gyeong. yul pergi sambil senyum-senyum. Shin terlihat tak suka memandang Yul.

Mereka berkumpul di dalam villa. Chae-gyeong ingin sekamar dengan ketiga temannya. Yul bilang, di villa itu dalam satu kamar hanya ada 3 tempat tidur. Jadi teman-teman Chae-gyeong memutuskan untuk tidur bertiga tanpa Chae-gyeong. chae-gyeong bisa tidur bersama suaminya. Awalnya Chae-gyeong tak mau. Tapi tak ada pilihan lain. Suaminya juga ada disitu, jadi kenapa dia harus tidur dengan teman-temannya. Shin memandang Chae-gyeong dengan grogi. Begitu pula Chae-gyeong.

Ketiga teman Shin juga hendak tidur sekamar. Teman-teman Chae-gyeong sudah mulai masuk ke dalam. Jang-gyeong menghampiri Hyo-rin dan membawakan barang-barang Hyo-rin ke kamarnya. Shin memandangi kepergian Hyo-rin dan ketiga temannya. Hanya tinggal Shin, Yul dan Chae-gyeong yang belum masuk ke kamar. Shin langsung membawa Chae-gyeong pergi ke kamarnya dengan paksa dan agak marah melihat Chae-gyeong yang terus saja memandangi Yul. Yul hanya bisa menatap kepergian mereka berdua dengan sedih.

Chae-gyeong memeriksa ruangan demi ruangan yang ada di dalam kamar mereka. dia merasa senang. Kemudian keduanya duduk berhadapan dan bicara. Chae-gyeong bilang, dia merasa malu harus berbagi ruangan bersama Shin. Shin bertanya kenapa harus malu, bukankah mereka pernah melakukannya. Chae-gyeong bilang, dia ingin sekali berada sekamar dengan teman-temannya.

Shin bertanya, apa Chae-gyeong tak suka sekamar dengan suaminya sendiri. kalau Chae-gyeong tak mau, Chae-gyeong bisa pergi ke kamar yang  lain. Chae-gyeong berkata bukan itu maksudnya. Hal yang buruk akan terjadi kalau mereka tidur dalam satu kamar. Seperti saat ada di rumah Chae-gyeong. Dan juga saat mereka menghabiskan malam pertama. Chae-gyeong tak tahu apa yang akan Shin lakukan padanya.

Tentu saja Shin marah mendengar hal itu. Apa Chae-gyeong pikir dia itu orang brengsek? Shin berkata, jika seseorang mendnegar hal ini, mereka mungkin akan berpikir kalau Shin adalah orang brengsek. Chae-gyeong malah meledeknya, Shin itu seperti binatang. Tentu saja Shin tak terima mendengarnya. Chae-gyeong bilang, siapa yang meminta Shin menciumnya seperti itu waktu itu.

Shin mencoba membela diri. Waktu Chae-gyeong diciumnya, kenapa Chae-gyeong tak menolaknya. Chae-gyeong langsung mengalihkan pembicaraan agar mereka cepat ganti baju. Yang lainnya sudah menunggu. Shin menggoda Chae-gyeong, kenapa mereka tidak ganti baju bersama. Tentu saja Chae-gyeong jadi ketakutan. Shin menggoda Chae-gyeong, bukankah mereka sudah sering berbagi ruangan, kenapa tidak melakukannya bersama. Chae-gyeong jengkel dan balik menantang Shin. Gantian Shin yang salah tingkah dan menutup matanya seketika karenanya.

“Shin-gun, kenapa kau tiba-tiba menutup matamu? Kau…Jangan lihat. Jika kau membuka matamu saat aku telanjang, berarti kau memang benar-benar orang brengsek!” ancam Chae-gyeong. “Ok. Baiklah. Aku tahu” jawab Shin. Tanpa Shin tahu, Chae-gyeong pergi sambil membawa tasnya dan pergi ke balik tembok sambil terus menggoda Shin agar jangan mengintip. Chae-gyeong senyum-senyum di balik tembok sambil meninggalkan sebuah catatan untuk Shin, lalu pergi.

Shin sudah tak tahan dan ingin membuka matanya. Lalu kemudian Shin membuka matanya dan melihat sekelilingnya. Chae-gyeong sudah tak ada di situ. Kemudian ada catatan tergeletak dibawah kakinya. Catatan itu bertuliskan, “Kau itu sedang lihat apa?”. Shin tertawa sendiri membacanya. Disitu ada foto seorang tokoh kartun yang bawahnya digambari sendiri oleh Chae-gyeong.

Hyo-rin termenung sendirian. Tiba-tiba Shin dan Chae-gyeong keluar dari kamar mereka sambil bercanda. Hyo-rin melihat mereka berdua. Teman-teman mereka yang lain sedang sibuk memasak. Mereka bertanya kenapa Shin dan Chae-gyeong lama sekali turunnya. Mereka berpikir yang macam-macam mengenai kedua pasangan itu. Kang-hyeon berkata, Chae-gyeong pasti senang sekali. Chae-gyeong dan Shin jadi salah tingkah karenanya. Chae-gyeong mengalihkan perhatian dan berkata kalau dia lapar sekali.

Selesai memasak, mereka makan bersama. Kang-hyeon memberitahu Chae-gyeong, kenapa Shin makan sedikit sekali. Chae-gyeong malu-malu, tapi sebenarnya dia mau. Chae-gyeong bertanya pada Shin yang duduk di sebelahnya dan bertanya kenapa Shin hanya makan sedikit. Shin bilang, dia tak begitu suka baunya. Chae-gyeong kemudian bertanya, bagaimana kalau dia membungkus dagingnya dengan selada. Awalnya Shin menolak, tapi akhirnya mau makan juga dengan disuapi oleh Chae-gyeong.

Hyo-rin menatap dengan kecewa. Yul juga merasa iri. Sementara yang lainnya, menyoraki kedua pasangan itu. Jnag-gyeong berkata, Shin banyak sekali berubah. Dia jadi lebih dewasa. Dengan sombongnya Chae-gyeong bilang, itu karena dirinya. Chae-gyeong bilang, laki-laki bisa juga jadi terpengaruh karena kebiasaannya bersama seorang wanita seperti dirinya.

Selesai makan, anak-anak dari kelas seni mulai melukis untuk tugas akhir mereka. yul menghampiri Chae-gyeong dan berkata, kalau ternyata gambar Chae-gyeong lebih buruk dari yang dia bayangkan. Chae-gyeong jengkel dan berkata, kalau begitu dia ingin melihat gambar Yul. Yul panik dan menghalangi Chae-gyeong untuk melihat lukisannya. Yul bilang, dia akan memperlihatkannya nanti.

Shin datang bersama teman-temannya dan melihat tingkah Yul yang mencoba menghalangi Chae-gyeong untuk melihat lukisannya. Shin menghampiri Chae-gyeong agar ikut dengannya. Dia ingin memotret Chae-gyeong. Chae-gyeong bertanya apa Yul mau ikut, Yul dengan segera menolaknya dan meminta agar Chae-gyeong pergi saja dengan Shin. Dia masih harus menyelesaikan lukisannya. Chae-gyeong langsung mengajak ketiga temannya untuk berfoto, meninggalkan Yul sendirian. Yul memandangi lukisannya dengan sedih, ternyata dia melukis wajah Chae-gyeong!

Chae-gyeong masuk ke kamarnya dan dia merasa gerah. Dia ingin mandi. Lalu mulai mencari perlengkapannya di dalam tasnya. Dia mencoba mencari perlengkapan mandinya, tapi yang ditemukannya malah celana dalam Shin! Tiba-tiba Shin datang dan masuk ke kamar sambil menyebut nama Hyo-rin. Shin sedang berbicara di telepon dengan Hyo-rin. Chae-gyeong tak mau ketahuan dan dia langsung membawa barang-barangnya masuk ke lemari. Dia juga ikut masuk dan bersembunyi di dalam lemari.

Shin duduk di tempat tidur yang terletak di depan lemari tempat Chae-gyeong sembunyi. Chae-gyeong kesal saat mendengar kalau dia akan bicara nanti kalau ketemu lagi dengan Hyo-rin. Lalu kemudian dia terkejut. Celana dalam Shin masih tertinggal di luar. Chae-gyeong mengambilnya dengan susah payah dan masuk kembali ke dalam lemari.

Shin mulai melepas bajunya satu-persatu. Dia ingin mandi. Chae-gyeong kaget saat melihat Shin yang sedang membuka bajunya di depannya. Di atas tempat tidur. Shin selesai melepas bajunya, kemudian berdiri di depan lemari tempat Chae-gyeong sembunyi. Chae-gyeong melihat pemandangan didepannya dan dia segera menutup matanya dengan tangannya. Shin telanjang di hadapannya!