Selasa, 01 Januari 2013

Princess Hours Episode 19

Chae-gyeong menenung di kamarnya dan membayangkan apa yang kemarin telah terjadi antara dirinya dengan Shin. Chae-gyeong terus teringat saat Shin menciumnya. Dia jadi salah tingkah sendiri. Di kamarnya, Shin juga membayangkan  peristiwa yang kemarin terjadi saat Chae-gyeong menamparnya. Dia merasa bersalah pada Chae-gyeong. (Layar Lap-top Shin, sekarang screensaver-nya adalah nama Shin Chae-gyeong).

Shin melangkah menuju kamar Chae-gyeong. Shin melihat Chae-gyeong sedang termenung dan ada boneka bantal Shin di sampingnya. Shin masuk dan mendekati Chae-gyeong. Shin bertanya, apa boneka itu hanya punya dua wajah saja? Apa tak ada yang lainnya? Chae-gyeong hanya diam saja. Shin kemudian duduk di depan Chae-gyeong. Chae-gyeong berkata dengan ketus kalau dia tak ingin melihat wajah Shin sekarang. Chae-gyeong minta Shin pergi.

“Aku tahu, ini sedikit memalukan. Ku rasa aku kehilangan pikiranku karena ada di sini. Meskipun itu bukan aku, dan mengalami saat seperti itu… Tak bisa bisakah kau mengerti aku?” tanya Shin. Chae-gyeong masih tetap bungkam. “Kau tahu bagaimana aku kalau aku sedang marah. Aku tahu itu tak benar. Tapi apa kau tak bisa melupakannya saja. Aku berusaha mengatakan seperti ini padamu dan semuanya….” Shin tak bisa melanjutkan kata-katanya karena sekali lagi Chae-gyeong meminta agar Shin pergi dari kamarnya.

“Apa kau masih ingin terus bersikap seperti ini? Aku bilang aku minta maaf” pinta Shin. “Kau hanya berpikir tentang perasaanmu sendiri. Kau merasa dirimu adalah yang paling baik daripada orang lain. Kau tak pernah peduli pada perasaan orang lain. Kau tak pernah peduli. Aku ini bukan mainanmu yang bisa kau permainkan kapanpun saat kau sedih, bahagia atau marah. Aku tak ingin bermain terus denganmu” ceramah Chae-gyeong.

“Apa kau tak lelah berkata terus seperti itu? Berhentilah berkata kalau kau itu mainan ataupun semacamnya” kata Shin. “Aku baru saja mau bicara dan kau minta aku menghentikannya. Kau itu benar-benar orang yang aneh! Apa kau tahu itu! Kau selalu seperti itu. Jika kau melakukan kesalahan, tak seorangpun yang akan menyalahkanmu. Jika aku yang berbuat kesalahan, kau selalu mencoba menangkapku seperti menangkap tikus. Terutama saat itu berhubungan dengan Hyo-rin. Saat aku bertanya padamu tentang dia, kau tiba-tiba marah tanpa alasan! Berapa lama lagi kau akan memperlakukanku seperti itu?” maki Chae-gyeong.

“Bukankah kau yang membuatku marah. Selalu saja membawa-bawa Hyo-rin saat punya masalah apapun” Shin tak terima disalahkan. “Bagaimana denganmu? Kenapa saat kusebut nama Hyo-rin kau berubah jadi tenang!” tambah Chae-gyeong. “Apa? Kau pasti salah mengartikan sesuatu. Insiden di pesta itu, kau lah yang berbuat salah” kata Shin lagi. “Jika itu Hyo-rin, yang ada di posisiku, kau pasti takkan pernah bersikap sekasar ini. Aku ingin sendirian sekarang” kata Chae-gyeong. Shin tak tahu lagi harus bicara apa. Shin beranjak pergi, sampai di pintu masuk, dia berhenti dan berkata, “Aku tak bermaksud berbuat kasar padamu. Hanya saja, aku tak tahu apa yang harus aku lakukan lagi”. Chae-gyeong hanya bisa mendesah setelah kepergian Shin.

Shin, Chae-gyeong dan juga Yul menghadap Ibu Suri di kediamannya. Ibu Suri sedang duduk berdua dengan Hye-myeong. “Jadi, apa kalian sudah menemukan apa yang akan kalian kerjakan untuk kelulusan kalian?” tanya Ibu Suri. “Ya Yang Mulia. Itu adalah pengalaman yang sangat hebat” jawab Chae-gyeong. “Dan apa pesta itu menjadi kenangan indah buatmu, Pangeran Yul?” tanya Ibu Suri. “Aku sudah mengungkapkan kata hatiku pada seseorang dan aku mengungkapkan semuanya di pesta itu. Dan aku sangat berterimakasih karenanya” jawab Yul.

Chae-gyeong dan Shin memandangi Yul. Shin merasa marah karenanya. Chae-gyeong tak tahu harus berbuat apa. “Kau bilang kata hati? Sepertinya itu berarti sekali. Apa kau bisa katakan padaku apa yang ada dalam hatimu?” tanya Ibu Suri. “Maafkan aku, tapi kurasa itu sulit. Kata-kata itu hanya kuungkapkan pada satu orang saja. Itu hanya untuk orang itu saja” jawab Yul. Shin memandang dengan marah ke arah Yul.

“Oh, Jadi begitu. Aku sangat penasaran karenanya, tapi sekarang lupakan saja. Putra Mahkota, apa kau baik-baik saja? Sepertinya kau terlihat kecewa?” tanya Ibu Suri pada Shin. “Kurasa pesta itu sama sekali tak menarik. Aku punya seorang teman yang berbuat keterlaluan disana. Bukankah kau juga berpikir seperti itu?” tanya Shin pada Yul.

“Mengundangmu dan membuatmu merasa kecewa, aku minta maaf untuk itu. Kupikir aku sudah berusaha sebaik mungkin untuk membuat pestaku jadi menarik” jawab Yul. “Tak apa-apa. Aku sendiri yang memutuskan untuk hadir di pesta itu” jawab Shin dengan sinis. “Terimakasih” jawab Yul. Hye-myeong memandangi adik dan adik sepupunya. Dia merasakan ada sesuatu yang terjadi di antara keduanya.

“Di istana tanpa ada Putra Mahkota dan Pangeran, apa kalian tahu kalau hal itu seharusnya tak terjadi?” tanya Ibu Suri. Keduanya mengiyakan hal itu. “Tapi aku ingin kalian berdua pergi dan bersenang-senang. Itu karena kelakuan buruk kalian waktu itu. Aku ingin kalian berdua melupakan apa yang pernah terjadi di antara kalian dan kembali lagi dengan rukun, kalian tahu maksudku itu kan? kalian adalah saudara sepupu. Tapi sebenarnya kalian berdua ini mirip kakak adik. Kalian berdua harus bekerja sama membantu tugas-tugas di istana. Kalian berdua harus saling membantu. Dan ingat agar saling menghormati satu sama lain agar semua pekerjaan bisa dikerjakan dengan lancar. Semua sudah kukatakan. Apa kalian berdua menyadari maksudku dan mengerti semuanya?” tanya Ibu Suri lagi.

Shin dan Yul meminta maaf pada Ibu Suri. “Kalian berdua harus bekerja sama dan menjadi kuat. Dengan begitu kalian bisa menjaga istana ini. Aku tak ingin kalian berdua melupakan kata-kataku. Apa kalian mengerti?” tambah Ibu Suri lagi.

Chae-gyeong bicara berdua dengan Yul di bangku. Chae-gyeong berkata, pada awalnya, rencana pernikahan itu memang untuk Yul dan Chae-gyeong. tapi sekarang semuanya tak bisa berjalan seperti itu. Mereka tak mungkin membelokkan waktu. Yul bercerita, saat dia berusia sepuluh tahun, dia pulang sekolah. Rumahnya sangat sepi. Yang terdengar hanya suara pintu yang terbuka saat dia membukanya. Yul tak bisa menemukan ibunya dimanapun. Tapi dia mendengar suara air mengucur di kamar mandi. Yul melihat ibunya ada di sana. Ibunya ada di  lantai dengan mata terpejam. Yul berteriak. Dia  pikir ibunya pergi meninggalkannya. Bagaimana dia harus hidup. Bagaimana jika ibunya pergi meninggalkannya seperti ayahnya. Dia sangat ketakutan hingga dia ingin mati.

Chae-gyeong kembali ke kediamannya. Shin sudah menunggunya. Shin memanggil Chae-gyeong. Tapi Chae-gyeong mengacuhkannya. “Apa kau akan seperti ini selamanya. Kenapa kau melarikan diri dariku?” tanya Shin. Chae-gyeong berhenti dan berkata, “Aku tak melarikan diri”. “Jangan bertemu lagi dengan Yul. Tak peduli berapa seringnya aku mengatakan hal ini pada Yul, tapi dia tak pernah mau mendengarkannya. Ku rasa lebih baik kau berhenti menemuinya” pinta Shin.

“Kenapa kau harus melakukan hal itu?” tanya Chae-gyeong. “Karena itu menggangguku. Semua hal yang membuatku marah, semuanya itu salahnya” kata Shin. “Jangan berpikir bagaimana aku dan Yul bersama” kata Chae-gyeong. “Aku ini suamimu. Dan suamimu berkata kalau dia tak menyukai hal itu. Kenapa kau selalu saja mencarinya?” tanya Shin.

“Kau punya segalanya di dunia ini” jawab Chae-gyeong. “Apa?” tanya Shin yang tak mengerti maksud Chae-gyeong. “Yul adalah bagian dari keluarga kita. Dia sudah melewati banyak hal lebih buruk dari yang kau alami. Dia bagian dari keluarga kita. Jadi kita harus memperhatikannya” jawab Chae-gyeong.

“Kenapa kau harus melakukan semua itu? Aku bahkan tak bisa walau hanya berdiri di sampingnya!” kata Shin. “Karena dia bagian dari keluarga kita. Tak peduli betapa seringnya kau bertengkar dengannya, anggota keluarga itu harus aling menjaga. Ayah dan Ibuku juga sering berkata seperti itu” kata Chae-gyeong. “Terserahlah. Berapa lama lagi kau akan terus bersikap seperti itu?” timpal Shin. “Aku tak sedang mencoba bersikap seperti apapun. Aku hanya merasa sedikit aneh. Aku hanya butuh waktu” jawab Chae-gyeong. Chae-gyeong pergi masuk ke dalam kamarnya.

Shin kembali ke kamarnya. Dia membuka kotak yang berisi semua hal yang diberikan Hyo-rin untuknya dan kemudian berpikir tentang sesuatu.

Kasim Kong menyampaikan kabar permintaan wawancara dari salah satu stasiun televisi seperti biasanya agar masyarakat tahu tentang adanya keluarga kerajaan. Kasim Kong bertanya apa mereka akan menyetujuinya. Ibu Suri berkata, bukankah tak ada masalah dengan interview itu. Kasim Kong bilang, masalahnya kondisi kesehatan Raja sedang terganggu dan Pangeran bukanlah pembicara yang hebat. Kasim Kong berkata bagaimana kalau mereka membatalkan saja interview itu.

“Apa kau ingat yang pernah dikatakan oleh Raja saat makan malam keluarga? Kita ada karena masyarakat dan kita ini bekerja dengan mereka. Kenapa harus melarikan diri seperti itu. Kirimkan Putra dan Putri Mahkota untuk pergi interview” perintah Ibu Suri.

“Yang Mulia, maafkan aku. Tapi Putra Mahkota belum siap kalau harus melakukan wawancara seperti itu. Dia mungkin akan gugup dan tak bisa menjawab dengan benar. Dan juga, jika pertanyaan yang diajukan terlalu sulit. Aku tak tahu apa dia bisa menjawabnya dengan benar tanpa membuat kesalahan. Terutama yang berhubungan dengan kehidupan. Hal itu mungkin akan meninggalkan kesan buruk tentang istana. Itulah kenapa aku bilang…” kata Seo Sang-gung yang berdiri di belakang Ibu Suri.

“Tolong jangan memotong pembicaraan orang saat orang itu belum selesai bicara. Aku bahkan belum selesai mengatakan apa yang ingin ku katakan. Hanya karena mereka akan menayangkan secara Live, itu bukan berarti hal yang menakutkan, kan? Ada banyak pilihan untuk interview secara live seperti talkshow kan, atau lebih nyaman lagi kalau bertemu langsung dengan para penanya. Ada banyak hal yang berbeda yang dilakukan saat wawancara” ceramah Ibu Suri.

“Tapi Yang Mulia, Pangeran belum pernah mempersiapkan diri untuk interview semacam ini. Apalagi interview-nya akan didengarkan oleh seluruh dunia” kata Ratu. “Kalian semua benar-benar membuatku gila. Tinggal siapkan saja dia. Kita tak bisa menekannya dan berdiri di balik pintu. Putri dan Pangeran akan bisa melalui wawancara itu dengan baik” timpal Ibu Suri lagi.

Di sekolah, Chae-gyeong sedang bicara berdua dengan Kang-hyeon di depan kelas. “Apa yang sebenarnya terjadi dengan teman baikku Shin Chae-gyeong?” tanya Kang-hyeon. “Aku sedang mencoba mencari tahu” jawab Chae-gyeong. “Apa yang sebenarnya kau pikirkan?” tanya Kang-hyeon lagi. “Apa aku melalui hidupku dengan benar? Apa yang sedang kulakukan sekarang?” jawab Chae-gyeong.

“Apa? Itu hal yang gila. Kau akan jadi sakit aklau kau berpikir seperti itu. Dengan otak sepertimu, memikirkan sesuatu sesulit ini adalah hal gila. Apa kau ingin mengakhiri sesuatu?” tanya Kang-hyeon. Chae-gyeong hanya bisa mendesah. “Waktu itu di pesta, Shin dan kau sepertinya terlihat ada masalah. Tapi dari apa yang kulihat, sepertinya Shin benar-benar menyukaimu” kata Kang-hyeon.

“Aku membayangkannya, apa benar dia memang menyukaiku? Aku bahkan belum pernah mendengarnya mengatakan hal itu. Dan jika memang dia menyukaiku, itu mungkin karena ikatan yang ada. Setiap hari saling bertemu saat kami bangun, makan bersama, pergi hampir kemanapun bersama. Jika kau tak mengenal seseorang dan tiba-tiba harus menghabiskan sepanjang hidupmu bersamanya, kau mungkin akan merasakan hal seperti ini. Saat aku tak melihatnya, aku jadi khawatir padanya. Saat dia pergi jauh, aku merasa kesepian dan ingin pergi untuk mencarinya. Pasti seperti itu” keluh Chae-gyeong.

“Ini tak seperti dirimu yang biasanya. Ada apa?” tanya Kang-hyeon kemudian. “Aku selalu menangis karena Shin. Aku selalu terluka karena Shin. Aku tak yakin kalau aku berani untuk menghabiskan hidupku di istana dengan Shin” jawab Chae-gyeong. “Selama ini kau melakukannya dengan baik” ucap Kang-hyeon. “Apa kau pikir aku bisa melakukannya? Apa aku cukup berani untuk melakukannya?” tanya Chae-gyeong. Kang-hyeon hanya bisa menatap Chae-gyeong dengan sedih.

Di dalam kelas, teman-teman Chae-gyeong sedang asyik bercanda. Begitu Chae-gyeong dan Kang-hyeon masuk, mereka langsung diam. Chae-gyeong dan Kang-hyeon duduk di bangku masing-masing.

Hui-sung yang duduk di depan Chae-gyeong berbalik badan menatap Chae-gyeong. Sun-yeong yang duduk di belakang Chae-gyeong ikut mendekat. “Kudengar ibumu melakukan pekerjaannya dengan sukses?” tanya Hui-sung. “Ya, dia melakukan pekerjaannya lebih baik dari sebelumnya. dia sekarang jadi punya kelas di pekerjaan asuransinya” jawab Chae-gyeong.

“Tapi ada banyak sekali gosip disekelilingnya kalau dia memakai namamu untuk berhasil seperti sekarang ini” tambah Hui-sung. “Bibiku bilang, ada banyak orang yang tak menyukai cara kerja ibumu yang memakai namamu untuk menjalankan pekerjaannya” Sun-yeong ikut menambahkan. “Mereka hanya iri, itulah kenapa mereka berkata seperti itu. Orang-orang pasti takkan tahan melihat kesuksesan orang lain” bela Kang-hyeon.

“Tapi ada juga sesuatu yang benar. Siapa yang tak ingin dekat dengan Putri Mahkota?” timpal Hui-sung. “Apa orang-orang benar berkata seperti itu?” tanya Chae-gyeong. “Jangan hiraukan hal itu!” seru Kang-hyeon. Ayahmu sudah bekerja sekarang, kenapa ibumu tak berhenti bekerja saja...Jika kau mendengar gosip seperti itu, kau mungkin akan merasa aneh” kata Sun-yeong.

“Tapi, ada juga banyak gosip mengenai ayahmu, Mereka bilang ayahmu agak sedikit narsis” tambah Hui-sung. Tapi tak seperti itu, sama sekali bukan seperti itu!” ucap Chae-gyeong dengan sedih. “Kau tak perlu merasa frustasi seperti itu!” kata Kang-hyeon. Chae-gyeong hanya bisa mendesah kesal.

Chae-gyeong berbicara dengan Yul di tangga sekolah. “Aku khawatir. Ayah dan ibuku, meskipun kami hanyalah keluarga miskin, mereka hidup sederhana” kata Chae-gyeong. “Jika kau merasa pekerjaan ayahmu tak aada yang salah, jangan merasa frustasi karena hal itu. Akan selalu ada gosip yang beredar dalam kehidupan manusia, biarkan saja semua itu berlalu” hibur Yul. “Aku bertaruh, ayah dan ibuku pasti terluka karena hal itu. Bagaimana mungkin sesuatu yang sama sekali tak berarti bisa berubah jadi rumor seperti ini!” sesal Chae-gyeong.

“Jika kau hidup di dalam istana, inilah gaya hidup di istana. Aku jadi khawatir karena kau mungkin akan kehilangan semua ini. Istana akan menilai kalau hukum lebih penting daripada perkataan orang-orang. Aku membayangkan bagaimana kau akan bertahan hidup di Istana” kata Yul. “Aku benar-benar tak yakin. Tak peduli seberapa keras aku mencoba, bukan ini cara untuk membayar semua yang telah kuterima” kata Chae-gyeong.

“Jangan mencobanya. Kau mungkin berpikir akan bisa mengatasinya. Tapi hal ini akan jadi semakin sulit dan sulit. Aku berharap bahwa kau bisa hidup dengan bebas” nasehat Yul. Dari atas tangga, keduanya melihat Shin yang hendak pergi menuju suatu tempat dengan membawa sebuah kotak.

“Yul-gun, apa ada sesuatu yang mengganggumu padamu hari ini?” tanya Chae-gyeong yang mencoba mengalihkan pemikirannya sendiri. “Tidak” jawab Yul. “Benarkah?” tanya Chae-gyeong. “Ayo kembali ke dalam. Mari kita jernihkan pikiran kita. Jika kau masih terus bertahan di kegelapan, mereka akan bilang kalau kau kehilangan pikiranmu” ajak Yul. “Tidak, aku tak apa-apa. Baiklah… Ayo pergi…” kata Chae-gyeong kemudian.

Sementara itu, Shin turun ke tempat dimana Hyo-rin sedang berkatih balet. Hyo-rin sedang menari dengan indah di atas panggung. Shin duduk dan terus mengamatinya. Tiba-tiba Hyo-rin terjatuh. Shin kaget dan langsung menghampiri Hyo-rin. “Apa kau tak apa-apa? Apa kau terluka?” tanya Shin. Kapan kau datang? Kuharap aku tak mengganggu waktumu, karena kau pasti sibuk sekali” Hyo-rin malah balik bertanya.

“Dimana yang terasa sakit?” tanya Shin lagi. “Kemanapun aku pergi, rasa sakit itu pasti terasa. Aku berlatih balet dengan keras akhir-akhir ini. Mungkin kakiku tak sekuat biasanya” kata Hyo-rin. Shin mencoba memegang kaki Hyo-rin. Hyo-rin meringis kesakitan karenanya. “Itu sakit sekali…” keluh Hyo-rin. Saat Shin memegangi kaki Hyo-rin, tanpa dia tahu, Chae-gyeong menyaksikan semua itu. Hatinya sakit, sangat sakit. Yul yang juga ikut bersama Chae-gyeong tahu benar apa yang dirasakan Chae-gyeong.

“Apa kau membawanya?” tanya Hyo-rin saat melihat kotak berinisial HR yang dibawa Shin. Shin menyerahkan kotak itu. “Aku baru saja kembali dari sekolah balet untuk menandatangani surat dari sekolah baletku” kata Hyo-rin. “Bagus sekali? Hyo-rin ah, apa kau pikir aku harus melakukan semua yang ada dalam pikiranku?” tanya Shin kemudian. Hyo-rin tersenyum.

“Apa kau baru menyadarinya sekarang? Aku menghabiskan banyak waktu bersamamu, aku bisa lihat kau itu orang seperti apa. Chae-gyeong tak punya kesempatan seperti itu, tapi itu bukan berarti kalau cintaku lebih besar daripada cintanya. Kita mungkin memiliki banyak kesamaan, tapi kau dan Chae-gyeong sama sekali berbeda. Shin, kau harus benar-benar belajar memahami dirimu sendiri. Kau harus tunjukkan pada Chae-gyeong tentang perasaanmu” nasehat Hyo-rin.

“Kita tak seharusnya pergi kesana” kata Yul dalam perjalanan pulang menuju kelas mereka. Akhir-akhir ini, setiap aku bertemu Shin, kami pasti akan adu mulut. Saat dia melakukan hal menyebalkan padaku, aku ingin dia pergi jauh dariku. Tapi saat dia pergi jauh, aku ingin bertemu dengannya...Akan sangat menyenangkan kalau Shin bisa memahamiku” curhat Chae-gyeong.

Yul berhenti melangkah dan berkata, “Jika Shin merasakan hal yang sama denganmu, apa kau yakin kau akan merasa kalau hidupmu bahagia? Itu hanya untuk orang-orang dewasa. Waktu itu pasti akan segera berakhir, tak peduli betapa spesialnya waktu itu. Dan saat waktu itu berakhir, tak akan ada lagi yang tersisa”. “Aku merasa tak yakin saat ini” kata Chae-gyeong. chae-gyeong melangkah pergi mendahului Yul.

Sementara itu di istana, Ibu Yul sedang menerima tamu. Ibu Chae-gyeong! “Seperti yang kukatakan sebelumnya, kau tak bisa terus hidup dalam kegelapan” kata Ibu Yul. “Itu benar! Asuransi ini akan melindungimu dari kegelapan! Jika hari hujan, asuransi ini akan jadi seperti payung yang akan menjagamu untuk tetap kering, dan akan ada dimanapun dan kapanpun kau butuhkan” kata Ibu Chae-gyeong.

“Dan juga ada hadiah promosi istimewa. Aku memberikannya spesial untukmu, Yang Mulia Ratu Agung. Ini pasti sangat berguna. Ini sangat istimewa, jadi akan memberikannya untuk pertama kalinya untuk anda Yang Mulia. Lihatlah ini baik-baik” tambah Ibu Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong memberitahu cara kerja hadiah itu, sebuah robot vacuum cleaner. Ibu Yul merasa agak takut melihatnya, jadi dia minta Ibu Chae-gyeong untuk menghentikan demonstrasinya.

“Aku tahu maksudmu dengan baik, alasan asuransi itu... Tapi apa kau tak merasa kalau ada sesuatu yang buruk mengenai hal itu...?” tanya Ibu Yul. “Sesuatu yang buruk?” Ibu Chae-gyeong balik bertanya. “Hidup dalam kehidupan yang indah, dan saat kegelapan muncul, kita harus belajar untuk mengatasi kegelapan itu dengan baik. Saat hujan turun, kau hanya tinggal membiarkan hujan itu menghujanimu, bukankah itu yang dinamakan kehidupan?” kata Ibu Yul. Ibu Chae-gyeong hanya terdiam.

Tiba-tiba Yul masuk ke dalam dan mengucapkan salamnya pada Ibu Chae-gyeong. Yul bertanya apa yang sedang Ibu Chae-gyeong lakukan dengan Ibunya. “Aku hanya ingin menunjukkan usaha polis asuransi milik ibumu. Kupikir Yang Mulia Ratu akan menyukainya, tapi aku rasa aku salah” keluh Ibu Chae-gyeong.Aku masih seorang murid sekarang, jadi punya asuransi pasti akan berat untukku sekarang. Saat aku mendapatkan pekerjaan, aku pasti akan membeli asuransi darimu” hibur Yul. Ibunya hanya bisa melotot memandanginya.

Ibu Chae-gyeong menemui suaminya di kantin istana. “Maksudku, omong kosong macam apa itu! Bagaimana kau bisa terus berjalan dengan hujan yang membuatmu basah kuyup, apa kau juga berpikir demikian?” keluh Ibu Chae-gyeong. “Bukankah sudah kukatakan padamu, tak kan ada kesempatan untuk mendekati wanita itu” kata Ayah Chae-gyeong.

“Aigo, aku ingat saat aku merasa sakit melihatnya jadi seorang Putri Mahkota sebelumnya!Dan sekarang dia membuatku merasa sakit sekali lagi! Lihat saja apa aku akan menyerah akan hal ini! Aku akan treus menempel padanya seperti permen karet dan membuatnya membeli polis asuransiku! Kau akan lihat nanti!” kata Ibu Chae-gyeong.

“Oke! Mendekatlah sedikit lagi...” pinta Ayah Chae-gyeong. Ibu Chae-gyeong merasa heran, tapi dia mendekat juga. “Aku mendengar apa yang dikatakan oleh beberapa pelanggan. Mereka bilang kalau kita memanfaatkan nama Chae-gyeong untuk melakukan pekerjaan kita” kata Ayah Chae-gyeong dengan pelan-pelan pada istrinya. “Apa! Apa katamu… Siapa yang berani mengatakan hal seperti itu! Bukankah itu hanya omong kosong?!” seru Ibu Chae-gyeong sambil berdiri karena kesal. Suaminya berusaha untuk menenangkannya.

“Kita bekerja dengan berdiri sendiri memakai kaki kita. Dasar brengsek! Tak peduli dengan siapa anak gadis kita menikah, orang-orang tak seharusnya berkata seperti itu!” teriak Ibu Chae-gyeong. “Lupakan saja rumor bodoh seperti itu. Jangan pergi ke istana untuk menjual asuransimu lagi. Jika putri kecil kita mendengar rumor itu, dia pasti akan merasa sedih” bujuk Ayah Chae-gyeong. “Jika aku tahu hal seperti ini akan terjadi, aku takkan membiarkan dia menikah dan masuk ke dalam Istana. Aku merasa bersalah pada Chae-gyeong kecilku. Dia pasti merasa sangat kesepian hidup di dalam istana ini” kata Ibu Chae-gyeong kemudian.

Shin menuju ke kamar Chae-gyeong dan membuka pintu kamar Chae-gyeong. kedua dayang Chae-gyeong ada di belakang Shin dan senyum-senyum. “Yang Mulia Pangeran. Yang Mulia Pangeran, apa anda mencari Yang Mulia Permaisuri?” tanya mereka. Shin kaget dan jadi gugup dan kemudian menutup pintu kamar Chae-gyeong lagi. “Oh, tidak. Lakukan pekerjaanmu” perintah Shin. Saat Shin pergi, mereka berdua berkata, “Kurasa dia malu mengatakannya...”.

Chae-gyeong ada di atas loteng tempat dulu Shin biasa termenung sendirian. Chae-gyeong mengamati tempat itu dan kemudian merasa sedih dengan peristiwa yang kemarin terjadi. Chae-gyeong berbaring dan air matanya mengalir.

Hye-jeong berjalan berdua dengan Kwak Sang-gung ke suatu tempat. Hye-jeong meminta Kwak Sang-gung menunggu di tepi kolam saja. Ternyata Hye-jeong menemui Raja! “Ku dengar akhir-akhir ini kau sering sekali bertemu dengan Yul. Dia punya pemikiran yang tajam dan anak yang cerdas. Dia seorang anak yang baik yang dengan mudah bisa beradaptasi dengan baik di Inggris. Yang Mulia Raja. Tolong bantulah Yul untuk mendapatkan posisinya kembali” pinta Hye-jeong.

“Ratu Agung” kata Raja. “Sebagai seorang anak, dia terlahir untuk jadi seorang Raja. Kenyataan itu tak bisa dihapus begitu saja dengan mengubah takdirnya” tambah Hye-jeong. “Tentang itu, seseorang akan dipilih dengan baik, siapa yang mampu untuk menjadi seorang Raja” kata Raja. “Jika seperti itu, bukankah sudah jelas jawabannya?” tambah Hye-jeong. “Mereka berdua masih sama-sama muda. Mereka masih perlu di latih lebih banyak lagi. Bagaimana cara mereka mengatasi kesulitan, itu adalah hal yang paling penting” tegas Raja.

“Yang Mulia, garis yang tergambar harus jelas antara pelatihan dan cara penyelesaiannya. Putra Mahkota yang sekarang, belum pernah menghadapi cobaan atau latihan dalam takdirnya. Dia menderita karena konsekuensi yang dia buat dari kesalahannya sendiri” kata Hye-jeong. Raja hanya bisa diam sambil memandangi Hye-jeong.

Sementara itu, Shin naik ke loteng yang ada di istana Myeong-seong. Loteng tempat Raja dan Hye-jeong biasa bertemu di masa lalu. Shin mengamati buku-buku yang ada di tempat itu. Kemudian dia mengambil sebuah buku. Sebuah surat terselip dalam buku itu. Ada foto Ayahnya yang berduaan dengan Hye-jeong. Tentu saja Shin kaget melihatnya. Lalu dia mulai membaca surat yang ada didalamnya.

Isi surat itu:
“Cintaku, seseorang yang hanya bisa kulihat dari jauh. Kau bertanya padaku seberapa banyak aku mencintaimu...Cintaku padamu lebih dalam daripada apapun. Tak peduli betapapun tingginya hal itu, cintaku pasti akan bisa meraih ketinggian itu. Cintaku lebih berharga dari batu yang paling berharga...Cintaku lebih terang daripada berlian…Lebih bercahaya daripada seluruh semesta. Bibirmu terasa seperti nyata dan pelukanmu seperti pijatan para dewa yang begitu alami. Bagaimana aku bisa melupakannya? Kau, yang sekarang jatuh ke pelukan yang lainnya. Aku hanya bisa melihatnya dengan kesedihanku”.

Shin shock membaca surat itu. Rasanya seakan dia tak percaya dengan apa yang baru saja diketahuinya lewat surat itu.

Hye-jeong kembali ke kediamannya bersama Kwak Sang-gung. Saat Hye-jeong hendak masuk, Shin datang menghampirinya. Shin memberi hormat pada Hye-jeong. “Kenapa wajahmu begitu suram, Putra Mahkota. Apa kau bersenang-senang di pesta itu?” tanya Hye-jeong dengan ramah. “Ya, Yang Mulia. Yul sudah merencanakan banyak hal, Dan dia juga sudah melakukan banyak persiapan” jawab Shin dengan dingin.

“Tolong jagalah Pangeran Yul. Sepertinya teman yang dia punya hanyalah Yang Mulia Permaisuri. Mereka sering sekali bersama, hal ini membuatku khawatir. Kuharap hal itu akan sama saat kau masih muda, Putra Mahkota akan bersahabat baik dengan Yul” pinta Hye-jeong. “Selama Yang Mulia berharap demikian, Permaisuri dan aku akan jadi sahabat Yul” jawab Shin. Hye-jeong tersenyum mendengar hal itu tanpa mengerti apa yang ada di pikiran Shin.

Raja sedang berkumpul berempat bersama Hye-myeong, Yul dan juga asisten Yul. Mereka sedang membicarakan tentang artefak kebudayaan. “Mengenai artefak yang hilang di luar negeri, sudah ada banyak diskusi mengenai hal itu. Hal itu sepertinya akan menuai banyak keuntungan daripada kerugiannya. Lebih banyak didiskusikan, akan lebih banyak lagi perhatian yang diberikan oleh masyarakat” kata Yul. Raja mengiyakan hal itu.

“Mengenai cara pengembalian artefak itu dari luar negeri, tanggung jawab itu harus kita lakukan dengan baik. Ada satu hal yang paling penting” kata Raja. “Seperti saat Pangeran William datang berkunjung waktu itu, Memberikan yang terbaik yang kita punya. Dan kita akan mendapatkan hasilnya” usul Yul. “Ya tentu saja. Dan yang paling penting adalah yang terjadi dengan kebudayaan klasik Yunani tentang Parthenon milik mereka yang ada di museum Inggris. Inggris sebenarnya menolaknya saat pertama kali, tapi pada akhirnya, mereka akan mengembalikannya. Sampai sekarang saja aku masih belum bisa mempercayainya” sahut Hye-myeong.

“Itulah kenapa, kita harus berusaha lebih baik dari pada itu. Untuk kasus China dan Italia... Ini karena determinasi kedua pemerintahan negara itu. Mereka sudah mengembalikan banyak sekali artefak pada negara kita” kata Raja. “Mempersembahkannya pada negara kita dan dimasa depan, hal itu mungkin akan jadi semakin sulit utuk mengembalikan semua artefak itu” lanjut Yul. “Pengeran Yul sudah merencanakan itu semua dengan baik. Rencananya dia akan melakukan perjanjian saling menguntungkan dengan Perancis. Untuk Rencana Perpustakaan Asing” lapor Asisten Yul.

Raja senang sekali mendengar hal itu. “Pangeran Yul sudah berusaha dengan baik. Aku lega sekali mendengar hal itu” puji Raja. Yul tersenyum mendengar pujian itu. Kemudian dia berpamitan pergi pada Raja. Raja bilang agar Yul sering menemuinya untuk berdiskusi. Yul mengiyakan permintaan Raja. Hye-myeong tersenyum penuh arti menatap ayahnya.

Saat Yul pergi bersama asistennya, Hye-myeong berkata pada Ayahnya. “Saat menatap Yul, ekspresi ayah penuh dengan kebahagiaan. Sangat berbeda sekali saat ayah menatap Shin” keluh Hye-myeong. “Mengenai pengembalian artefak itu, aku sudah lama membicarakannya dengan Putra Mahkota. Tapi kau lihat sendiri apa yang dilakukan oleh Yul. Mereka berdua sama sekali berbeda menghadapi masalah seperti itu. Bagaimana aku tak senang melihat Yul?” jawab Raja. “Haruskah Shin jadi gugup karena hal ini?” sindir Hye-myeong. Dia merasa ayahnya lebih sayang pada Yul daripada Shin yang pada kenyataannya adalah putra kandung-nya sendiri.

Saat berjalan pergi dari kediaman Raja, Yul bertemu dengan Ratu. Ratu bertanya apa Yul baru saja dari kediaman Raja. yul membenarkan hal itu dan berkata kalau dia baru saja membicarakan tentang pengembalian artefak dengan Raja. Ratu menyuruh Park Sang-gung yang menemaninya untuk pergi dulu. Ratu ingin bicara berdua dengan Yul. Ratu juga memuji kemampuan mediasi yang dilakukan oleh Yul dalam upaya pengembalian artefak milik kerajaan Korea yang berada di luar negeri. Yul tersenyum mendengar pujian Ratu.

“Ku dengar kau berpartisipasi dalam pertemuan Jong Jin” kata Ratu. “Ya. Aku selalu ingin menyampaikan salamku pada para tetua dan itu terjadi di pertemuan Jong Jin. Karena itulah aku pergi” sahut Yul. “Pangeran Yul. Kau itu orang kedua setelah Putra Mahkota. Secara langsung hal ini akan mempengaruhi sebagian besar perhatian anggota dewan istana. Tolong jangan lupakan hal itu” kata Ratu. Ratu hendak melangkah pergi, tapi langkahnya terhenti oleh kata-kata Yul. “Yang Mulia Ratu, apa maksud anda, kalau aku ingin merebut posisi Putra Mahkota dari Shin?” tebak Yul.

“Pangeran Yul. Bagaimana kau bisa berkata seperti itu dengan mudah dan tanpa tanggungjawab?” seru Ratu. “Aku merasa kalau Yang Mulia Ratu sangat salah paham terhadapku. Itulah kenapa aku berkata seperti itu” kata Yul. “Salah paham?” tanya Ratu. “Aku hanya melaksanakan tugas yang harus kulaksanakan. Melakukan sesuatu setelah berpikir dengan hati-hati” tambah Yul.

“Pangeran, berpikirlah dengan lebih hati-hati dari sebelumnya dan berpikirlah lebih dewasa lagi” nasehat Ratu. “Aku akan mengingat apa yang anda ajarkan padaku Yang Mulia Ratu” jawab Yul dengan dingin. Terlihat ekspresi Ratu yang berusaha menahan kekesalannya.

Shin sedang duduk termenung sambil memeluk Alfred. Kasim Kong masuk dan berkata kalau sekarang saatnya Putra Mahkota untuk belajar dalam menghadapi interview yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Tapi Shin hanya diam. Kasim Kong menegur Shin sekali lagi. “Kasim Kong” panggil Shin kemudian. “Ya, Yang Mulia” jawab Kasim Kong.

“Kau bilang kalau Istana Myeong-seong itu adalah area kosong yang sama sekali tak pernah digunakan, kan?” tanya Shin. “Ya Yang Muia” jawab Kasim Kong dengan gugup dan kaget mendengar pertanyaan Shin. “Sejak kapan tempat itu sama sekali tak pernah digunakan? Sejak 14  tahun yang lalu. Maksudku, apa yang terjadi di masa lalu?” lanjut Shin. “Yang Mulia. Ini saatnya untuk pelajaranmu. Yang Mulia Permaisuri menunggumu” kata Kasim Kong mencoba mengalihkan pembicaraan. Shin menatap Kasim Kong. Kasim Kong merasa agak ketakutan, jadi dia hanya menunduk. “Aku mengerti. Ayo pergi” kata Shin kemudian.

Di sekolah Chae-gyeong, Chae-gyeong bersama ketiga sahabatnya sedang menerima pelajaran menjahit. “Kita sudah lama sekali tak membuat hal seperti ini. Rasanya seperti jadi murid baru lagi” kata Chae-gyeong. “Itu benar. Kau adalah seorang murid. Sepenuhnya seorang murid, tapi sebagian lagi juga seorang Putri Mahkota” kata Kang-hyeon. “Apa kau tak bisa bicara yang lainnya?” keluh Chae-gyeong. “Kau adalah seorang murid di masa lalu. Tapi kau tak perlu jadi seorang Putri Mahkota di masa lalu kan?” canda Kang-hyeon.

“Kang-hyeon memnag temanku tapi…kau itu sangat pintar” kata Chae-gyeong. “Tapi haruskah seperti ini?” tanya Hui-sung. “Tentu saja. Pertama kau harus melakukan pemanasan. Kedua kau harus melakukan pemanasan” jawab Chae-gyeong. “Bukan seperti itu. Pertama kau harus melahirkan seorang anak laki-laki. Kedua, kau harus melahirkan seorang anak laki-laki. Benar begitu kan?” timpal Sun-yeong. Yul yang juga duduk bersama mereka merasa sedih mendengar hal itu.

“Bagaimana mungkin seperti itu?” tanya Hui-sung. “Kau benar, pertama, tanyakan dulu pada Putri Mahkota, bukankah menyenangkan melahirkan seorang anak laki-laki yang lucu. Untuk meneruskan garis keturunan keluarga Raja” nasehat Sun-yeong. ”Seorang bayi laki-laki yang lucu. Chae-gyeong akan menangis. Berhentilah menggodanya” kata Kang-hyeon.

Sementara itu diluar, Shin bersama teman-teman sekelasnya sedang mencoba untuk menjadi seorang sutradara. Kang-in yang menjadi kameramennya dan Jang-gyeong yang menjadi model videonya. Tiba-tiba kamera yang dipegang Kang-in berbelok ke arah lain. Tentu saja Shin marah. Kang-in bilang itu karena ada angsa yang menghampirinya. Ternyata ketiga teman Chae-gyeong datang menghampiri mereka.

Shin memarahi Kang-in yang tak fokus. Sedangkan Kang-in mengeluh, kenapa Shin harus jadi seorang sutradara. Apa hal itu bisa terwujud? Bukankah seharusnya Shin jadi seorang Raja saja. Shin tak menghiraukan kata-kata Kang-in. Dia menyuruh Kang-in untuk fokus ke layar kamera saja. Kang-in pun hanya bisa mengiyakan permintaan Shin. Mereka mulai syuting lagi.

Sementara itu Hyo-rin masih terus belajar balet dengan giat.

Sepulang sekolah, Chae-gyeong berjalan bersama dengan ketiga temannya. Chae-gyeong bilang pada teman-temannya kalau dia lapar. Lalu dia mengajak teman-temannya makan ‘ttokboggi’ (kue yang dibuat dari tepung beras dan dimakan dengan saus pedas).

Tapi sayangnya sepertinya keinginan Chae-gyeong akan sulit terwujud. Para pengawalnya sudah menhampirinya. Mereka bilang sudah saatnya Chae-gyeong untuk kembali ke istana. Chae-gyeong mengeluh karenanya. Kang-hyeon menyuruh Chae-gyeong untuk menuruti permintaan para pengawalnya. Dan kemudian mengajak pergi yang lainnya.

Chae-gyeong tentu saja sedih melihat kepergiaan mereka. Chae-gyeong ingin menyusul mereka. Tapi tentu saja para pengawalnya tak mengijinkannya. Tapi Chae-gyeong bilang dia hanya akan pergi sebentar saja. “Aku akan segera kembali. Tujuh menit, ah tidak 3 menit. Tidak, 1 menit saja” pintanya. Pengawalnya hanya bisa memandangi kepergian Chae-gyeong.

Chae-gyeong makan ttokboggi dengan lahap. Dia senang sekali makan bersama teman-temannya. Kemudian Chae-gyeong berseru agar bibi pemilik kedai membawakan sepiring lagi untuknya. Kang-hyeon mengeluh kenapa Chae-gyeong makan sebanyak itu.  Apa perut Chae-gyeong sanggup menampung semua itu. Tanpa mereka berempat sadari, Shin masuk ke dalam kedai itu.

“Kau tahu betapa aku sangat ingin memakannya? Jangan khawatirkan tentang aku, mari kita makan yang banyak” kata Chae-gyeong sambil terus menikmati makanan kegemarannya itu. “Berhentilah makan” pinta Sun-yeong. “Hei. Orang-orang bilang, kau seharusnya tak mengganggu saat seekor anjing sedang makan. Apa yang kalian lakukan?” keluh Chae-gyeong.

“Saat kau diwawancarai, wajahmu nanti akan berubah jadi sebesar bulan” kata Hui-seung. “Biasanya memang wajah kita akan terlihat dua kali lebih besar daripada di TV. Aku sangat menginkan memakan semua ini dengan kalian. Mengeluh dengan kalian. Makan bersama sampai merasa perutku seakan mau meledak. Aku tak tahu kalau hal seperti ini sangat berharga untukku. Jadi, tolong jangan menghentikanku kali ini” keluh Chae-gyeong.

“Baiklah. Makan semua yang kau inginkan. Makan sampai perutmu kenyang tanpa keluhan apapun sebelum kau kembali” kata Kang-hyeon. Kang-hyeon dengan senang hati menyuapi Chae-gyeong. Chae-gyeong senang sekali karenanya. Beberapa saat kemudian, semua makanan di depan mereka ludes. Chae-gyeong mengeluh. Dia bilang dia merasa seakan kancing seragam sekolahnya hendak lepas. Perutnya seakan mau meledak. Chae-gyeong menghentakkan kursinya kebelakang. Dia minta maaf pada pelanggan yang duduk di belakangnya tanpa tahu kalau Shin lah yang sedari tadi duduk di belakangnya.

Kang-hyeon merasa seakan mengenali siapa yang duduk di belakang Chae-gyeong. hanya saja, penglihatannya agak terganggu karena kacamatanya sedaritadi dipakai oleh Chae-gyeong. Kang-hyeon mengambil kembali kacamatanya dari Chae-gyeong. Dan sekarang dia bisa melihat dengan jelas siapa yang duduk di belakang Chae-gyeong. Dengan buru-buru Kang-hyeon mengajak Hui-sung dan Sun-yeong untuk segara pergi dari kedai itu. Chae-gyeong hanya bisa memandangi kepergian mereka dengan bingung.

Shin duduk di depan Chae-gyeong. Chae-gyeong pun jadi tahu alasan teman-temannya tiba-tiba pergi meninggalkannya sendirian di kedai itu. Shin bertanya apa itu enak. Chae-gyeong mengambil ttokboggi yang masih tersisa dan ingin menyuapkannya pada Shin. Tapi Shin bilang, dia tak mau makan makanan seperti itu. 

Chae-gyeong berkata, mereka berdua memang sangat berbeda. Perbedaannya terlalu banyak. Dan perbedaan itu sepertinya sama sekali tak bisa dihindari. Seperti seseorang yang terlahir sebagai seorang Pangeran dan seorang Pengemis. Seorang Pangeran mungkin terkadang bisa jadi seorang pengemis, tapi tak bisa jadi seorang pangeran yang sesungguhnya.

“Apa bedanya? Hal seperti ini sama sekali tak berarti” kata Shin. “Itu dia. Mungkin masalahnya takkan pernah bisa diatasi” timpal Chae-gyeong. “Jika mereka tak bisa mengatasi masalah itu, tinggal teruskan saja hidup mereka” kata Shin. Tiba-tiba pengawal Shin melaporkan kalau para reporter mengurung tempat itu dan meminta Shin agar segera pergi.

“Sejak kita selalu berjalan dari Istana ke sekolah dengan tenang, aku tak pernah mengira akan terjadi hal seperti ini” kata Shin. “Bagaimanapun juga, kita takkan pernah mendapatkan ketenangan” keluh Chae-gyeong. “Para Polisi akan membuka jalan. Tapi pasti akan ada tekanan dari banyak orang. Sampai kita sampai di mobil, pegang tanganku dan larilah bersamaku” kata Shin sambil mengulurkan tangannya pada Chae-gyeong.

Chae-gyeong berkata dalam hati, “Seberapa lama lagi aku bisa terus menggenggam tanganmu”. Mereka pun pergi meninggalkan kedai itu. Mereka terus berusaha menerobos kerumunan wartawan, hingga akhirnya berhasil masuk ke dalam mobil dan pulang ke Istana.

“Apa kau tak apa-apa? Apa ada yang sakit?” tanya Shin saat mereka ada di dalam mobil dalam perjalanan menuju ke Istana. Tapi Chae-gyeong hanya diam saja. Chae-gyeong menatap terus ke arah jalan. “Apa kau ingin pulang ke rumah?” tanya Shin. Chae-gyeong menunduk. Shin memerintahkan sopirnya untuk berbelok. Menuju rumahChae-gyeong tentunya. Chae-gyeong menatap Shin dengan kaget.

Mereka sampai di rumah Chae-gyeong. “Habiskanlah malammu disini. Aku yang akan bertanggungjawab” kata Shin. “Apa tak apa-apa?” tanya Chae-gyeong ragu-ragu. “Setelah semua ini, mungkin lain kali akan lebih sulit lagi” kata Shin. “Shin-gun” panggil Chae-gyeong. “Dan juga rahasiakan ini dari para tetua” lanjut Shin. Chae-gyeong mengangguk dan tersenyum. Shin juga tersenyum. Chae-gyeong masuk ke dalam rumahnya dan Shin kembali ke mobilnya.

Chae-gyeong berteriak memanggil Ayahnya. Ayahnya dan adiknya senang sekali melihat kepulangan Chae-gyeong. Ibunya sangat terkejut melihat kepulangan Chae-gyeong. Tapi dia juga bahagia melihat putrinya pulang ke rumah. Ibu Chae-gyeong langsung memeluk putrinya itu. Chae-gyeong bilang dia kangen pada semuanya, itulah kenapa kemudian dia ingin pulang ke rumah. Ibu Chae-gyeong bertanya apa Chae-gyeong tak apa-apa pulang ke rumah. Chae-gyeong menenangkan keluarganya dan bilang kalau Shin lah yang sudah mengijinkannya untuk pulang ke rumah.

Mereka makan malam bersama. Chae-gyeong makan masakan rumah favoritnya sepuasnya. Ibunya hanya bisa memandanginya. Ibu Chae-gyeong meminta Chae-gyeong agar makan pelan-pelan. Chae-gyeong bilang, dia senang sekali sudah dibelikan mobil oleh ibunya. Dia terus memakai mobil itu kalau rindu dengan ibunya. Ayahnya tak mau kalah dan bertanya apa Chae-gyeong juga memikirkan dan merindukan ayahnya. Adiknya juga tak mau kalah. Dia juga ingin terus dipikirkan oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong melerai mereka dan berkata, kalau dia akan terus memikirkan Ayah, Ibu dan juga adiknya. Karena dia sangat menyayangi mereka.

Malam harinya, Chae-gyeong tidur berempat bersama Ayah, Ibu dan adiknya. Chae-gyeong tidur dengan manja di perut ibunya. Ayahnya terus membelai rambut Chae-gyeong dengan penuh kasih sayang sedangkan Chae-jun menempel terus di belakang kakaknya.

Tiba-tiba ibunya bangkit dari tempat tidurnya dan berkata kalau Chae-gyeong harus kembali ke istana. Bukannya ibunya tak nerindukannya, hanya saja, sekarang ini Chae-gyeong sudah menjadi bagian dari keluarga istana dan harus melakukan semua peraturan yang ada di istana. Chae-gyeong sekarangi ini adalah seorang Permaisur. Jika Chae-gyeong keluar istana dan tinggal di rumahnya tanpa ijin dari Ratu, pasti akan timbul masalah.

Akhirnya Chae-gyeong dipaksa harus pulang kembali ke istana. Dengan perasaan sedih Chae-gyeong pulang dengan naik taksi dan ayahnya terus saja memanggil-manggil namanya. Ibunya juga sedih. Tapi dia pikir itu yang terbaik untuk putrinya yang sekarang ini bukan hanya putrinya, tapi juga seorang Permaisuri di Istana.

Chae-gyeong sampai di istana. Park Sang-gung dan Choi Sang-gung menunggu berdua di depan kediamannya. Choi Sang-gung bilang kalau Ratu sedang menunggu Chae-gyeong. Chae-gyeong terkejut dan juga takut mendengarnya. Choi Sang-gung bilang, sepertinya Ratu tahu kalau Chae-gyeong pulang ke rumahnya. Park Sang-gung menambahkan. Seharian tadi Ratu mencari-cari Chae-gyeong, tapi Chae-gyeong tak ada dimana-mana dan Ratu jadi sangat marah sekarang. Dan karena Chae-gyeong naik taksi dan hal itu diketahui para penjaga, maka penjaga itu pun melapor pada Ratu. Chae-gyeong ketakutan dan memandangi Choi Sang-gung. Choi Sang-gung merasa kasihan pada Chae-gyeong. Tapi dia juga tak tahu harus bagaimana.

Ratu memarahi Chae-gyeong habis-habisan. Sejak Chae-gyeong menjadi seorang Permaisuri, Chae-gyeong harus melupakan keluarganya. Bagaimana bisa Chae-gyeongterus berpikir untuk kembali ke rumahnya saat ada waktu luang. Sebagai tambahannya, Chae-gyeong juga sudah melanggar peraturan istana dengan tidak langsung melapor saat dia pulang ke istana. Kenapa seorang Permaisuri selalu ingin melanggar peraturan istana.

Chae-gyeong hanya bisa menunduk dan meminta maaf. Choi Sang-gung mencoba membela Chae-gyeong. Choi Sang-gung bilang, Chae-gyeong tak bermaksud melanggar peraturan seperti itu. Karena Shin sudah mengijinkannya pulang, maka Chae-gyeong pun pulang ke rumah untuk mengunjungi keluarganya. Ratu tak mau tahu. Dia hanya bertanya bagaimana caranya agar Chae-gyeong tidak melanggar peraturan yang ada di istana. Kapan Chae-gyeong bisa mengikuti semua peraturan yang ada di istana. Ratu sangat kecewa melihat kelakuan Chae-gyeong.

Chae-gyeong hanya bisa meminta maaf. Ratu berkata, jika hal seperti ini terjadi lagi, maka Ratu takkan segan-segan untuk menghukum Chae-gyeong. Ratu bilang, dia juga akan menambah jumlah pengawal yang akan terus mengawasi Chae-gyeong. Ratu mengijinkan Chae-gyeong ke kediamannya, tapi Ratu meminta Choi Sang-gung untuk tetap tinggal.

Chae-gyeong keluar dari kediaman Ratu dengan sedih. Shin ada di luar sedang duduk sambil terus memandangi Chae-gyeong yang sama sekali tak mau bicara sepatah katapun padanya. Shin memandang dengan sedih kepergian Chae-gyeong.

Shin memberitahu ibunya kalau dialah yang sudah mengijinkan Chae-gyeong untuk pulang ke rumahnya. Ratu bilang, sekarang ini bukan saatnya untuk membicarakan tentang Permaisuri. Harusnya Shin membantu Chae-gyeong untuk mentaati peraturan istana dan bukannya membantu Chae-gyeong untuk melanggar peraturan istana. Ratu benar-benar tak habis pikir apa yang sebenarnya ada dalam pikiran Shin.

Shin bilang, apa yang dilakukannya bukanlah untuk membantu Chae-gyeong. Dia hanya ingin agar Chae-gyeong bisa ’bernafas’. Ratu terkejut mendengar kata-kata Shin. Ratu bertanya apa maksud kata-kata Shin itu. “Dia adalah orang yang bebas dan paling ceria diantara semua orang yang ku kenal. Orang seperti itu hidup di dalam istana dengan peraturan yang begitu ketat. Aku merasa kalau dia begitu menderita. Aku hanya berharap kalau ibu lebih peduli lagi padanya” ungkap Shin.

“Tapi itu, yang paling penting adalah bagaimana caranya agar Bi-gung mengatasi semua itu. Sekali dia kembali ke keluarganya, akan lebih sulit lagi baginya untuk hidup di dalam istana. Apa kau sama sekali tak mengerti akan hal itu” kata Ratu.

Shin menghampiri Chae-gyeong yang sedang berdiri termenung di depan kediamannya. “Dasar gadis bodoh. Kenapa kau tak bisa melakukan hal seperti itu dengan baik. Jika kau tak berani kembali sendirian, kau bisa meneleponku dan semuanya akan baik-baik saja. Sekarang ibuku tahu semuanya dan mengasihaniku” kata Shin. Maksudnya agar Chae-gyeong tertawa mendengar Ratu yang mengasihani Shin, bukannya memarahi Shin. Tapi Chae-gyeong sama sekali tak mempedulikan hal itu. “Apa kau berkata seperti itu agar aku merasa nyaman? Saat situasi seperti ini, tak bisakah kau membuatku merasa nyaman?” ujar Chae-gyeong.

“Aku tak tahu bagaimana caranya. Dan juga, membuatmu nyaman takkan bisa mengatasi masalah” kata Shin. “Orang-orang biasanya saling membuat perasaan orang terdekatnya menjadi nyaman. Meskipun tak bisa mengatasi masalah, tapi hal itu bisa membuat perasaanku jadi lebih baik” timpal Chae-gyeong dengan lantang. “Hei, haruskah kau berteriak sekuat itu?” tanya Shin.

“Hanya dengan bilang, ‘Chae-gyeong apa kau tak apa-apa?’ hanya dengan kalimat singkat seperti itu. Terkadang aku juga ingin merasa mendapatkan kenyamanan dari Shin-gun. Tapi, sepertinya, kenyamanan itu aku dapat dari orang lain” kata Chae-gyeong. “Jangan bilang padaku…Apa kau dapatkan itu dari Yul?” tanya Shin. Chae-gyeong tersenyum sinis dan beranjak pergi. “Apa yang bisa membuatmu membandingkannya denganku?” seru Shin sambil memegangi tangan Chae-gyeong.

“Lepaskan aku” kata Chae-gyeong. “Katakan padaku. Setidaknya aku ingin tahu alasannya” kata Shin. “Setidaknya Yul-gun selalu memperhatikan pikiran dan perasaan orang lain” jawab Chae-gyeong. “Jadi itu alasan kenapa kau selalu lari padanya saat kau punya masalah? Agar Yul bisa membuatmu nyaman. Benar begitu?” tanya Shin. “Lupakan saja” kata Chae-gyeonmg, berusaha untuk pergi meninggalkan Shin.

Shin memegangi tangan Chae-gyeong dan berkata kalau dia belum selesai bicara. Chae-gyeong bilang dia masih penasaran bagaimana bisa Shin menyakiti orang lain dengan begitu mudah. Chae-gyeong beranjak pergi. Shin bertanya Chae-gyeong ingin pergi ke mana. Chae-gyeong bilang dia hanya ingin mencari udara segar.

Chae-gyeong keluar istana dengan naik mobil pemberian ibunya sambil menangis. Yul baru saja kembali dari luar istana dan melihat kepergian mobil Chae-gyeong. Yul langsung memutar mobilnya untuk mengikuti Chae-gyeong. Chae-gyeong terus saja menangis sepanjang perjalanan. Sampai akhinya dia berhenti di pinggir Sungai Han.

Yul turun dari mobilnya yang ada di belakang mobil Chae-gyeong dan mengetuk kaca mobil Chae-gyeong. Mereka duduk berdua di dalam mobil Chae-gyeong.  Chae-gyeong berkata kalau dia selalu saja membuat masalah untuk Yul. Yul bertanya apa Chae-gyeong menangis karena Shin lagi. Yul bilang, tiap kali dia melihat Chae-gyeong sedih, dia ikut sedih karenanya.

Chae-gyeong bilang dia sudah lelah dengan semua yang sudah terjadi padanya. Tak ada sesuatu yang bisa dia lakukan lagi. Chae-gyeong senang karena Yul selalu bisa meminjamkan bahunya untuk membuatnya merasa nyaman.

Tiba-tiba Yul berkata agar Chae-gyeong pergi dari istana dan pergi ke tempat yang diinginkan oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong tak mengerti apa maksud Yul. Yul bilang, tak peduli seberapa banyak Chae-gyeong menyukai Shin, Shin takkan bisa membuat Chae-gyeong merasa nyaman. Dan pada akhirnya hanya rasa sakit yang Chae-gyeong dapatkan. Itulah kenapa, sebelum semua itu terjadi, lebih baik kalau Chae-gyeong pergi sekarang. Yul mencoba meraba pipi Chae-gyeong untuk menghapus airmata Chae-gyeong. tapi Chae-gyeong merasa tak nyaman dengan hal itu, jadi dia pun keluar dari mobil. Yul juga ikut keluar.

“Ini terlalu membingungkan” kata Chae-gyeong. “Hatimu yang akan membebaskanmu dari kebingungan itu” kata Yul. Chae-gyeong terus berjalan dan Yul mengikuti di belakangnya. Lalu beberapa saat kemudian Chae-gyeong kembali lagi menuju mobilnya. Tapi dia sangat kaget dan berteriak saat dia tak melihat mobilnya yang tadi ada di depan mobil Yul.

Seorang polisi datang ke istana untuk mengetahui secara detail lagi tentang mobil Chae-gyeong yang hilang. Polisi itu bilang, dia akan membantu Chae-gyeong untuk menemukan mobilnya. Polisi itu berpamitan pergi. Hanya tinggal Chae-gyeong dan Shin. “Mobil yang ada bersama dengan mobilmu waktu itu adalah mobil Yul kan?” tanya Shin dengan sinis. Chae-gyeong hanya terdiam. “Jadi sekarang perasaanmu sudah menjadi nyaman lagi. Jangan lupa untuk berpikir bijaksana. Seorang sepupu berkencan di tengah malam…Hal itu pasti akan membuat orang lain salah paham” sindir Shin. Shin tertawa dengan sinis dan pergi meninggalkan Chae-gyeong yang termenung sendirian menyadari kesalahan apa yang baru saja dilakukannya.

Princess Hours Episode 18

Chae-gyeong bersembunyi dan merasa lemas juga deg-degan bersembunyi di dalam lemari. Chae-gyeong tak tahu apa yang harus dilakukannya. Jika dia keluar sekarang, dia pasti terlihat aneh. Dia jadi salah tingkah sendiri. Dia berkata pada dirinya sendiri, dia tak melihat apa-apa dan dia harus melupakan semuanya. Shin menjatuhkan sesuatu dan memungutnya. Chae-gyeong segera sembunyi lagi.

Shin masuk ke kamar mandi. Chae-gyeong berusaha keluar dari tempatnya sembunyi. Tepat saat itu, Shin keluar lagi dari kamar mandi. Tentu saja itu membuat Chae-gyeong panik dan masuk lagi ke dalam lemari. Chae-gyeong marah-marah sendiri di dalam lemari karena bingung tak bisa keluar. Chae-gyeong bilang dia harus keluar dari lemari itu. Tapi kemudian dia membayangkan, kalau dia keluar dan Shin juga keluar dari kamar mandi dalam keadaan telanjang, maka itu akan membuatnya malu seumur hidup. Kemudian tiba-tiba Chae-gyeong merasa kakinya kesemutan.

Karena lelah dan kesemutan, Chae-gyeong tertidur saat Shin selesai mandi dan berdiri di depan lemari. Chae-gyeong terbangun dan kemudian mulai keluar dari lemari dan memegangi kaki Shin. Tentu saja Shin berteriak dan naik ke tempat tidur karena kaget. Chae-gyeong mencoba keluar dari dalam lemari dan berkata dengan lemah, “Shin-gun ini aku. Kubilang ini aku. Aku Shin Chae-gyeong.

Shin sudah memakai selimut untuk menutupi badannya yang telanjang. Dia duduk di samping tempat tidur. Chae-gyeong sudah berhasil keluar dan bersandar di sisi tempat tidur. Shin marah-marah pada Chae-gyeong. Dia hampir saja mati karena kaget. Dan memarahi Chae-gyeong kenapa harus bersembunyi di dalam lemari.

Chae-gyeong bilang, dia merasa kakinya tadi kesemutan. Tapi sekarang dia merasa seluruh badannya kesemutan. Shin merasa lega. Tapi tiba-tiba Chae-gyeong berkata, “Tunggu sebentar, Shin-gun. Apa kau tak pakai celana dalam?”. Raut wajah Shin mulai berubah. Dia pun jadi panik mendengar kata-kata Chae-gyeong.

“Jangan bilang kau lihat sesuatu. Kau tak lihat apa-apa, kan?” tanya Shin. Chae-gyeong tertawa. “Tidak! Tentu saja tidak. Aku hanya bercanda. Apa yang bisa kulihat darimu. Kau  masih atkut aku melihat sesuatu ya? Mana mungkin. Aku tak melihat sesuatu yang aneh” jawab Chae-gyeong. Shin hanya terdiam terpaku. Sementara Chae-gyeong berlari menjauh sambil berteriak karena bingung.

Kang-hyeon, Hui-sung dan Sun-yeong sedang ada di sauna. Mereka menikmati berendam air hangat. Sun-yeong berkata, mereka senang sekali dan bisa menikmati semua kemewahan ini karena jadi teman Yang Mulia Permaisuri, Shin Chae-gyeong. Kang-hyeon dan Hui-sung meminta Sun-yeong melepas topinya. Sun-yeong malah turun ke bawah dan meminjam kacamata Kang-hyeon.

Kang-in, Jang-gyeong dan juga Ryu-wan masuk ke dalam sauna itu dan bertanya apa yang sedang mereka lakukan. Kang-in meledek mereka, apa sekarang para bebek sudah berubah jadi angsa dan datang ke spa. Kang-in mengambil dan melepas topi Sun-yeong dan memberikannya pada Jang-gyeong. jang-gyeong malah memakai topi Sun-yeong sambil tertawa. Semuanya tertawa karenanya.

Kang-in tiba-tiba kaget dan kemudian menghampiri Kang-hyeon. Dia seakan tak percaya memandangi Kang-hyeon tanpa kacamata. Dia langsung melepas kacamatanya dan menghampiri Kang-hyeon. “Kau adalah…” kata Kang-in dengan takjub. “Hei, ada apa?” tanya Jang-gyeong. “Kenapa seorang pria sepertiku sampai tak sadar ada angsa seanggun dia” jawab Kang-in. “Dasar bodoh. Kau bilang dia angsa, lalu apakah kita juga harus berubah jadi angsa?” canda Jang-gyeong. Semuanya tertawa mendengarnya.

Chae-gyeong selesai keramas dan ada di depan kaca. Rambutnya di bungkus pakai handuk. Shin masuk dan meledeknya dengan bilang, rambut Chae-gyeong seperti es krim. Shin duduk di kasur di belakang Chae-gyeong sambil membaca. “Kapanpun kami pergi berempat ke suatu tempat, aku Kang-hyeon, Hui-sung dan juga Sun-yeong… Kami akan minum bir dan kemudian bercerita tentang cerita hantu dan kami akan ngobrol dan melukis wajah yang lainnya yang duluan tidur. Tapi tidur sekamar denganmu membuatku bosan dan tak berdaya” keluh Chae-gyeong.

“Apa? Tak berdaya?” tanya Shin. “Lalu kenapa kau tak tidur bersama mereka sekarang? Aku takkan menghentikanmu. Cepat pergi sana” kata Shin sambil berusaha mengusir Chae-gyeong dengan kakinya. “Lagipula, aku tak suka tinggal dengan seorang pengintip sepertimu” tambah Shin. “Pengintip apa?” kata Chae-gyeong tak terima.

“Kau kan kemarin mengintipku saat aku selesai mandi. Dan juga…” Shin tak jadi meneruskan kata-katanya. Keduanya salah tingkah. Keduanya sama-sama malu mengingat peristiwa itu.

Tiba-tiba Shin memegang tangan Chae-gyeong. “Apa kau yakin kau tak melihat apapun?” tanya Shin. “Melihat apa? Aku tak lihat apa-apa. Aku hanya bercanda” jawab Chae-gyeong. “Apa kau benar hanya bercanda?” tanya Shin mencoba memastikan sekali lagi. “Itu benar. Kau ini kenapa seperti ini? Seorang pasangan pengantin juga memperlihatkan milik mereka masing-masing kan?” kata Chae-gyeong.

“Kau…Kau lihat sesuatu kan?” tanya Shin lagi. Dia memaksa Chae-gyeong mengaku. Chae-gyeong melepaskan tangannya dari genggaman Shin dan berkata kalau dia mau tidur siang. Chae-gyeong langsung naik ke tempat tidur dan menyelimuti dirinya lalu kemudian pura-pura tidur.

Hyo-rin sedang termenung sambil menatap pemandagan di jendela kaca. Yul datang dan menghampirinya. Hyo-rin tersenyum memandangi Yul. “Terimakasih karena sudah mengundangku” kata Hyo-rin. “Bukankah kuta teman” jawab Yul. “Aku takut karena aku, semua orang jadi merasa tak nyaman. Hanya itu yang kupikirkan” kata Hyo-rin. “Apa kau benar-benar lelah?” tanya Yul.

“Aku pikir aku lelah dan lebih baik kalau aku berhenti. Jadi, mungkin aku telah membuat kekacauan setiap hari dan aku menyesalinya. Tapi kurasa aku melakukan hal yang benar. Bisa ku katakan, Shin sangat menyukai Chae-gyeong sekarang” jawab Hyo-rin.

“Orang biasa mengatakan, ada cinta yang mulai muncul di antara mereka” kata Yul. “Yul, bicara tentang cinta, bukankah butuh dua orang untuk membentuk cinta itu?” tanya Hyo-rin. Yul hanya diam saja. Tiba-tiba Hyo-rin batuk-batuk. Yul menanyakan keadaan Hyo-rin. Hyo-rin bilang dia tak apa-apa.

Di istana,  Ibu Suri sedang berbicara bertiga dengan Ratu dan Ratu agung. Ibu Suri berkata, Pernikahan Putra Mahkota sudah dilaksanakan. Sejak Hye-jeong dan Yul kembali ke istana, suasana istana jadi lebih meriah. Sekarang giliran Yul yang harus menikah dan menambah jumlah keluarga istana lagi. Mereka belum memiliki pewaris lagi. Saat Yul menikah, Shin dan Yul harus melahirkan pewaris kerajaan sebanyak mungkin. Ratu dan Ratu agung harus ingat hal itu baik-baik.

Ibu Suri juga bilang, kalau bicara tentang hal itu, Ibu Suri melihat kalau Chae-gyeong dan Yul begitu dekat. Apa mereka berdua telah kenal dalam waktu yang begitu lama? Hye-jeong hanya bisa diam saja. Sedangkan Ratu beralasan, mereka berdua adalah teman sekelas. Jadi wajar kalau mereka sangat akrab. Hye-jeong menambahkan, saat pertama kali Yul datang ke negara ini, Chae-gyeong sudah banyak emmbantu Yul. Ibu Suri mengangguk-angguk dan berkata, jadi begitu alasannya kenapa mereka berdua bisa dekat.

“Tapi sepertinya mereka berdua begitu dekat. Apa Putra Mahkota tak cemburu melihatnya?” tanya Ibu Suri. “Yang Mulia, meskipun Putra Mahkota masih sangat muda, tapi pemikirannya terbuka” jawab Ratu. Ibu Suri tertawa mendengarnya dan berkata, “Iya, aku tahu. Aku hanya bercanda”. Hye-jeong tak suka mendengar hal itu. “Bagaimanapun juga, keluarga kerajaan belum pernah seharmonis ini, kan?” kata Ibu Suri sambil tertawa. Ratu tersenyum senang mendengarnya. Hye-jeong hanya bisa memendam kekesalannya.

Hye-jeong dan Kwak Sang-gung keluar dari kediaman Ibu Suri. Hye-jeong berhenti saat bertemu dengan Kasim Kong. Kasim Kong memberi hormat pada Hye-jeong. Hye-jeong memerintahkan Kwak Sang-gung untuk pergi sekarang. Hye-jeong dan Kasim Kong ngobrol dengan tegang berdua.

“Ngomong-ngomong, Kasim… Saat Putra Mahkota Hyo-ryul masih hidup, bukankah kau yang selalu menunggui Pangeran Hwi-seong. Tapi kenapa kau sekarang malah melayani Pangeran Shin. Jadi sebenarnya standar kesetiaan seorang Kasim Kepala itu berdasarkan atas apa?” sindir Hye-jeong. “Tugas seorang Kasim Kepala itu bukan menunggu seseorang tapi melihat posisinya. Setelah kematian Putra Mahkota Hyo-ryul, tugasku juga berubah. Sekarang aku hanya memberikan kesetiaanku pada Putra Mahkota” jawab Kasim Kong dengan tegas.

“Jadi begitu. Jadi, jika Putra Mahkota-nya adalah Pangeran Hwi-seong, kau juga akan kembali melayani Pangeran Yul lagi? Aku hanya ingin bicara. Baiklah kalau begitu…” tanya Hye-jeong. “Kalau begitu, aku juga punya sesuatu yang ingin ku katakan pada anda, Yang Mulia. Haruskah aku mengatakannya?” tanya Kasim Kong. Hye-jeong meminta Kasim Kong untuk mengatakannya.

“Akhir-akhir ini, Pangeran Hwi-seong sering sekali keluar masuk Paviliun Myeong-seon. Apakah mungkin Pangeran Hwi-seong mengetahui insiden itu, Yang Mulia?” tanya Kasim Kong. Hye-jeong terkejtu mendengarnya. Tapi dia mencoba mengendaikan diri. “Apa? Yul? Itu tak mungkin” jawab Hye-jeong. “Itu juga yang saya harapkan, Yang Mulia. Akan lebih baik kalau anak-anak tak tahu tentang apa yang terjadi dengan orangtua mereka. Kalau begitu, saya pamit dulu” kata Kasim Kong. Hye-jeong hanya bisa memandangi Kasim Kong dengan memendam kejengkelannya.

Tetua kerajaan sedang bersidang. Mereka berdebat tentang siapa yang berhak dan pantas untuk menjadi seorang Putra Mahkota yang akan menggantikan Raja kalau Raja mundur dari posisinya. Ada yang berpendapat kalau Shin masih pantas, tapi banyak juga yang mendukung agar posisi Putra Mahkota Shin diganti dengan Yul karena Shin akhi-akhir ini hanya membuat malu keluarga kerajaan saja.

Raja sedang berdua bersama dengan Kasim Kong. Raja bertanya apakah Shin, Chae-gyeong dan juga Yul selamat tiba di Villa. Kasim Kong berkata, dari yang dia dengar, mereka semua selamat tiba disana. Raja berkata, dia merasa buruk karena lupa akan hari ulang tahun Yul. Untungnya Putra mahkota dan Istrinya menemaninya untuk merayakan ulangtahunnya. Itu melegakan bagi Raja.

“Yang Mulia, ada kabar yang beredar di luar istana” kata Kasim Kong. “Katakan saja” kata Raja. “Maaf Yang Mulia. Kata mereka, Posisi Pangeran Hwi-seong jadi semakin meningkat dimata mereka. Mereka bahkan berkata kalau mereka ingin posisi Putra Mahkota diganti dengan Yul” kata Kasim Kong. “Melihat apa yang terjadi akhir-akhir ini, pantas kalau mereka berpikir seperti itu. Itu bukan hal yang mengejutkan” kata Raja. “Yang Mulia, bukankah kita harus meredam itu semua. Semakin hari, berita itu semakin menakutkan” kata Kasim Kong kemudian.

“Kasim Kepala” panggil Raja. “Ya, Yang Mulia” jawab Kasim Kong. “Sejujurnya, kau juga merasa kalau Pangeran Hwi Seong lebih pantas untuk jadi seorang Pangeran yang akan jadi Raja berikutnya” kata Raja. Kasim Kong memandangi Raja seakan tak percaya dengan apa yang didengarnya. “Yang Mulia, tak seharusnya anda berkata seperti itu” kata Kasim Kong. “Aku tahu. Tapi setelah kuamati peristiwa yang akhir-akhir ini terjadi, aku selalu berpikir seperti itu” kata Raja.

Di kediaman Hye-jeong, Kwak Sang-gung berkata kalau Baek Cheon-ha sudah datang dan ingin bertemu dengan Hye-jeong. Hye-jeong meminta Baek Cheon-ha untuk masuk ke dalam dan duduk. Hye-jeong berkata kalau mulai sekarang dia mungkin membutuhkan bantuan Baek Cheon-ha. Hye-jeong membutuhkannya untuk mencari seseorang secara rahasia. Tapi Baek Cheon-ha harus bergerak dengan hati-hati. Baek Cheon-ha mengerti itu.

Chae-gyeong tidur siang di kamarnya sambil mengenyot jempolnya. Shin terbangun dan tersenyum geli melihatnya. Tapi Shin tak menyadari kalau wajahnya dilukis oleh Chae-gyeong. Chae-gyeong menguncir rambut Shin, memakaikan lipstik di bibir Shin dan juga memakaikan melukis wajah Shin seperti cewek!

Shin membenahi selimu Chae-gyeong dan kemudian dia meraih handycam yang ada di sebelah tempat tidur Chae-gyeong. Saat dia melihat apa yang direkam oleh Chae-gyeong, barulah dia sadar akan kondisi rambut dan wajahnya yang dilukis oleh Chae-gyeong. Shin langsung berkaca dan menghapus semua riasan diwajah dan rambutnya. Kemudian Shin menghapus rekaman yang diambil Chae-gyeong.

Selesai membenahi dirinya, Shin mengatur handycamnya di meja dan hendak merekam sesuatu saat Chae-gyeong tertidur. Setelah dirasa cukup pas dan terang, Shin menekan tombol rec dan kemudian naik ke atas tempat tidur. Shin membelai Chae-gyeong yang sedang tertidur pulas dan kemudian menciumnya dengan mesra.

Kang-hyeon, Hui-sung dan Sun-yeong seperti biasa, sedang duduk bersantai bertiga. Hui-sung terus mengamati kaca sambil berkata pada dirinya sendiri, “Cermin, cermin, siapa gadis yang paling cantik di dunia? Hui-sung”. Kang-hyeon dan Sun-yeong mengatakan kalau Hui-sung sudah gila. Hui-sung terus sibuk dengan cerminya, sedangkan Kang-hyeon dan Sun-yeong mengamati majalah.

Tiba-tiba Kang-in masuk dan ikut mengamati majalah di depan wajah Kang-hyeon. Kang-in senyum-senyum sambil mengamati Kang-hyeon. Lalu Kang-in duduk di depan Kang-hyeon sambil terus tersenyum. Lalu dengan malu-malu Kang-in bertanya dimana Kang-hyeon tinggal. Dia juga bilang kalau dia tinggal di Kang-nam. Hui-sung malah yang menjawab pertanyaan Kang-in dan bilang kalau dia tinggal di Kang-bok dan kalau ke Kang-nam hanya butuh waktu 1 jam dengan naik kereta bawah tanah.

Kang-in berdehem dan kemudian berkata, “Ah, kau tahu siapa ayahku kan?” kata Kang-in sambil tersenyum malu-malu. Malah Hui-sung yang semangat mendengarkan kata-kata Kang-in. Tiba-tiba Ryu-wan datang dan berkata pada Kang-in kalau Shin mencarinya. Kang-in kesal karena mengganggu saja. Kang-in berpamitan dan senyum-senyum pada Kang-hyeon lalu keluar.

Chae-gyeong terbangun dari tidurnya. Dia memanggil Shin tapi Shin tak menjawabnya. Chae-gyeong mengeluh kenapa Shin pergi tanpa pamit padanya. Kemudian dia bangun dan menyadari sesuatu yang menarik. Dia tadi merekam saat dia mendandani Shin dan dengan penuh semangat dia keluar dengan membawa handycam itu.

Di ruang tengah, Chae-gyeong mengajak teman-temannya untuk menonton video lucu yang direkamnya. Ketiga teman Shin juga ada di sana dan merasa bosan, ingin nonton TV. Tapi keempatnya melarangnya. Hui-sung meminta mereka diam saja. Yang Mulia Permaisuri akan menunjukkan pada mereka film komedi dari keluarga kerajaan. Ketiga teman Shin memprotesnya. Apanya yang lucu, Hui-sung malah lebih lucu!

Hyo-rin berdiri di pojok ruangan. Yul baru saja datang dan diia diam sambil berdiri di belakang teman-temannya. Chae-gyeong meminta semuanya bersabar. Dan saat sudah terlihat gambar, dia mulai berteriak dan bersemangat agar teman-temannya menyaksikan adegan video lucu yang diambilnya.

Chae-gyeong mundur ke belakang agar yang lain bisa menyaksikannya. Tapi dia kaget saat melihatnya. Itu bukan film yang diambilnya. Kang-hyeon berkata, kalau bukan dia, siapa lagi yang mengambil dan merekam video itu. Bukankah itu handycam milik Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang bukan dia yang merekam itu.

Tiba-tiba, Shin datang dan berteriak dengan panik, “Ya! Handycam itu!!! Ahhhhh~”. Tapi terlambat. Video itu sudah sampai ke adegan dimana Shin mencium Chae-gyeong di atas tempat tidur dengan mesra. Chae-gyeong malu karena rekamannya tak sesuai yang ada di bayangannya karena sudah dihapus oleh Shin. Chae-gyeong berusaha menutupi layar TV, tapi semua yang ada sudah terlanjur melihat adegan romantis itu.

Hyo-rin kaget melihatnya. Yul terlihat kecewa karenanya. Jang-gyeong bertanya pada Shin, “Kenapa kau tunjukkan video itu pada kami semua?”. “Cerita cinta pasangan Putra Mahkota, kami sudah melihatnya dengan baik” ledek Kang-in. ryu-wan yang duduk di sebelah Kang-in ikut tertawa geli. Kemudian semuanya ikut bertepuk tangan.

“Hey! Hey hey hey! Ini bukan seperti itu. Jangan salah sangka. Bukan itu maksudnya” kata Shin mencoba menutupi rasa malunya. Chae-gyeong merasa malu dan dia langsung berlari pergi meninggalkan ruangan itu diiringi tatapan sedih Yul.

Chae-gyeong masuk ke kamanya dan mulai mengatur nafasnya. Chae-gyeong bertanya pada dirinya sendiri, kenapa Shin merekam adegan seperti itu? Apa dia benar-benar brengsek ataukah karena Shin ingin mempermalukannya? Dia merasa malu karena semua teman-temannya ikut melihatnya. Tapi kemudian dia tiba-tiba tersenyum dan bilang pada dirinya sendiri kalau dia ingin menonton video itu sekali lagi!

Ibu Chae-gyeong ada di istana dan menyapa Kim Sang-gung. Ternyata Kim Sang-gung adalah salah satu klien asuransinya. Ibu Chae-gyeong kemudian pamitan pergi ke suatu tempat. Ibu Chae-gyeong menuju ke kanti istana dimana Ayah Chae-gyeong sedang melayani dayang-dayang istana yang sedang makan siang.

Ayah Chae-gyeong melihat istrinya dan kemudian keduanya duduk bersama. Ibu Chae-gyeong bertanya bagaimana keadaan suaminya. Apakah bisa mengatasi semuanya dengan baik. Ayah Chae-gyeong mengiyakan kalau dia bisa mengatasi semuanya dengan baik dan kemudian bertanya apa yang sedang dilakukan istrinya di kantin istana. Istrinya bilang kalau dia sedang mencari klien baru untuk asuransinya. Ayah Chae-gyeong berkata pada istrinya kalau sekarang ini sudah tak ada orang di istana yang belum ikut dalam asuransi istrinya.

Istrinya tak terima sindiran suaminya. Dia bilang, dia harus memanfaatkan tambang yang mereka dapatkan untuk mencari emas sebanyak mungkin. Di istana itu banyak sekali orang. Dimana ada orang, disitu harus ada asuransi. Dan dimana ada asuransi, disitu pasti ada orang. Ayah Chae-gyeong memuji jiwa bisnis istrinya dan bertanya, target hari ini siapa. Istrinya bilang kalau target hari ini adalah Choi Sang-gung!

Ayah Chae-gyeong kaget mendengarnya. Choi Sang-gung kan belum menikah. Jadi mungkin dia tak butuh asuransi. Tapi istrinya bilang, karena masih sendiri, itu lebih berbahaya bagi seorang wanita. Istrinya merayu dan berkata, kalau dia mendapat klien, dia akan mengadakan pesta untuk suaminya karena sudah dapat pekerjaan. Tentu saja ayah Chae-gyeong senang mendengarnya, tapi tiba-tiba wajahnya berubah muram. Disaat seperti ini, dia ingin Chae-gyeong ada disini bersamanya. Tapi sayang Chae-gyeong sedang ada di pesta Ultah Yul.

“Aku berani bertaruh, hanya akulah ayah di dunia ini  yang menerima pekerjaan di istana hanya agar bisa bertemu dengan putrinya. Benar begitu kan? Kurasa aku memang terlalu mencintai putriku” kata Ayah Chae-gyeong. “Aigo! Itu karena kalian memiliki metal yang sama. Aku harus kembali bekerja” kata Ibu Chae-gyeong kemudian.

Ibu Chae-gyeong berusaha merayu Choi Sang-gung di kediaman Chae-gyeong. Choi Sang-gung berkata, pelayan istana tak diijinkan untuk menikah. Jadi dia takkan punya anak ataupun suami. Ibu Chae-gyeong kaget mendengarnya. Bagaimana mungkin gadis secantik Choi Sang-gung memutuskan untuk tidak menikah. Choi Sang-gung berkata, dia berasal dari keluarga miskin dan Ratu lah yang selama ini menjamin hidupnya dan bahkan membiayainya hingga lulus universitas. Untuk membalas kebaikan Ratu, dia datang ke istana. Jadi tidak bisa menikah, bukanlah masalah untuknya.

Ibu Chae-gyeong bertanya, apa maksud Choi Sang-gung. Kalau tidak menikah, bagaimana mungkin hidupnya bisa jadi menarik. Menikah dengan seseorang yang dicintai, bertengkar dengan seseorangyang dicintai dan kemudian menghasilkan keturunan dan hidup bahagia bersama. Apa Choi Sang-gung merasa semua aturan itu adil untuknya.

Choi Sang-gung bilang itu adalah pilihannya. Ibu Chae-gyeong masih berusaha merayu dan berkata itu adalah eksploitasi pada seorang karyawan dan menyalahi hak asasi manusia. Itu adalah prinsip wanita modern. Tapi Choi Sang-gung berkata, di istana ini juga banyak seniornya yang tidak menikah. Dengan memelas ibu Chae-gyeong berkata, dia tak sanggup melihat Chae-gyeong menghabiskan waktu di istana dengan dikelilingi orang-orang yang tidak diijinkan untuk menikah. Dia akan memprotes hal itu dan memastikan kalau Choi Sang-gung akan diijinkan untuk menikah. Ibu Chae-gyeong pamitan pergi.

Ibu Chae-gyeong menyampaikan protesnya di depan Ibu Suri dan Ratu. Karena terlalu bersemangat dia sampai tersedak. Ibu Suri meminta Ibu Chae-gyeong untuk meminum tehnya. Ibu Chae-gyeong meminum tehnya. Dia berkata sampai dimana tadi, kenapa dia merasa tenggorokannya begitu sakit. Ratu dengan senyum-senyum berkata, terang saja sakit karena ibu Chae-gyeong baru saja bicara selama 30 menit!

“Bagaimanapun juga, bukankah yang kukatakan itu benar kan?” kata Ibu Chae-gyeong. “Aku merasakan banyak hal setelah kau mengatakan hal itu pada kami. Tapi itu adalah sebuah tradisi yang berlangsung cukup lama. Bukankah begitu Ratu?” kata Ibu Suri. “Ya. Mungkin aku harus mengatur ulang peraturan itu. Maafkan aku” kata Ratu. “Tak apa-apa. Sekarang kita harus mendengarkan dengan baik apa yang dipikirkan oranglain. Apa kau merasa lebih baik sekarang?” tanya Ibu Suri.

Ibu Chae-gyeong senyum-senyum. “Ya, aku merasa lebih baik. Terimakasih sudah mendengarkanku. Tapi apa aku tak keterlaluan ya?” tanya Ibu Chae-gyeong pada dirinya sendiri. “Kau baru saja bicara tentang peraturan yang tak kau suka di istana ini” kata Ibu Suri. Ratu berusaha menyembunyikan senyumnya.

Malam itu di Villa di adakan pesta topeng. Chae-gyeong dan ketiga temannya pergi ke belakang. Hyo-rin memuji ide kreatif Yul dalam menyelenggarakan pesta topeng ini. Yul hanya ingin semuanya merasa senang. Shin bertanya kemana istrinya pergi. Tapi Yul juga tak tahu apa-apa. Yul memandang ke sekeliling ruangan. Chae-gyeong akhirnya muncul bersama ketiga temannya sambil membawa tart.

Chae-gyeong membawa kue itu ke hadapan Yul. Shin memandang dengan cemburu. “Karena ini ulang tahun, kau juga butuh kue. Apa lagi yang kau tunggu Yul-gun? Ayo tiup lilinnya” kata Chae-gyeong. yul meniup lilinnya dan semua bertepuk tangan untuknya termasuk juga Shin. Mereka bertepuk tangan sambil mengucapkan Selamat Ulang Tahun untuk Yul lalu kemudian bersulang tapi belum minum sampagne-nya.

Yul bilang ini adalah Pesta Ulang Tahun impiannya dimana dia selalu ingin menghabiskan waktu bersama teman-temannya seperti ini. Saat dia di Inggris, dia tak punya banyak teman. Chae-gyeong berkata, Yul sekarang punya banyak teman. Chae-gyeong minta persetujuan Shin tentang kata-katanya. Awalnya Shin hanya cuek tapi akhirnya dia mengiyakannya.

“Bagaimanapun juga, Selamat Ulang Tahun” ucap Shin. Yul mengucapkan terimakasih atas perhatian Shin. Keduanya lalu bersulang. Tapi saat Shin hendak meminum sampagne-nya, Hyo-rin menghentikan Shin dan meminta Shin agar tak meminum sampagne itu. Hyo-rin bilang itu sampagne buah peach dan Shin alergi buah peach. Shin bertanya pada teman-temannya apa benar itu sampagne peach, Kang-in yang memegang botol sampagne-nya mengiyakan hal itu.

Chae-gyeong terlihat kecewa. Karena dia sama sekali tak tahu akan hal itu tentang suaminya sendiri. hyo-rin bercerita, kalau terakhir kali Shin makan sekaleng buah peach, badannya jadi semerah wortel. Tapi lucunya, punggung Shin terdapat bintik-bintik dan bentuknya hampir menyerupai hati. Hyo-rin dengan semangat menceritakan hal itu. Tampak wajah Chae-gyeong kecewa. Shin tahu itu karena Chae-gyeong berdiri di sisinya. Karena itulah Shin berkata kalau peristiwa itu sudah lama sekali berlalu.

Chae-gyeong berusaha memendam rasa irinya pada Hyo-rin yang tahu banyak hal tentang Shin. “Jika kau minum itu, kau pasti dapat masalah besar” sindir Chae-gyeong sambil meminum sampagne-nya. Hyo-rin kemudian berkata, apa Shin juga bercerita tentang alerginya terhadap kacang. Chae-gyeong jadi tambah marah. Dia bilang dia sangat suka kacang dan buah peach, lalu meminum habis sampagne di gelasnya dan kemudian mengambil sampagne dari tangan Shin lalu meminumnya juga sambil berkata kalau dia sangat suka peach. Shin berusaha melarangnya, tapi Chae-gyeong yang merasa tersisihkan oleh Hyo-rin tak mempedulikan perhatian Shin.

Chae-gyeong duduk sendirian di atap sambil bermain-main dengan bara api. Yul datang menghampirinya dan berkata kalau dia tadi emncari Chae-gyeong. yul bertanya apa yang sedang Chae-gyeong lakukan disitu. Chae-gyeong bilang dia hanya ingin ada disini. Yul bertanya apa ini semua karena Hyo-rin, Chae-gyeong bilang  Hyo-rin tahu banyak hal tentang Shin daripada dirinya yang tak tahu apa-apa tentang Shin.

Yul berkata, Hyo-rin dan Shin sudah bertemu dan dekat selama 2 tahun. Dan yang dia dengar, mereka berdua memang sangat dekat. Dua tahun bukanlah waktu yang singkat. Chae-gyeong berkata itu memang benar. Tapi tetap saja dia merasa sangat buruk karena tak tahu apa-apa tentang Shin. Apa waktu bisa membuatnya tahu banyak hal tentang Shin? Yul kecewa dan berkata, rasanya takkan mungkin semudah itu. Chae-gyeong mencoba mengendalikan airmatanya. Dia melihat sekelilingnya dan melihat sesuatu. Dia melihat Hyo-rin dan Shin yang sedang bicara berdua!

“Mereka bilang mereka akan mendukungku. Tapi sebenarnya yang mereka inginkan adalah membuatku pergi meninggalkan Korea” keluh Hyo-rin. “Jangan khawatir akan hal itu. Meskipun mereka keluarga kerajaan, mereka tak berhak mengatur hidupmu” kata Shin.

“Tidak. Aku sudah memikirkannya dengan tenang. Aku tak ingin selalu bergantung pada guruku. Dukungan ini lebih banyak untuk menggapai mimpiku. Dan juga, aku sudah menerimanya. Aku berpikir pergi ke luar dari Korea untuk belajar, dan kemudian aku berpikir tentang sesuatu. Tak lama lagi kau juga akan menyusul untuk belajar tentang film dan aku akan belajar balet. Itu mungkin akan butuh waktu 2-3 tahun lagi. Bukankah kau juga ingin belaja di luar negeri? Jika itu benar-benar terjadi, jika kita bisa belajar bersama, itu akan sangat menyenangkan” ungkap Hyo-rin.

Tanpa mereka tahu, Chae-gyeong mendengar percakapan itu dan tambah kecewa karenanya. “Pergi sendirian, aku pasti akan merasa kesepian” tambah Hyo-rin. “Aku memang ingin belajar ke luar negeri” kata Shin. “Jika kau ingin melebarkan sayapmu dan meraih mimpimu untuk belajar tentang film di Prancis, kau akan bisa memproduksi film terbaik” kata Hyo-rin. “Yeah. Setelah 2-3 tahun, pergi ke Paris adalah masa depanku” ungkap Shin. “Aku tahu kau akan berpikir seperti itu, lalu…” kata Hyo-rin tapi kata-katanya dipotong oleh Shin.

Chae-gyeong pergi meninggalkan  mereka dengan perasaan sedih, marah dan kecewa. Tanpa tahu apa yang Shin katakan pada Hyo-rin. “Tapi, kupikir, aku punya sesuatu yang lebih baik dari mimpiku yang baru saja muncul dalam kehidupanku. Jika aku benar-benar akan pergi, aku akan pergi bersama orang itu” ungkap Shin. Hyo-rin melepas topeng yang sedari tadi di pakainya. Dia seakan tak percaya akan apa yang baru saja didengarnya.

“Tapi sekarang, aku tak bisa meninggalkan istana. Ibuku mungkin tak benar-benar tulus membantumu. Tapi kurasa itu yang terbaik untukmu. Raihlah mimpimu di Paris” tambah Shin lagi.

Chae-gyeong duduk lagi bersama Yul. Matanya sudah mulai memerah dan berair. Tapi dia mencoba untuk tetap menahan kesedihannya. “Apa kau tahu apa yang Shin suka atau tidak?” tanya Yul. “Shin-gun pasti berbeda denganku. Shin-gun sudah merencanakan masa depannya tanpa aku. Aku tak seperti itu. Berpikir kalau Shin tak ada di masa depanku saja membuat hatiku sakit. Tapi Shin tak seperti itu. Dia benar-benar berbeda denganku” ungkap Chae-gyeong.

“Sudah kubilang padamu jangan percaya pada hatinya. Kau dan Shin memang tak cocok” kata Yul. “Ini membuatku berpikiran buruk, dia seharusnya mengatakan impiannya tentang belajar ke luar negeri padaku” keluh Chae-gyeong. “Tapi mungkin Hyo-rin membuatnya merasa nyaman daripada harus bicara padamu” kata Yul lagi. Chae-gyeong berusaha menahan tangisnya dengan menggigit bibirnya sendiri.

Raja bertemu dengan seseorang di tepi danau. Ternyata yang ditunggunya adalah Hye-jeong. Mereka berjalan berduaan sambil bergandengan tangan dengan mesra dan tertawa gembira. Lalu keduanya duduk di sebuah bangku taman dan bercanda. Bahkan Raja mencium kening Hye-jeong. Raja tiba-tiba terbangun dari tidurnya. Ternyata itu adalah mimpi Raja. Raja terbangun dan kemudian duduk di kursi. Ratu ikut terbangun juga karena suaminya bangun. Tapi Ratu pura-pura masih tertidur di tempat tidurnya. Raja mengeluh kenapa mimpinya seperti itu. Padahal waktu sudah lama sekali berlalu.

Ratu kemudian bangun dan turun dari tempat tidur lalu mendekati suaminya dan duudk di depannya. Ratu bertanya pada suaminya ada apa. Apa Raja mimpi buruk. Raja agak kaget dan meminta maaf karena sudah membangunkan istrinya. Ratu bilang kalau dia juga tak nyenyak tidur.  Ratu bertanya Raja bermimpi apa. Tapi Raja berkata itu bukan apa-apa.

“Sudah 20 tahun aku hidup denganmu. Itu adalah waktu yang lama. Selama itu, aku selalu ada untukmu. Tapi kurasa, aku tak bisa dekat dihatimu” kata Ratu. “Apa maksudmu Ratu?” tanya Raja. “Aku selalu menunggu sampai hatimu kosong untuk ku tempati. Aku selalu menunggu dan menunggu. Terkadang aku ingin menyerah, tapi aku tak bisa. Aku harus melihat sampai anakku jadi Raja. Itu akan jadi hadiah terindah dalam hidupku yang bisa kau berikan padaku yang sudah selalu menderita disisimu dan hanya bisa diam saja” ungkap Ratu. “Ratu, tentang itu…” kata Raja. “Jadi, Yang Mulia, kau harus melindungi Putra Mahkota. Kau harus melakukan hal itu” tambah Ratu lagi.

Di pesta Yul, mereka menikmati api unggun sambil berbicara tentang kapan mereka bisa seperti ini lagi. Pasti akan sulit karena sebentar lagi mereka akan lulus. Jika mereka lulus, mereka akan berbaur di masyarakat. Mereka akan sulit untuk bisa menghabiskan waktu seperti ini lagi.

“Kita akan memulai hidup dengan serius. Kapanpun, dimanapun. Kita harus hidup dengan serius tak peduli dimanapun kita berada” kata Chae-gyeong. “Hei, bebek, kau akan menghabiskan sisa umurmu di dalam istana, jadi bagaimana kau bisa berkata kalau kita harus hidup dengan serius?” tanya Kang-in. “Aku mungkin akan mendapatkan kebebasanku 2-3 tahun lagi” jawab Chae-gyeong.

Shin menatap Chae-gyeong. “Bagaimana mungkin kau bisa bebas? Apa kau tak ingat siapa kau?” tanya Hui-sung. “Bagaimanapun juga aku harus tetap memikirkannya” jawab Chae-gyeong. “Kalau begitu, nanti pasti akan muncul berita Sang Putri kabur dari istana” ucap Jang-gyeong. “Jangan bicara omong kosong tentang Putri yang meninggalkan istana” timpal Shin. “Aku juga berhak memikirkan masa depanku” kata Chae-gyeong. Shin hanya bisa menatap Chae-gyeong dengan kecewa.

Chae-gyeong bermain-main dengan lilin yang ada di depannya. Dan tangannya terluka karena panas. Chae-gyeong berteriak kesakitan karenanya. Sun-yeong dan Kang-hyeon langsung panik sambil memegangi tangan Chae-gyeong dan bertanya apa Chae-gyeong tak apa-apa, kenapa tak hati-hati. Yul bilang dia akan mengambilkan es untuk Chae-gyeong. Chae-gyeong bilang tak perlu. Dia yang akan mengambilnya sendiri. Yul mengajaknya pergi bersama. Shin hanya bisa memandangnya dengan memendam rasa kecewanya.

Yul membukakan pintu. Ada sebuah bata yang lepas dan bata itu membuat Chae-gyeong terjatuh. Yul berusaha menahan tubuh Chae-gyeong agar Chae-gyeong tak terluka. Shin memandangi keduanya dengan marah, tapi dia hanya diam saja. Chae-gyeong panik dan bertanya apa Yul tak apa-apa. Chae-gyeong kaget saat melihat tangan Yul yang terluka dan berdarah karena menimpa lampu dan lampu itu pecah.

Yul bilang dia tak apa-apa asalkan Chae-gyeong tak terluka. Yul berusaha berdiri. Mereka pergi bersama ke atap di depan bara api. Mereka duduk berdua disana. Chae-gyeong menempelkan plester di luka Yul. Chae-gyeong mengkhawatirkan luka Yul. Tapi Yul berkata kalau dia tak apa-apa. Bukankah Yul sudah pernah bilang, lebih baik dia yang terluka daripada melihat Chae-gyeong yang terluka. Dia akan merasa sakit saat melihat Chae-gyeong terluka.

“Sekarang, kita seperti ini, membuatku teringat saat bermain polo. Waktu itu kau datang padaku” kata Yul. “Waktu itu tak ada yang peduli padamu” kata Chae-gyeong. “Waktu itu, saat kau berlari untuk menolongku, aku bahagia walau hanya sekejap” ungkap Yul. “Maafkan aku, ini semua salahku” pinta Chae-gyeong. “Jika kau benar-benar minta maaf, maukah kau menerima sebuah hadiah dariku?” tanya Yul. “Hadiah? Tapi hari ini kan ulangtahunmu?” Chae-gyeong malah balik bertanya.

Yul tersenyum. “Ada sesuatu yang benar-benar ingin kuberikan padamu” kata Yul. “Baiklah” kata Chae-gyeong kemudian. Chae-gyeong menunduk. Yul mendekat dan kemudian mengecup kening Chae-gyeong. chae-gyeong kaget karenanya. Yul bilang, dia melakukan hal itu bukan sebagai seorang teman, tapi sebagai seorang laki-laki terhadap seorang wanita. Yul mengucapkan terimakasih karena Chae-gyeong sudah muncul dalam hidupnya dan jadi bagian dari takdirnya.

Chae-gyeong hanya diam. Tapi dia merasa grogi. Dia mencoba menatap berkeliling, saat itulah dia tersadar, kalau Shin berdiri di depan mereka dan menatapnya dengan penuh kemarahan. Chae-gyeong mencoba berdiri. Tapi dia tak tahu apa yang harus dilakukannya. Chae-gyeong langsung duduk lagi. Shin menghampiri mereka dan meminta Chae-gyeong untuk berdiri. Chae-gyeong tak mau. Tapi Shin terus memaksanya. Shin menggenggam tangan Chae-gyeong dan meminta Chae-gyeong bangun. Yul berusaha membela Chae-gyeong dengan memegang tangan Shin dan berkata kalau Chae-gyeong tak mau jangan dipaksa. Shin dengan geram melepas genggaman tangan Yul lalu kemudian menyeret Chae-gyeong pergi dari tempat itu. Yul memandangi kepergian mereka berdua dengan menahan amarahnya.

Shin membawa Chae-gyeong pergi ke sudut ruangan. Chae-gyeong terus memegangi tangannya yang sakit karena diseret paksa oleh Shin. “Apa tak cukup bagimu untuk jatuh ke pelukan laki-laki lain seperti itu? Apa kau sangat menyukainya? Apa kau memang sangat peduli pada Yul?” hardik Shin. “Kau itu bicara apa? Kau pikir Yul terluka karena siapa?” teriak Chae-gyeong. “Bagiku, itu terlihat seperti kesempatan yang kalian berdua tunggu-tunggu. Bukankah dia melakukannya untuk melamarmu?” maki Shin.

“Berhenti bicara omong kosong. Kenapa kau tak fokus saja tentang rencana masa depanmu yang hebat?” Chae-gyeong ikut berteriak dengan marah tak mau kalah. Chae-gyeong melangkah pergi meninggalkan Shin. “Kau itu bicara apa?” teriak Shin. Chae-gyeong berhenti dan Shin berjalan menghampirinya. “Setelah 2-3 tahun, kita akan bercerai dan kau akan pergi ke luar negeri. Lebih baik kau mulai merencanakannya sekarang” jawab Chae-gyeong.

“Belajar di luar negeri? Oh itu” kata Shin. Shin berusaha menjelaskannya, tapi Chae-gyeong tak memberinya kesempatan untuk bicara. “Aku tak peduli dengan siapa kau pergi belajar ke luar negeri. Saat itu, aku akan kembali bersama keluargaku. Itulah masa depan yang kuinginkan” kata Chae-gyeong. “Jadi masa depan yang kau inginkan adalah kembali ke rumahmu?” tanya Shin kemudian.

“Ya. Jika kau memikirkannya, pasti semuanya akan berjalan dengan baik. Kau bisa pergi untuk meraih mimpimu dan aku bisa memulai hidup baruku dengan seseorang yang kusukai” kata Chae-gyeong. “Dengan kata lain, kau akan memulai hidup barumu dengan Yul?” tanya Shin dengan kasar. “Apa? Kau benar-benar hanya peduli pada dirimu sendiri. Yul-gun dan kau berbeda. Setidaknya dia jujur padaku. Kau tak pernah jujur padaku. Jika kau jujur, kami tak mungkin bisa sedekat ini sekarang” maki Chae-gyeong.

Chae-gyeong hendak melangkah pergi. Tapi Shin menahan tangan Chae-gyeong. shin memojokkan Chae-gyeong dna mencium Chae-gyeong dengan paksa. Chae-gyeong berusaha melepaskan dirinya. Akhirnya Chae-gyeong berhasil melepaskan diri. “Apa yang kau lakukan?” teriak Chae-gyeong. “Aku hanya ingin kau tahu kalau aku ini suamimu!” tegas Shin. Chae-gyeong menampar Shin  dan kemudian berkata, “Kau itu benar-benar brengsek!”. Chae-gyeong melangkah pergi meninggalkan Shin. Shin marah dan memukul tembok di depannya.